Pelibatan Laki-laki dalam Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender

Komnas Perempuan menghadiri  acara “Curah Pendapat Pelibatan Laki-laki dalam Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender” di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan  Anak/ KPP-PA (24/03/2015). Diskusi ini diadakan dalam rangka meminta masukan untuk draft pedoman pelibatan laki-laki dalam pencegahan kekerasan.
Pedoman Pelibatan Laki-laki dalam Pencegahan Kekerasan barbasis Gnederm (poto: dok)
JAKARTA.JB NewsSelain Komnas Perempuan, diskusi ini turut dihadiri oleh Aliansi Laki-Laki Baru, Yayasan Pulih,  Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama, BPMPKB DKI, Kepala Biro Hukum, Asdep Penanganan Masalah Sosial Perempuan, dan lainnya. Pedoman ini rencananya akan diimplementasikan ke masing-masing pemerintah daerah. Diskusi ini dibuka dengan presentasi dari The United Nations Population Fund(UNFPA), yang keseluruhan penyusunan buku ini dibuat sebagai acuan bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyusunan program pelibatan laki-laki untuk mencegah kekerasan berbasis gender. 

Harapannya, akan adanya perubahan dari laki-laki sebagai pelaku kekerasan menjadi laki-laki sebagai mitra.

Berbagai masukan yang dikemukakan oleh masing-masing peserta adalah bahwa draft pelibatan laki-laki ini perlu dikaji kembali. Kementerian Agama mengatakan bahwa dalam draft ini penting menyertakan perspektif agama yang sebenarnya memuliakan kaum perempuan. BPMPKB DKI melihat bahwa KPP-PA perlu mengetahui bagaimana peran pemerintah daerah yang sedikit mengalokasikan anggaran untuk perempuan korban. Aliansi Laki-laki baru mengatakan peran KPP-PA seharusnya tetap fokus kepada sasaran penyadaran yaitu perempuan. Sehingga pelibatan laki-laki sebaiknya tetap dibiarkan menjadi tugas komunitas-komunitas yang sudah ada dan sebenarnya kerja-kerja pelibatan laki-laki pada praktiknya sudah banyak berjalan, khususnya di Indonesia Timur.

Hal senada juga disampaikan Yayasan Pulih, yang melihat pelibatan laki-laki ini harus tetap berada pada organisasi perempuan dan bukan merupakan program tersendiri dan terintegrasi dengan program yang sudah ada. Yayasan Pulih juga mengklarifikasi presentasi UNFPA tentang perubahan laki-laki dari pelaku menjadi mitra, inipun membutuhkan proses yang sangat panjang, dengan harus melewati fase penghukuman (proses hukum tetap berjalan) dan beberapa konseling yang dilalui laki-laki sebagai pelaku. Komnas Perempuan menyampaikan juga bahwa proses penyadaran untuk perempuan, khususnya pada perempuan korban sendiri, belum selesai dilakukan oleh negara. Oleh karenanya, prioritas kerja Komnas Perempuan masih bertumpu pada perempuan. 

Dalam aspek kampanye, maka pelibatan laki-laki bisa masuk dalam kerja-kerja Komnas Perempuan. Komnas Perempuan, selama ini dengan komunitas-komunitas yang didalamnya, juga telah melibatkan laki-laki selain perempuan, dan ini terus dilakukan sepanjang tidak meninggalkan kerja penyadaran utama yaitu membuat perempuan menjadi berdaya serta membongkar akar persoalan budaya patriarki.

Klarifikasi pun datang dari KPP-PA untuk menanggapi beberapa masukan yang ada. Diantaranya  pelibatan laki-laki ini bukan dengan maksud merubah sasaran penyadaran menjadi laki-laki tetapi pelibatan laki-laki dimaknai sebagai strategi untuk meminimalisir kekerasan terhadap perempuan. Dan program pelibatan laki-laki ini akan diintegrasikan pada program KPP-PA yang sebagaimana sudah berjalan. Seluruh masukan mereka terima, termasuk penyampaian perubahan judul pelibatan laki-laki dalam pedoman untuk tidak ditempatkan menjadi yang utama. Kedepannya, seluruh peserta yang hadir akan dilibatkan kembali dalam penyusunan pedoman ini.(*)

semuber: KOMNAS Perempuan


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website