Hilangnya Nurani dan Adab Pemimpin Kapitalis

Hidup memang sebuah hal yang didalamnya penuh dengan lika-liku juga teka-teki. Terkadang ada hal yang kita inginkan namun ternyata hal tersebut justru membahayakan diri sendiri. Begitupun sebaliknya. Hal yang tidak kita inginkan justru boleh jadi adalah hal yang terbaik bagi diri kita.


Selain itu, hidup juga memiliki goresan takdir dan goresan pilihan. Hampir semua orang menginginkan hidup dengan gemilang harta. Apapun ditempuh untuk meraihnya. Disisi lain tidak sedikit yang ingin hidup sederhana karena khawatir kekayaan akan menjauhkan dari rabbi Ilahi. Namun apapun itu, kaya atau miskin bukan penentu baik atau buruknya seseorang melainkan takwalah penentunya.

Terlahir sebagai anak orang kaya atau orang miskin merupakan takdir yang tidak bisa dinegoisasi dalam proses peniupan ruh di dalam rahim. Akan tetapi ada peluang di dunia untuk mengubah nasib yang demikian. Maka dari itu perlu ada usaha dari diri sendiri untuk bangkit dan negara untuk memfasilitasi juga menjalankan fungsinya sebagai pihak yang berkewajiban mengurusi rakyatnya.
Dewi Murni


Jumlah penduduk miskin di indonesia berjumlah 28,59 juta orang. Angka tersebut bukan angka yang main-main melainkan angka yang mencerminkan pola pengurusan negeri ini kepada rakyatnya, termasuk pula kebijakan yang di terapkan. Sebagai bentuk rasa tanggung jawab kepengurusan umat yang kehidupannya berada di garis miskin, pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan berupa program-program tertentu seperti misalnya raskin, kartu sehat, BLT, dan lainnya. patut kita apresiasi walaupun sesungguhnya cara tersebut bukanlah solusi tuntas atas masalah ekonomi saat ini.

Beberapa waktu yang lalu sosial media (sosmed) sempat di hebohkan oleh pemberitaan terkait pernyataan dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani Yang mengatakan “Jangan banyak-banyak makan lah, diet sedikit tidak apa-apa.” Sungguh teriris hati kala mengetahuinya  bagi orang yang berfikir dan peduli. Bisa jadi di tengah banyaknya PHK, mereka pun juga akan harus diet pula.

Inilah salah satu yang sangat sayangkan dalam proses pengurusan umat tertinggal adab-adab maupun akhlak karimah. Pantaskah rakyat miskin diminta diet sementara mereka sedang kelaparan? Jika tingginya kemiskinan dan kurangnya pasokan makanan menjadi alasan maka tidak patut pernyataan tersebut di lontarkan dan di benarkan sebab bagaimana pun masalah itu adalah tanggung jawab negara untuk mengatasinya bukan justru di suruh diet.

Saat ini kita hidup pada zaman seorang pemimpin di beri fasilitas mewah sedang rakyat justru seadanya bahkan hampir tidak ada fasilitas apapun. Sebagai contoh ketika salah satu pihak pemerintah datang ke sebuah daerah maka di kerahkan keamanan yang maksimal sementara rakyat untuk mendapatkannya harus berjuang sendiri. Memang benar pemimpin posisinya berada pada pekerjaan yang sungguh berat, namun bukankah pemimpin ada dan fungsinya untuk mengayomi rakyat, bukan sebaliknya?

Adalah sebuah karunia yang tak terkira hidup di negeri yang kaya juga bermayoritas muslim termasuk pemimpinnya. Seharusnyalah kita semua khususnya pemimpin mencontoh teladan rasulullah Muhammad Saw. ketika mengelola negara yakni dengan sistem islam (daulah khilafah). Banyak darinya lahir sosok-sosok pemimpin yang beradab.

Pada masa kepemimpinannya rasul Muhammad begitu baik sekali adabnya kepada rakyatnya tanpa pandang bulu. Di kisahkan, ada seorang yahudi yang telah tua renta, buta dan miskin. Rasul selalu memberikan ia makanan bahkan rasul sendiri yang menyuapi orang tua tersebut. padahal orang tua tersebut selalu menebar fitnah kepadanya, mengatakan rasul pendusta, orang gila, dan lainnya. saat beliau meninggal pun, khalifah Abu Bakar meneruskan kebiasaan tersebut.

Ada juga sebuah kisah yang sangat populer hingga sekarang yaitu kelembutan hati khalifah Umar Ra. Di mana saat malam hari ia berpatroli ke pemukiman penduduk beliau menemukan seorang janda yang masak batu. Singkat cerita janda tersebut memaki-maki khalifah Umar atas kelalaiannya yang sesungguhnya ia tidak tau bahwa yang di hadapannya adalah umar . akan tetapi beliau tidak membalas dengan emosi justru umar menangis atas kesalahannya hingga ia memikul sendiri gandum untuk di berikan kepada janda tersebut.

Itulah secuil kisah nyata teladan pemimpin-pemimpin yang beradab dan amanah. Sosok mereka tercipta dari lingkungan yang menjadikan islam sebagai aturan yang resmi dan total. Berbeda kondisinya sekarang yang kontras sekali dengan dahulu. Kini yang mendapatkan “kasih sayang” negara adalah mereka yang memiliki uang/modal yang banyak sementara rakyat miskin di anak tirikan akibatnya pemerintah tidak melayani kepentingan rakyat secara adil dan merata serta tidak di rasakannya penderitaan rakyat miskin. Indikasi ini membuktikan bahwa negara kita menganut ideoligi kapitalisme, sistem kehidupan karya manusia yang di dalamnya tiada keridhoan sang Khaliq, Allah SWt.(*)
Penulis: Dewi Murni (Muslimah HTI Balikpapan)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website