Toleransi Salah Kaprah!

Sungguh miris hati kita tatkala mengetahui ada seorang muslim yang rela menjual aqidahnya demi kekuasaan.  Demi meraih dukungan dari semua umat, termasuk non- muslim. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan adanya berita seorang kepala daerah rela keliling kota demi mengucapkan selamat natal. Belum lagi ada kepala daerah yang justru masuk gereja, turut serta dalam perayaan natalan. Untuk apa? Padahal mereka muslim?


Inilah buah Demokrasi-Sekuler, yang mana kebebasan menjadi asasnya, termasuk membolehkan warga Negara bebas berpindah agama dan bebas mengikuti perayaan-perayaan keagamaan orang kafir. Bukan lagi atas dasar toleransi antar umat beragama, namun ini lebih kepada sikap toleransi yang kebablasan. Kenapa kebablasan?

Coba kita lihat, betapa banyak dari kita, umat Islam yang turut serta dalam perayaan keagamaan orang kafir, termasuk perayaan tahun baru masehi, yang mana sebenarnya perayaan tahun baru masehi adalah perayaan para kaum pagan atau penyembah berhala, dewa-dewa dan matahari.
Arini Umma Miqdaam

Islam, mengajarkan muslim untuk bertoleransi yaitu mengakui ada agama lain selain Islam dan tidak mengganggu acara keagamaan non muslim tersebut, bukan ikut serta dalam perayaan apalagi membenarkan ajaran agama mereka sedangkan yang kita pahami bahwasanya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam, dan jalan keselamatan dunia dan akhirat adalah hanya dengan berpegang teguh pada tali agama Allah yakni Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Sekali lagi, Islam memang mengajarkan sikap toleransi. Toleransi itu membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi itu tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam.

Adapun dalam konteks muamalah, Rasul saw. berjual-beli dengan non-muslim secara adil dan fair. Rasul juga menjenguk non-muslim tetangga beliau yang sedang sakit. Rasul juga bersikap dan berbuat baik kepada non-muslim. Toleransi semacam ini telah memberikan contoh bagi masyarakat lain. Bahkan toleransi Islam tetap terasa hingga masa akhir Khilafah Utsmaniyah. TW Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam, menyatakan: “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman (KhilafahTurki Utsmani)—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…”

Namun, toleransi dalam Islam itu bukan berarti menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadîr menyatakan: Abd ibn Humaid, Ibn al-Mundzir dan Ibn Mardawaih telah mengeluarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas bahwa orang Quraisy pernah berkata kepada Rasul saw., “Andai engkau menerima tuhan-tuhan kami, niscaya kami menyembah tuhanmu.” Menjawab itu, Allah SWT menurunkan firman-Nya, yakni surat al-Kafirun, hingga ayat terakhir:
]… لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ[
… untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku” (TQS al-Kafirun [109]: 6)
Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim dan ath-Thabrani juga mengeluarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas, bahwa orang Quraisy pernah menyeru Rasul saw. seraya menawarkan tahta, harta dan wanita. Tujuannya agar Rasul berhenti menyebutkan tuhan-tuhan mereka dengan keburukan. Mereka juga menawarkan diri untuk menyembah Tuhan Muhammad asal berikutnya Rasul gantian menyembah tuhan mereka. Sebagai jawabannya, Allah SWT menurunkan surat al-Kafirun itu.
Dari sini jelas, umat Islam haram terlibat dalam peribadatan pemeluk agama lain. Umat Islam juga haram merayakan hari raya agama lain, bagaimanapun bentuknya, karena hal itu termasuk bagian dari aktivitas keagamaan dan dekat dengan peribadatan.
Kalaupun memakai atribut Natal dianggap bukan bagian dari peribadatan, yang jelas atribut itu adalah identik dengan Natal. Itu identik dengan orang Nasrani. Memakai atribut Natal berarti menyerupai mereka. Padahal Rasul saw. melarang tindakan demikian.
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Imam ash-Shan’ani menjelaskan, “Hadis ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa siapa pun yang menyerupai orang kafir, pada apa saja yang menjadi kekhususan mereka—baik pakaian, kendaraan maupun penampilan—maka dia termasuk golongan mereka.”
Berpartisipasi dalam perayaan hari raya agama lain juga jelas terlarang berdasarkan nas al-Quran. Allah SWT berfirman:
]وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا[
Orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu dan jika mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lewat (begitu saja) dengan menjaga kehormatan diri mereka (QS al-Furqan [25]: 72).
Az-Zûr itu meliputi semua bentuk kebatilan. Yang terbesar adalah syirik dan mengagungkan sekutu Allah. Karena itu Imam Ibn Katsir—mengutip Abu al-‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas dan lainnyamenyatakan bahwa az-zûra adalah hari raya kaum musyrik. (Tafsir Ibnu Katsir, III/1346).
Menurut Imam asy-Syaukani, kata lâ yasyhadûna, dalam pandangan jumhur ulama, bermakna lâ yahdhurûna az-zûra, yakni tidak menghadirinya (Fath al-Qadîr, IV/89).
Menurut Imam al-Qurthubi, yasyhadûna az-zûra ini adalah menghadiri serta menyaksikan kebohongan dan kebatilan. Ibn ‘Abbas, menjelaskan, makna yasyhadûna az-zûra adalah menyaksikan hari raya orang-orang musyrik, termasuk dalam konteks larangan ayat ini adalah mengikuti hari raya mereka.
Kaum muslim pun dilarang ikut menyemarakkan, meramaikan atau membantu mempublikasikan hari raya agama lain. Allah SWT berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang suka perkara keji (maksiat) itu tersebar di tengah-tengah orang Mukmin, mereka berhak mendapatkan azab yang pedih di dunia dan akhirat (TQS an-Nur [24]: 19).
Menyebarkan perbuatan keji (fakhisyah)juga mencakup semua bentuk kemaksiatan. Menyemarakkan, meramaikan dan menyiarkan perayaan Natal sama saja ikut terlinbat dalam penyebarlusaan kekufuran dan kesyirikan yang diharamkan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “Sebagaimana kaum musyrik tidak boleh menampakkan syiar-syiar mereka, tidak boleh pula kaum muslim menyetujui dan membantu mereka melakukan syiar itu serta hadir bersama mereka. Demikian menurut kesepakatan ahli ilmu.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, I/235).(Dari berbagai sumber)

Untuk menjaga aqidah ummat agar dalam bertoleransi tidak sampai kebablasan hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan Islam secara kaaffah. Negara atau Khilafah adalah perisai dan senantiasa akan menjaga aqidah ummat, dan akan menjamin kerukunan antar ummat baragama. Islam begitu indahnya bila diterapkan secara sempurna diseluruh aspek kehidupan. Sudah saatnya kita bersatu dan berjuang dalam penegakan syariah dan Khilafah ala minhaj in nubuwwah di Bumi Allah ini. Allahu Akbar.(*)
WalLâh a’lam bi ash-shawâb.
Penulis: Arini Umma Miqdaam (Aktifis MHTI Balikpapan, Pemerhati Sosial-Politik, IRT)




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website