HTI Balikpapan: “Indonesia kita Terancam, NeoLiberalisme dan NeoImperialisme”

Pekik takbir berkali-kali membahana oleh lebih dari 800 peserta, dalam acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh DPD II HTI Balikpapan, pada hari Ahad malam, (19/4 2015), pukul 20.00-22.00 (wita) tersebut.

Tabliq Akbar HTI Balikpapan di halaman parkir Bank Bukopin (poto: dok)
Balikpapan.JB News- Acara yang mengambil tema “INDONESIA KITA TERANCAM” (oleh) NeoLiberalisme dan NeoImperialisme, benar-benar membuka mata kesadaran para peserta bahwa nasib Indonesia saat ini diujung tanduk.
  
Acara dibuka oleh ketua DPP II HTI Bpp Ir. Nazarudin, mengutip ayat tentang bisnis yang tidak akan pernah rugi, bahkan dengan keberuntungan yang besar, yaitu ketika kita mendasarkan perbuatan yang dilakukan dalam kerangka Iman kepada ALLAH dan Rasul-Nya, serta berjihad dengan harta dan jiwa, bukan dengan sistem ekonomi Kapitalisme.

Tabligh diawali dengan penjelasan Ir. Muklas, selama kurun sejarah dunia, tidak pernah suatu bangsa mengalami kebangkrutan dan kezhaliman ketika mempergunakan hukum Syariat ALLAH. 

Terbukti sejak awal aturan tersebut diterapkan pada masa Nabi Muhammad SAW yang dilanjutkan oleh penggantinya para Khalifah hingga runtuh-nya pada tahun 1924 rakyat hidup makmur. Namun, terbukti pula ketika aturan Syariat dicampakkan, yang terjadi adalah kezhaliman, bahkan semakin hebat dalam bentuk NeoLiberalisme dan NeoImperialisme.
Tabliq Akbar HTI Balikpapan (poto: dok)

Puncak tabligh disampaikan oleh ust Rahmat S. Labib dari DPP HTI Jakarta, menguraikan NeoLiberalisme dan NeoImperialisme dalam bahasa yang sangat sederhana sehingga mudah dipahami.

NeoLiberalisme adalah ideologi yang saat ini dijadikan sebagai dasar kebijakan2 negara oleh Penguasa negeri ini, dicirikan dengan adanya pergeseran peran negara hanya sebagai Regulator atau pengatur kebijakan dan pemungut pajak.

Sedangkan pemain ekonomi dilakukan dan dikendalikan oleh para pemodal besar swasta, padahal banyak kekuatan dibalik para pemodal kapitalis  swasta tersebut adalah negera-negara besar yang akhirnya melakukan imperialisme terhadap Indonesia dengan mempergunakan kebijakan ekonomi NeoLiberalisme jalan masuk.

Ciri kedua adalah,  banyak BUMN yang dijual atau diprivatisasi, kalaupun ada yang dipertahankan, maka BUMN tersebut harus sejajar dengan swasta, sehingga yang terjadi adalah segala sesuatu menjadi mahal, karena kapitalis swasta berfikir laba atau profit, sedangkan kebutuhan sarana publik masyarakat vital seperti layanan kesehatan, pendidikan, BBM, justru memerlukan kebijakan non profit. 

Ciri selanjutnya adalah pencabutan subsidi, adanya subsidi dianggap oleh NeoLiberalisme mengganggu pasar, sehingga dicabut.

Penguasa telah menjadi agen asing, sehingga kebijakannya selalu menguntungkan asing bukan rakyatnya, deviden Freeport 2 tahun tidak dibayarkan akan diputihkan, sementara pajak PBB rakyat apabila 5 tahun tidak dibayarkan, maka tanah akan diambil oleh negara.

Apa hubungannya dengan Demokrasi? Demokrasi adalah sistem mahal untuk mencuatkan seseorang menjadi pemimpin, shg ia akan memerlukan modal besar,  Mantan Mendagri Gunawan Fauzi mengatakan modal menjadi Gubernur 60 hingga 100 milyar, apabila gajinya 100juta, dalam 5 tahun hanya terkumpul 6 milyar, maka bagaimana kembali modal? 

Modal diperoleh dari para Kapitalis, dengan imbal balik hukum dan kebijakan sesuai dengan keinginannya, atau melakukan korupsi, keduanya berdampak siksa neraka.

Kaum Muslimin sejati seharusnya senang diatur oleh Syariat Allah, Zat yang telah memberikannya hidup.

Dan Syariat Allah tidak akan dapat terwujud dengan pemerintahan Demokrasi buatan manusia.

Acara ditutup dengan doa yang menyadarkan manusia akan kebodohannya, dan selayaknya memperjuangkan keinginan Zat yang telah membuatnya hidup. (*/abm)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website