Negeri Subur Masih Gizi Buruk!

Betapa antusiasnya anggota DPR-RI mempermasalahkan masalah tunjangan kerja senilai milyaran rupiah per kepala, yang konon katanya mereka ini adalah wakil rakyat, justru ada ribuan balita di negeri ini yang mengalami gizi buruk. Ditengah asyiknya presiden bangsa ini menandatangi kontrak dengan para investor asing, di belahan Indonesia bagian timur, tepatnya di NTT terdapat ribuan bayi yang nyawanya tengah terancam karena krisis pangan sehingga banyak yang menderita gizi buruk.

Bencana gagal tanam dan gagal panen berimbas pada balita di Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 1.918 dari 330.214 balita yang ada saat ini di NTT menderita gizi buruk. Sebanyak sebelas di antaranya akhirnya meninggal. Angka itu termuat dalam data Dinas Kesehatan NTT yang ditandatangani Kepala Seksi Perbaikan Gizi Isbandrio. Dalam data itu disebutkan penderita gizi buruk merata hampir di 22 kabupaten atau kota di NTT. 
"Penderita terbanyak terdapat di Kabupaten Sumba Barat Daya sebanyak 200 balita, Kabupaten Kupang 197 balita, dan Timor Tengah Selatan 146 balita," bunyi sebagian laporan itu yang diterima Tempo, Jumat, 26 Juni 2015.
Pengamat ekonomi dari Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Frits Fanggidae, mengatakan meningkatnya kasus gizi buruk dipicu oleh status rawan pangan akibat gagal panen dan gagal tanam di seluruh NTT. Dia menilai kasus rawan pangan dan gizi buruk kini seperti menjadi tradisi setiap tahun.(tempo.com/27/06/15)
Gizi buruk yang menimpa masyarakat Indonesia saat ini tentu tidak lepas dari fakor kemiskinan yang menimpa masyarakat Indonesia secara umum. Bank dunia menyebutkan berdasarkan kriteria kemiskinan sebesar US$ 2/hari atau dibawah Rp 540,000 maka dengan menggunakan data Susenas 2010, sebanyak 63% penduduk Indonesia miskin. Pembanding lain, berdasarkan Survey Rumah Tangga Sasaran Penerima Bantuan Langung Tunai (BLT) oleh BPS tahun 2008 diperkirakan 70 juta orang yang masuk kategori miskin dan hampir miskin (near poor).
Angkanya lebih tinggi lagi jika dilihat dari penduduk yang membeli beras miskin pada 2009 yang mencapai 52 persen atau 123 juta orang. (www.hizbut-tahrir.or.id) tentu data tersebut hampir mendekati data yang di berikan oleh bank dunia. Berdasarkan kriteria bank dunia menyebutkan sebesar 108,78 juta atau 49% penduduk Indonesia miskin, karena hidup kurang dari 2 Dollar perhari atau sekitar Rp.19.000.(http://www.globalmuslim.web.id)
Melihat fakta di negeri ini, bahwa kemiskinan bukanlah hal yang tabu, kemiskinan tentu identik dengan lingkungan yang tidak layak huni atau kumuh, selain itu kemiskinan amatlah dekat dengan kebodohan. Secara otomatis ketika gizi tidak terpenuhi maka sistem kerja tubuh terutama otak akan terganggu karena tidak mendapatkan suplai nutrisi yang dibutuhkan untuk berpikir dengan baik. Sedangkan, fenomena hidup berlebih-lebihan alias pemborosan terjadi dikalangan elit politis dinegeri ini, mereka menceburkan diri dalam lumpur kapitalisme yang jelas merupakan biang segala kerusakan.
Lihat saja ketika akan diadakan pemilu maka tak tanggung-tanggung dana yang digelontorkan mencapai trilliunan rupiah. Sungguh menyayat hati kita. Kenapa? Karena rakyat negeri ini Masih banyak yang hidup dalam garis kemiskinan, makan dan tidur pun terasa sulit bagi mereka, saudara kita. Tapi, disisi lain banyak juga yang membuang-buang makanan(takabbur). Merekalah para pejabat koruptor yang sibuk mengkayakan keluarganya sendiri tanpa memikirkan nasib rakyat.

Dalam Islam gizi buruk merupakan tanggung jawab negara karena tugas negara adalah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada rakyat. Hal ini tentu sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,“Kamu semuanya adalah penanggung jawab atas gembalanya. Maka, pemimpin adalah penggembala dan dialah yang harus selalu bertanggungjawab terhadap gembalanya.”  (Hr.al-Bukhâri, Muslim, Abû Dâwûd dan at-Tirmîdzi dari Ibn Umar).

Islam mewajibkan negara untuk menjamin kebutuhan pokok rakyat, di antaranya adalah kebutuhan pangan. Mekanismenya, negara wajib menyediakan lapangan perkerjaan dan mendorong rakyat untuk bekerja. Dengan cara ini diharapkan rakyat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun, jika karena satu dan lain hal, ada di antara rakyat yang tidak bisa bekerja, karena cacat, tua renta, dan lain-lain, maka keluarganyalah yang wajib menanggung kebutuhannya. Itu pun jika keluargannya mampu. Jika tidak mampu maka negaralah yang wajib memberi makan kepada mereka secara gratis.

Dengan demikian sudah selayaknya negara memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada rakyat. Salah satu diantaranya memberikan asupan gizi yang cukup bagi rakyatnya. Karena itu semua merupakan tanggung jawab negara. dalam sirah pun di ceritakan bagaimana seorang khalifah Umar bin Khattob setiap malam tidak pernah tidur nyenyak. Hal yang di khawatirkan oleh beliau adalah jangan sampai rakyatnya ada yang kelaparan. Maka tidak heran Khalifah Umar pun sering melakukan sidak(blusukan) ke rumah-rumah penduduknya untuk melihat bagaimana kondisi rakyatnya. Ketika ditemukan terdapat keluarga yang sedang memasak batu karena tidak punya makanan untuk dimasak, maka khalifah Umar pun langsung bergegas menjinjing sekarung gandum untuk keluarga miskin tersebut. Kisah Khalifah Umar bin Khottab sungguh membuat kita haru dan amat rindu akan sosok Khalifah.

Sungguh luar biasa fenomena yang mungkin jarang bahkan belum pernah dilakukan oleh pemimpin di negeri ini. Disaat malam datang mungkin mereka tidur nyenyak berselimutkan kemewahan. Sedangkan rakyatnya masih banyak yang kelaparan, sakit-sakitan, kedinginan, bahkan mati karena hidup miskin. Tapi tengoklah para pejabat dan pemerintah, mereka hidup dalam limpahan materi dan bersenang-senang diatas derita rakyatnya.

Demikianlah gambaran pemimpin kita saat ini. Seolah kondisi rakyat di negeri yang bergelimpangan gizi buruk ini menjadi hal yang wajar saja. Padahal kelak itu semua akan di mintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT. Oleh karenanya, jika kita ingin hidup berkah dan bebas dari gizi buruk maka solusi yang sangat rasional adalah terapkan Islam secara sempurna dalam kehidupan yakni berusaha menerapkan Islam dalam naungan Khilafah. Allah SWT berfirman,“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(TQS. Al A’raf [7] : 96)
Wallahu ‘alam bis ‘ashowab
Penulis: Arini Umma Miqdaam (Aktivis MHTI/ pemerhati sosial-politik)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website