ATURAN MIRAS DIRELAKSASI, MAKSIAT KEMBALI BERAKSI

Jika dulu dengan mudahnya kita bisa melihat berbagai macam merk Bir dipajang di rak-rak minimarket atau warung, lewat peraturan dari mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel yang tertuang dalam "Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol", maka sampai hari ini kita bisa sedikit bernafas lega karena minuman perusak tersebut tidak bisa lagi diakses secara bebas bagi remaja khususnya. 

Permendagri tersebut melarang penjualan minuman beralkohol golongan A yakni yang memiliki kadar alkohol di bawah 5 persen antara lain jenis bir, dilarang dilakukan di minimarket. Penjualan hanya boleh di supermarket atau hipermarket namun hanya boleh dikonsumsi di lokasi.
Rifa Khanza (Aktivis MHTI Balikpapan)

Lewat aturan yang sebetulnya baru berjalan efektif sejak April 2015 lalu, mantan Mendag Rachmat Gobel menegaskan bahwa kebijakan itu diambil untuk melindungi generasi muda Indonesia dari miras. Saat ini, akses generasi muda terhadap miras dinilai sangat mudah sehingga kehidupan bebas dikalangan remaja semakin tak terkendali. 

      Namun sayangnya aturan dari Mendag sebelumnya ini tidak dipandang bagus oleh Mendag yang baru, Thomas Lembong.  Sejak menggantikan Rachmat Gobel beberapa waktu lalu, aturan ketat tentang penjualan minuman beralkohol ini mulai dilonggarkan lagi lewat upaya relaksasi yang mana hal ini merupakan salah satu yang masuk dalam Paket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pemerintah pada 9 September 2015.

Padahal pada penutupan Kongres Umat Islam Februari lalu, bapak presiden Jokowi kuga telah menegaskan bahwa tidak masalah negara kehilangan triliunan rupiah karena pelarangan miras di minimarket. Sebab jika dibiarkan (miras dijual bebas) kerugian yang akan ditanggung negara ini lebih besar. Seharusnya Mendag yang baru punya komitmen yang sama bahkan lebih, dalam melindungi generasi muda dari peredaran miras. Bukannya mengutak-ngatik lagi aturan yang bisa meminimalisir kemaksiatan di negara ini. 

      Sesungguhnya jika kita mau menarik benang merah dari masalah ini, semua tidak lepas dari betapa rapuhnya sebuah aturan jika pembuatnya adalah seorang manusia. Padahal kalau kita mau kembali pada aturan Sang Pencipta, sudah jelas dikatakan bahwa sesuatu yang memabukkan itu hukumnya HARAM. Sangat banyak dalil pengharaman bagi minuman yang mengandung Khamar ini antara lain :
Pada surah Al-Mā'idah ayat 90 dikatakan,  " Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan"

Juga di surah Al-Baqarah ayat 219, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir"

Serta hadis-hadis dari Rasulullah yang menguatkan ayat di atas,
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
“Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.” (HR. Muslim)

لايشرب الخمر رجل من أمّتي فيقبل الله منه صلاة أربعين يوما
“Seorang yang meminum khamar dari golonganku, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari” (HR. An-Nasai)

 لايدخل الجنّة مد مّن خمر
“Tak akan bisa masuk surga orang yang suka meminum khamar." (HR. Ibnu Majjah)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ
 Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Minuman yang dalam jumlah banyak memabukkan, maka sedikitpun juga haram". [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Daruquthni, dan dia menshahihkannya]

      Inilah dampak yang ditimbulkan oleh sistem Kapitalis Demokrasi, dimana manfaat serta keuntungannya lebih diprioritaskan daripada pertimbangan halal haramnya. Padahal benda yang menjadi pro kontra pun sudah jelas membawa kepada kerusakan. Bukannya melindungi masyarakatnya, pemerintah negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini malah sengaja mendorong generasinya utk terjun bebas kedalam liang kenistaan.

Sungguh umat membutuhkan institusi yang bisa melindungi moral masyarakat dari keburukan. Tidak hanya tentang perkara duniawi, namun juga perkara yang bisa menghantarkan kita kepada suasana keimanan dan ketakwaan didalam diri setiap individu. 

Dan itu semua hanya bisa terwujud jika kita mau menerapkan sistem Islam secara kaffah dibawah naungan khilafah seperti yanG dicontohkan Rasulullah dan para Sahabat setelahnya.
Wallahu'alam bi shawab.
Penulis: Rifa Khanza (Aktivis MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website