MIRAS DILEGALKAN, ISLAM SOLUSINYA!

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (TQS. Al-Maidah: 90).

                                                                            ***
Negeri kita semakin mendekati level gawat darurat, betapa tidak! baru-baru ini tersiar kabar di media social seperti facebook bahwasanya Presiden negeri ini beserta jajaran kabinetnya tengah mensosialisakan manfaat miras. Naudzubillah…

Arini Umma Miqdaam (Pemerhati sosial-politik/Aktivis MHTI Balikpapan)


Tentu ini menjadi berita yang mengejutkan buat kita, terutama umat Muslim, kabar itupun menuai banyak kecaman dari nitizen. Sungguh sebuah prilaku yang tidak layak dicontoh dan sama sekali tidak mencerminkan sikap pemimpin apalagi seorang Muslim. Sungguh ini menciderai ummat Islam secara keseluruhan. Bukankah rakyat bisa ditentukan dengan siapa mereka dipimpin? Lihatlah Akhlak para pejabat negeri ini, mereka mengkonsumsi miras saja sudah menggambarkan akhlak mereka jauh dari akhlak seorang muslim.

Yah… lagi-lagi ini bukan salah bunda mengandung. Inilah sedikit gambaran pemimpin di era kapitalisme, apapun dianggap baik asalkan bermanfaat dan bisa mendatangkan materi. Ironis memang, ketika pemimpin mengatakan revolusi mental, namun mental yang dimaksud disini adalah mental yang semakin jongkok alias semakin merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Nyatanya mental generasi memang kian terpuruk dan makin rusak. Pernikahan sesama jenis pun dianggap biasa, seperti yang terjadi di Bali awal bulan ini. Sepasang pria melangsungkan pernikahan di pulau Bali. Namun pemerintah kita sama sekali tidak bertindak tegas. Lagi-lagi mereka hanya bisa membiarkan. Itulah Demokrasi! Adanya asas kebebasan dalam berprilaku.

Legalnya miras dinegeri ini tak luput dari peran sebuah sistem yang mengaturnya, karena adanya asas manfaat maka miras pun begitu mudahnya kita temukan dipasaran, apapaun jenis barang yang daya permintaannya tinggi, maka pasti akan terus diproduksi dan dipasarkan tanpa melihat lagi apakah itu barang halal atau haram, yang ada dibenak para pelaku kapitalis atau pemilik modal adalah mereka bisa meraih keuntungan sebanyak-banyaknya.

Tak jarang kita temui dilapangan, banyak yang meninggal karena miras, kecelakaan karena habis meminum miras, bahkan melakukan pencabulan hingga pembunuhan. Miras membuat akal sehat tidak berfungsi dengan baik, menyebabkan mabuk dan berprilaku layaknya orang tidak waras. Maka dari itu dalam Islam miras itu kategori minuman yang amat diharamkan karena bisa merusak akal dan membahayakan orang lain.

Islam adalah agama fitrah, untuknya Islam melarang ummat Muslim untuk meneguk miras walaupun itu hanya setetes, karena barang haram hukumnya tidak pernah berubah, haram maka tetaplah ia haram walaupun dikemas dengan lebel yang menarik seperti banyaknya jenis-jenis miras yang beredar dipasaran, mulai dari yang kandungan alkoholnya 1% hingga 100%.

Miras merajalela karena manusia telah mengabaikan hukum-hukum Allah, mereka lebih mengutamakan hukum buatan manusia daripada sang Khaliq. Jadilah manusia kian terpuruk karena telah menerapkan sistem kufur, yang hampir  kita temui disetiap lini-lini kehidupan. 

Tegaknya Hukum Syari’ah dalam Setiap Aspek Kehidupan 
Ketika akar masalahnya adalah pengabaian terhadap hukum-hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkoba adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah. Rasulullah saw bersabda:
“…Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dg sanad hasan).
Ketika syariat Islam diterapkan, maka peluang beredarnya miras akan tertutup. Landasan akidah Islam mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Ketakwaan yang terwujud itu akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan apapun termasuk ketergantungan terhadap miras pasti akan ditangani secara tuntas. Disamping itu, alasan ekonomi untuk terlibat produksi dan pemasaran miras juga tidak akan muncul. Sebab pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat (papan, pangan dan sandang) dan kebutuhan dasar masyarakat (pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan) akan dijamin oleh negara. Setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya sesuai kemampuan masing-masing, dan bagi yang kesulitan dalam menjalankan usaha karena kuranganya modal usaha maka akan mendapatkan bantuan dana dari Khalifah melalui Baitul Mal. Selama usaha itu tidak membawa pada kemudharaton dan melanggar syariat Islam.
Sebagai zat haram, siapa saja yang mengkonsumsi, mengedarkan dan memproduksinya berarti telah melakukan jarîmah (tindakan kriminal) yang termasuk sanksi ta’zir. Pelakunya layak dijatuhi sanksi dimana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.

Demikianlah sekilas solusi ketika hukum-hukum Allah diterapkan dalam naungan Khilafah Rasyidah ala minhaj in Nubuwwah, peluang untuk melakukan segala aktifitas yang diharamkan akan ditutup serapat-rapatnya dan juga akan dibasmi hingga keakar-akarnya. Untuk mendapatkan kemuliaan hidup, ummat Islam memang membutuhkan sebuah institusi syar’I yang akan menerapkan hukum Allah secara kaaffah. Allahu Akbar….!!!
Wallahu a’lam bi ashowab…
Penulis: Arini Umma Miqdaam (Pemerhati sosial-politik/Aktivis MHTI Balikpapan)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website