BIDADARI SALAH KAPRAH

Bila kita mendengar kata bidadari,  pasti yang akan langsung terngiang di kepala kita adalah sosok makhluk  surgawi yang sangat cantik serta menawan dan dapat memikat mata siapa saja yang memandangnya. Lain lagi kalau kita menengok di dalam Al Qur'an bagaimana Allah menggambarkan ciri-ciri dari sebuah makhluk yang disebut bidadari ini. Sosok yang paling diidam-idamkan para lelaki yang mereka telah menjaga diri mereka dari perbuatan-perbuatan yang telah diharamkan.
Penulis: Rifa Khanz ( aktivis Muslimah HTI Balikpapan)
Dalam salah satu ayat Al Qur'an,  Allah berfirman : "Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58).

Juga pada hadis yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW bahwa "Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

      Dari keterangan-keterangan diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa Bidadari memanglah sosok yang benar-benar indah dan terjaga. Serta hanya diperuntukan kepada orang-orang tertentu saja. Namun akan lain ceritanya jika 'sesuatu'  yang disebut dengan bidadari ini ternyata adalah seorang Pekerja Seks Komersial atau bahasa kasarnya biasa disebut dengan pelacur. Inilah yang sedang menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah anak muda kota Balikpapan sejak diluncurkannya film Bidadari Terakhir pertama kali pada tanggal 10 September lalu.  Film  garapan sutradara Awi Suryadi ini tengah menjadi trending topic bagi anak muda Balikpapan khususnya karena lokasi syutingnya yang memang banyak menyorot tempat-tempat indah di Kota Minyak ini.

      Berawal dari kisah Anak SMA (17 tahun)  yang jatuh hati dengan seorang PSK yang terpaksa menjual dirinya karena kebutuhan ekonomi, cerita yang diadaptasi langsung dari novel karya Agnez Davonar ini sukses merambah layar lebar seperti novel-novelnya yang lain sebelumnya. Hanya saja yang perlu dicermati dari rentetan kisah didalamnya, tanpa sadar telah membawa para penonton atau pembacanya kepada liberalisasi pemikiran khususnya dari segi pendidikan dan pergaulan. Sungguh hidup ini bukanlah sekedar tentang cinta-cintaan semata. Apalagi untuk anak-anak yang harusnya pada usia tersebut ditempa untuk menjadi jiwa-jiwa yang mempunyai karakter.

      Namun yang lebih disayangkannya lagi,  pemerintah di kota yang berjulukan Madinatul Iman ini ikut merasa bangga atas dieksposnya berbagai macam kehidupan liar para  pencari kesenangan sesaat di kota ini.  Atas dalih mengangkat muka Balikpapan lewat pariwisatanya,  pada dasarnya film ini hanyalah hiburan yang minim akan pesan moral yang layak untuk dijadikan panutan. Dan lebih dari itu, jika benar film ini di angkat dari kisah nyata seharusnya pemerintah kota Balikpapan merasa malu jika masih ada saja warganya yang harus rela menjual diri disebabkan mahalnya biaya kesehatan di kota layak huni ini.

      Lantas benarkah dengan mengorbankan kehormatan diri untuk menolong orang lain dengan niat yang suci, seorang manusia sudah layak diumpamakan seperti bidadari? Sungguh sangatlah jauh jika kita merujuk pada apa yang dikatakan Allah lewat perantara RasulNya seperti yang telah dikutip diatas tadi. Wanita barulah bisa dikatakan seperti bidadari jika ia mau menjaga diri dan keluarganya sesuai dengan apa yang perintahkan Sang Penciptanya. Namun itu semua tidaklah cukup jika tidak didukung dari sistem kehidupan yang mengaturnya. Individu,  masyarakat serta negara haruslah berada didalam satu ikatan dan aturan yang sama. Yang berbasis pada keimanan serta ketaqwaan.  Dan itu hanya terjadi jika kita berada dibawah naungan aturan Islam yang kaffah beserta kekhilafahannya. Wallahu'alam bi shawab(*)
Penulis: Rifa Khanz ( aktivis Muslimah HTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website