Anak pun Korban Densus 88

Beberapa hari yang lalu kita di hebohkan dengan aksi penangkapan terduga teroris siyono pada selasa (8/3) yang dilakukan oleh densus 88 hingga pada akhirnya merenggut nyawa siyono akibat perkelahiannya dengan anggota densus 88 di dalam mobil yang ia tumpangi,

Sekitar seminggu usai kejadian tersebut Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi Majlis Ulama Indonesia (MUI) Sudarnoto A hakim menyayangkan penggrebekan yang dilakukan Densus 88 di TK Roudlatul Athfal Terpadu Amanah Ummah di Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten. Jakarta (SI Online)
Saat penggrebekan, Densus 88 hendak menangkap terduga teroris bernama Siyono yang kediamannya dijadikan sekolah anak-anak tersebut .Siyono sendiri akhirnya terbunuh saat diperiksa pasukan berlambang burung hantu itu.
cara-cara tersebut dinilai  menunjukan bahwa Densus 88 tidak lagi menghormati tempat pendidikan dan merusak etika. Mereka telah mengakkibatkan rasa takut di kalangan anak-anak TK .
“ Secara langsung tindakan Densus 88 telah melukai jiwa anak-anak yang seharusnya di tumbuh suburkan dengan baik. Densus 88 telah melaksanakan sesuatu yang sebetulnya  justru merusak prinsip kemanusiaan, tidak menghargai tempat pendidikan, merusak jiwa anak-anak. Dan semua ini di biayai,” ujar Sudartono dikutip RMOL, selasa (15/3/2016)
Program kontra terorisme itu sendiri patut di pertanyakan pasalnya, program kontra terorisme selama ini tidak efektif dan cenderung gagal, apalagi pendekatannya “kejam”. Penggeledahan yang dilakukan  oleh personel bersenjata lengkap, disaksikan oleh anak-anak TK, mungkin saja justru menanamkan rekaman bahwa Densus atau Polisi adalah penindas.
Belum lagi penegakan hukum terkait terorisme terbilang tidak adil. Dimana saat kasus ancaman bom di Mall Alama Sutera beberapa waktu yang lalu tidak pernah dikatakan sebagai kasi teror atau terorisme. Pelakunya yang kebetulan non-Muslim juga tidak terjerat hukuman dengan UU Terorisme . padahal kita ketahui sendiri aksi pada saat itu jelas merupakan aksi teror yang telah menewaskan sejumlah aparat.
Pola kerja penanganan terorisme oleh Densus 88 terbukti bukan hanya membabi buta menyerang kaum Muslim namun juga berpotensi merusak jiwa anak dengan sikap mereka yang terkesan menakutkan
Di tengah kinerja dan profesionalitas Densus 88 dan penanggulangan Terorisme yang terus di pertanyakan dan di kritik , mestinya Pemerintah mengevaluasi, mengaudit atau bahkan membekukan Densus dan program kontra terorisme. Bukannya melakukan itu, Pemerintah justru akan menambah anggaran untuk Densus sebesar Rp 1,9 triliun, belum lagi kucuran dana dari Amerika serikat sebesar 18 juta triliun  dan dana sebesar itu jelas bukan untuk menyejahterakan bangsa Indonesia , namun untuk melakukan pembantaian bangsa sendiri secara kejam .
Pembubaran Densus 88 memang harus di suarakan mengingat tindakan yang dilakukan selama ini berdampak bagi ketentraman hidup masyarakat tidak ketinggalan anak-anak yang juga menjadi korban radikalisme yang diajarkan Densus 88 mengancam kejiwaan anak di usia dini.(*)
Penulir: Sitti Radima Tsulmah (Mahasiswi)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website