Komnas Perempuan Konsolidasi ke Papua

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) melakukan serangkaian kegiatan ke Wamena dan Jayapura Papua (21–30/05/2015). Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah mengadakan audiensi di Kabupaten Jayawijaya (Wamena), mengadakan pertemuan dengan mama-mama kampung Kurulu distrik Wagawaga dan mama-mama di Kampung Hepuba (Honai Pater John Jonga), mengadakan konsolidasi jaringan HAM Perempuan Papua, termasuk mengadakan pertemuan dengan Pangdam XVII– Cendrawasih.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan bersama warga Wamena (poto:dok.)

Kegiatan diawali dengan audiensi ke Kabupaten Jayawijaya (Wamena) yang juga dihadiri oleh Sekda, DPRD, Kapolres Jayawijaya dan Badan Pemberdayaan Perempuan. Pada pertemuan yang berlangsung selama dua jam ini, Komnas Perempuan membicarakan mengenai rumah aman bagi korban. Pada hari berikutnya, Komnas Perempuan mengadakan audiensi bersama mama-mama kampung Kurulu Wagawaga yang dihadiri oleh 41 orang mama-mama dari dua kelompok, kelompok Nik Hasik/ Untuk Kita dan kelompok Suara Hati Ibu. Diskusi yang dipandu oleh Pater Jhon Jonga ini membicarakan beberapa masalah yang sedang dihadapi oleh mama-mama yang selama ini membuat mereka tidak berdaya. 

Komnas Perempuan juga mengadakan pertemuan dengan pendamping korban dan beberapa LSM seperti Yayasan Humi Inane, Forum Ninetaiken Balim Papua dan Yayasan Teratai Hati Papua. Yayasan Humi Inane adalah LSM yang melaporkan tingginya KDRT di Kabupaten Jayawijaya. Pertemuan ini akan mengupayakan agar nikah adat dapat dicatat di pengadilan dan mendapatkan sertifikat agar perempuan-perempuan dapat terlindungi haknya.

Salah satu bagian yang penting dari kunjungan Komnas Perempuan adalah melakukan konsolidasi Jaringan HAM Perempuan Papua (26-27/05/2015). Konsolidasi yang berlangsung selama dua hari ini mengundang 20 kabupaten, namun terdapat 10 kabupaten yang dapat hadir (Merauke, Biak, Serui, Sorong, Kaimana, Manokwari, Wamena, Timika, Paniai dan Dogiyai). Konsolidasi ini melihat kemajuan-kemajuan yang telah didapat dengan adanya penguatan kelembagaan Jaringan TIKI, review advokasi substansi Perdasus di tingkat kabupaten, termasuk berbagi pengalaman dari masing-masing wilayah tentang penerapan dan hambatan dari Sistem Pemulihan dengan Metode Anyam Noken.

Selain itu, Komnas Perempuan mengadakan audiensi dengan Dewan Adat Papua, Majelis Rakyat Papua, Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cendrawasih. Saat mengadakan audiensi bersama Kapolda Papua (28/05/2015), Komnas Perempuan diterima oleh Kompol Anita Faboya (UPPA) dan dihadiri oleh Kepala Kepolisian Daerah Papua Brigjen (Pol) Drs. Yotje Mende, Kasatintel Yakobus. Komnas Perempuan menyampaikan beberapa temuan kasus dan mengusulkan agar terjaminnya hak suara perempuan bukan sebagai denda adat, seperti yang disuarakan oleh Majelis Rakyat Papua (MRP) dan lembaga lainnya. Sedangkan saat mengadakan audiensi dengan Pangdam XVII-Cendrawasih (28/05/2015), Komnas Perempuan diterima oleh Asisten Pribadi Mayjen TNI Fransen G Siahaan. 

Pertemuan ini pun menyepakati terbangunnya kerjasama antara Pangdam XVII Cendrawasih dengan Komnas Perempuan. Keduanya akan terus mendiskusikan tentang Undang Undang Penanganan Konflik, dan kebijakan pemerintah dalam hal pemberian ijin tambang. Hal ini terutama karena dengan adanya tambang maka pelanggaran semakin bertambah banyak, dari penyebaran HIV- AIDS sampai pelanggaran HAM *)
https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website