Selamatkan Kebahagian Masa Kecil Generasi Kita

Orang tua mana yang tidak teriris-iris hatinya saat dimana sang buah hati menjadi korban kekerasan anak hingga berujung pada maut. Pastilah secara naluri tentu semua ibu akan sangat hancur hatinya bahkan bukan sang ibu saja orang lain pun juga tentu akan geram dan marah terhadap pelakunya walau ia tak punya hubungan apapun dengan korban. Namun, itulah manusia yang sejatinya memiliki naluri kasih sayang.
Dewi Murni (anggota Muslimah HTI Balikpapan)
Termasuk pada kasus seorang anak tak berdosa bernama Angelina yang berumur 8 tahun telah mengalami kekerasan hingga akhirnya di telah meninggal yang sebelumnya di nyatakan menghilang. Mirisnya lagi ia di temukan tewas membusuk di dalam tanah yang berada dekat kandang ayam. Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.


Apa yang di alami oleh gadis cilik Angelina merupakan satu di antara banyaknya catatan merah akan kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur. Mulai dari guru kepada muridnya, tetangga kepada anak tetangga sampai orang tua kepada anaknya sendiri. Sungguh dunia sudah terbalik, manusia bermoral lebih rendah dari hewan yang tidak memiliki akal.

Berulang-ulangnya masalah masalah seperti ini bukan sepenuhnya kerena banyaknya orang tua yang jahat, sekolah yang tak becus mendidik dan menjaga, atau masyarakat yang cuek. Banyak kita saksikan para orang tua, sekolah, dan lembaga-lembaga yang ikut menghadiri dan mengadakan acara parenting untuk memberikan gambaran pola asuh didik yang baik kepada anak dan banyak pula para netizen yang memberikan komentarnya sebagai ekpresi kebenciannya terhadap kasus kekerasan anak. Sehingga itu menunjukkan bahwa sebenarnya kita memiliki rasa peduli yang cukup tinggi atas permasalan ini dari berbagai lapis masyarakat.

Sayangnya, karena adanya kepragmatisan akhirnya memandang solusi atas sebuah masalah hanya pada permukaannya saja sementara akar dari permasalahan tersebut justru terabaikan. Hal ini seperti mengatasi pohon layu dengan menyiram daunnya saja. Hasilnya kasus kekerasan anak kian terus terjadi. Oleh karena itu hendaknya kita berfikir lebih mendalam lagi agar kasus ini dapat terminimalisir sekecil-kecilnya.

Permasalahan terhadap kekerasan, pelecehan seksual, penelantaran anak dan sejenisnya setidaknya ada dua pokok sumber masalah. Pertama, dari segi individu yang memiliki keimanan yang rapuh sehingga tak mampu mengendalikan emosi maupun hawa nafsu di dalam dirinya dan belum memahami hakikat diri sebagai orang tua, guru, tetangga maupun status lainnya. Saat dimana kedua rasa tersebut bangkit maka apa yang ada di depan mata akan menjadi tempat pelampiasannya.

Kedua, dari segi tatanan sistem kehidupan dalam skala negara yang di dalamnya menyangkut sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem pendidikan misalnya. Yang tentu semuanya saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Untuk saat ini sistem tersebut mengikuti cara pandang pada nilai-nilai kebebasan (liberal), materialistik (kapitalis), dan pemisahan urusan agama dan dunia (sekuler). Dengan demikian yang terjadi adalah tercetak indvidu yang miskin iman karena sekuler, bebas bertindak karena liberal, dan melakukan berbagai cara untuk memuaskan diri karena kapitalis. Sanksi yang di berikan oleh negara pun tidak tegas dan membuat jera.

Dua hal itulah yang harus kita ubah seutuhnya, kita mengubah individu dengan pembentukkan iman yang kokoh dari keluarga, pendidikan formal, dan kehidupan masyarakat, mengganti cara pandang liberal menjadi pengaturan, kapitalis menjadi ridha Allah, sekuler menjadi penggabungan dunia dan agama. Pertanyaannya perubahannya ke arah mana? inilah yang juga perlu di fiikirkan dengan matang.

Perubahan tersebut tidak lain dengan satu kata : Khilafah. Khilafah sebuah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin yang menerapkan seluruh hukum-hukum islam dan mendakwah islam ke luar negeri. Khilafah membawa seperangkat aturan dari sang Khaliq yang pasti mengerti tabiat seorang mahkluk bernama manusia sehingga aturanNya pasti menjaga, memuliakan, melindungi, mengayomi, dan menyejahterahkan setiap manusia termasuk non muslim dan anak-anak.

Didalam negara tersebut segala nilai-nilai kapitalis, sekuler, liberal, dan nilai-nilai berbahaya lainnya tidak akan di beri jalan sedikitpun baik dari segi pendidikan, media audio visual, dan ekonomi yang semuanya berbasis akidah islam. Termasuk sanksi yang sangat tegas bagi pelaku kekerasan anak atau pelaku maksiat lainnya seperti contoh dalam hal mencuri maka islam menetapkan hukum potong tangan dan zina di hukum dengan rajam atau cambuk seratus kali.

Dengan demikian kita khususnya kaum muslimin marilah kita tatap masa depan anak cucu kita di kemudian hari yang cemerlang. Jagalah masa kecilnya dari berbagai ancaman yang dapat merusak masa depannya. Ingatlah bahwa kepemimpinan masa depan ada di tangan mereka. Maka marilah kita bersama-sama mewujudkan khilafah atas izin Allah untuk menyelamatkan nasib generasi kita.
Penulis:Dewi Murni (anggota Muslimah HTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website