Pelayanan Kesehatan dalam Islam

Nitizen kembali dihebohkan dengan tersebarnya kabar di media sosial(online) tentang prihal kematian salah satu wanita muda berparas cantik plus berprestasi, yaitu putri dari salah satu mantan pejabat di negeri ini, Allya Siska Nadya, yang akrab disapa Siska. 


Pilunya, karena wanita cantik ini meninggal setelah pulang dari melakukan terapi kesehatan di salah satu klinik chiropractic swasta yang ada di Jakarta, yang nyatanya dokter WNA di Klinik tersebut tidak memiliki izin resmi untuk beroprasi alias ilegal. Bukan satu dua tiga kasus saja yang kita temui, tapi kasus malpraktik sudah sering terjadi di negeri ini namun sudah dianggap lumrah dan tidak begitu diekspos dimedia bahkan cenderung ditutup-tutupi, karena bagi mereka dokter  atau pun pemerintah tidak pernah salah, ketika ada pasien yang meninggal saat menjalani perawatan ataupun operasi maka keluarga pasien diharapkan berlapang dada atau ikhlas menerima saja.

 Semudah itukah menyalahkan takdir? Sudahkan mempertanyakan apakah pelayanan kesehatan di negeri ini sudah layak? Sudahkah propesionalisme para tenaga medis diuji?. Lantas kenapa, lebih banyak orang-orang berduit yang mempercayakan kesehatannya ke luar negeri semacam lari berobat ke Singapura, Jerman ataupun Cina?Apakah mereka memang sadar kalau pelayanan kesehatan di negeri ini memang jauh dari standar???
Berjamurnya klinik swasta baik yang legal maupun ilegal tentu menjadi salah satu indikator bahwa pelayanan kesehatan dari pemerintah di negeri ini terbilang kurang maksimal atau jauh dari standar internasional.  Sebagai Contoh, ketika kita berobat ke RSU begitu banyak prosedur atau langkah administratif yang harus dipenuhi, bagi rakyat miskin cenderung dilayani seadanya dengan failitas dan obat-obatan yang jauh dari kata layak, bukannya mengobati penyakit malah bertambah penyakit baru.
Para tenaga medis pun sangat kurang yang ikhlas dalam menjalani profesinya, bekerja karena uang bukan karena keselamatan dan demi kesehatan pasiennya. Ini adalah potret sebagian besar tenaga medis di negeri zamrud khatulistiwa ini.
Tentu kita ingat slogan “Orang Miskin dilarang Sakit!”. Kenapa? Karena memang biaya kesehatan begitu mahal dan tidak bisa dijangkau oleh rakyat miskin. Tak ada lagi rasa prikemanusiaan, yang mendominasi dalam diri seseorang adalah asas manfaat.
Tenaga medis dengan gaji pas-pasan pun sulit memberikan pengobatan secara cuma-cuma. Tentu ini bukan kesalahan tenaga medis ataupun pasien yang sakit, namun lebih kepada abainya Negara dalam melayani rakyatnya. Negara abai pun karena menerapkan sistem kapitalisme, yang faktanya cenderung memihak kepada para pemilik modal.
Dengan melihat potensi SDA dan SDM di Indonesia, tentu seyogyanya pemerintah bisa menjamin dan memaksimalkan pelayanan kesehatan kepada seluruh rakyatnya tanpa membeda-bedakan antara si miskin dengan si kaya, bahkan kesehatan bisa saja digratiskan. Andai saja seluruh SDA dikelola oleh negera tentu negeri ini akan maju dan memiliki fasilitas yang mumpuni, bukan hanya pelayanan kesehatan yang akan dibenahi, namun semua bidang akan disesuaikan dengan standarnya.
Islam sebagai agama yang sempurna lagi paripurna tentu mempunyai solusi dalam menangani problematika umat, termasuk masalah pelayanan kesehatan. Pandangan Islam tentang kesehatan jauh melampaui pandangan dari peradaban manapun. Islam telah menyandingkan kesehatan dengan keimanan, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Mintalah oleh kalian kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sesungguhnya setelah nikmat keimanan, tak ada nikmat yang lebih baik yang diberikan kepada seseorang selain nikmat sehat.” (HR Hakim).
Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan disukai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR muslim).

Dalam Islam, kesehatan juga dipandang sebagai kebutuhan pokok publik, muslim maupun non-muslim. Karena itu, Islam telah meletakkan dinding yang tebal antara kesehatan dan kapitalisasi serta eksploitasi kesehatan. Dalam Islam, negara (Khilafah) bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan semua warga negara. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) yang menjadi pemimpin manusia laksana penggembala. Hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Tugas ini tidak boleh dilalaikan negara sedikitpun karena akan mengakibatkan kemadaratan, yang tentu diharamkan dalam Islam. Pada masa penerapan Islam sebagai aturan kehidupan bernegara, hampir setiap daerah terdapat tenaga medis yang mumpuni. Negara tentu sangat memperhatikan penempatan tenaga ahli kesehatan di setiap daerah. Islam juga tidak membatasi hari bolehnya pasien menginap selama sakitnya belum sembuh tanpa dipungut biaya apapun. Sekalipun dipungut biaya tidak akan memiskinkan pasien karena SDA negara terkelola dengan baik dan benar sesuai aturan Allah.

Buruknya pelayanan kesehatan yang terjadi saat ini tentu tidak akan berakhir hingga sistem kapitalisme dalam kehidupan negara segera diganti dengan Islam. Sebab persoalan pelayanan kesehatan ini sangat terkait dengan kebijakan negara yang berlandaskan kapitalisme dan juga bergantung dengan sistem ekonomi liberal negara tersebut.

Islam tidak akan bisa diterapkan tanpa adanya institusi penjaganya yaitu negara khilafah islamiyah. Untuknya, saatnya ummat bangkit dan berjuang bersama dalam penegakan Khilafah Islamiyah di bumi ini. Agar Allah menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS: Al-A’raf: 96)Allahu Akbar!!!
Wallahu a’lam bi ashowab (Dari berbagai sumber). (*)
Penulis: By: Arini Umma Miqdaam/Aktivis MHTI Balikpapan




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website