Jurnalis Perempuan yang Menempati Posisi Pengambil Keputusan Hanya 6%


Masruchah, Komisioner Komnas Perempuan menjadi narasumber diskusi tema “Posisi Pekerja Perempuan di Industri Media” yang diinisasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta (21/ 04/2015). Kegiatan ini berlangsung di Institut Francis Indonesia di MH Thamrin.

Diskusi jurnalis bersama Komnas Perempuan (poto: dok)
JAKARTA.JB News- Suzanne Franks dalam bukunya Women and Journalism, menuliskan bahwa jumlah representasi dan posisi jurnalis perempuan di media tidak pernah berubah dari tahun 1901 sampai tahun 2013. Jumlah jurnalis perempuan sangat sedikit dibanding laki-laki. Jumlah jurnalis perempuan yang menempati posisi strategis lebih sedikit lagi. 

Di Indonesia, tidak ada data yang benar-benar akurat tentang jumlah jurnalis. Ketua Aliansi Jurnalis Independen, Hasyim, mengatakan ada sekitar 14.000 jurnalis di Indonesia, dan dari jumlah itu hanya 10% yang perempuan.”Jurnalis perempuan yang menempati posisi redaktur dan bisa mengambil kebijakan hanya 6 persen,” kata Hasyim saat diskusi Posisi Pekerja Perempuan di Industri Media.

Sedikitnya jumlah jurnalis perempuan yang mampu mengambil kebijakan di ruang redaksi menyebabkan banyak pemberitaan yang bias gender dan cenderung mereviktimisasi perempuan korban kekerasan. Luviana, mantan jurnalis di Metro Tv yang dipecat karena ingin membentuk serikat pekerja menambahkan bahwa sangat penting kehadiran jurnalis perempuan di media. 

“Jurnalis perempuan di media membuka ruang baru bagi perempuan, karena jurnalis perempuan akan banyak menulis untuk perempuan,” ujar Luviana. Tidak hanya soal representasi yang masih sedikit, jurnalis perempuan juga banyak mengalami kendala dalam menjalankan tugasnya, mulai dari masalah klasik, seperti sulitnya mengatur pembagian kerja di domestik dan publik di tengah jam kerja jurnalis yang tidak menentu, sampai minimnya ruang menyusui yang disediakan oleh perusahaan.

Hambatannya tidak sampai di situ saja, lebih lanjut, Masruchah mengatakan di banyak daerah di Indonesia memiliki kebijakan diskriminatif yang mendiskriminasi perempuan, misalnya peraturan jam malam bagi perempuan, seperti di Gorontalo. Tentunya peraturan jam malam ini menyulitkan jurnalis perempuan untuk melaksanakan tugasnya (*/ay)
Description: https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website