Mau Heboh Lantas Ceroboh

Sudah jadi rahasia umum, negeri ini, yang katanya ber-ideologi beda dari negara manapun, sebagian masyarakatnya terbiasa membebek. Termasuk membebek kebebasan berpendapat yang dianut negara barat. Sudahkah tersiar ke Pembaca bahwa 1 April 2016 lalu terbit komik satir bernama Charlie Heboh yang isinya serupa dengan majalah dari Barat sana; Menghina Islam dan Mencela Nabi dengan tak senonoh! Tak elak komik tersebut langsung menuai kontroversi dan kecaman dari berbagai pihak, terutama Kaum Muslim.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh digunakan sebagai dalih pembenar untuk setiap tindakan menyebar kebencian dan menistakan agama. MenAg meminta kepada aparat agar mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap pengelola akun media sosial dan penerbitan media yang menyebarkan kebencian dan penistaan agama serta pemilik akun media sosial dan pihak yang memproduksi dan menyebar penistaan agama harus diproses hukum.
Pertentangan antara kebenaran dan kebathilan adalah sunnatullah yang selalu ada. Sudah tidak aneh jika penghinaan, pemboikotan, atau penyiksaan selalu mewarnai sejarah kebenaran, pun termasuk pada utusan Allah Subhanahu Wata’alaa. Sekalipun jika kebenaran mendominasi pada suatu masyarakat, kemungkinan muncul hinaan pun tetap ada.
Ilustrasi


Penghinaan bisa saja terjadi karena dua hal; Pertama: Kebodohan, kecerobohan, ketidaktahuan akan perbuatannya. Kedua: Dengki yang mengakar nurani dan akal. Akan tetapi, dua hal tersebut tidak serta merta muncul tanpa ditopang oleh asasnya; Sekulerisme dan Liberalisme. Kebebasan berperilaku (freedom of behavior) dan kebebasan berpendapat (freedom of speech) dijadikan ‘alasan’ untuk penghinaan agama.
Akibatnya sudah tentu saja menjadikan kebodohan berkembang, mengabaikan manusia akan agama, dan menumbuhkan paham-paham dan perilaku nyeleneh. Sekulerisme menjadikan negara memisahkan agama dari kehidupan dan mengganggap urusan agama adalah urusan individu, menjadikan umat yang mulia ini terhina hingga akhirnya benar-benar menjadi sasaran penghinaan, bukan saja terhadap umatnya melainkan agama dan nabinya.
Suatu kisah Imam ath-Thabari menceritakan bahwa ketika Rasulullaah pergi ke Tabuk, beliau melewati sekelompok orang munafik, dan mereka berbincang dengan sesama mereka “lelaki ini (Rasululullah maksud mereka) ingin menaklukan Syam dan bentengnya. Mustahil, mustahil!”, lalu Rasulullaah mendatangi mereka dan mereka pun berkata “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main”. Lantas turunlah firman-Nya :
“Jika kamu bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan itu, tentulah mereka akan menjawab “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah “Apakah kepada Allah ayat-ayatNya dan RasulNya kalian selalu berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf karena kalian kafir sesudah beriman….” (QS at-Taubah : 65-66)
Para ulama tak ada beda pendapat soal hukuman bagi penghina Islam selain hukuman mati jika pelakunya tak mau bertaubat, jika dia bertaubat maka gugurlah hukuman mati atasnya. Begitu seharusnya negara memberi hukuman secara tegas bagi siapa saja yang menghina kebenaran yang datangnya dari sang Khaliq.
Pasalnya, persoalan akan tuntas jika yang menjadi penyebabnya dicabut, yakni Sekulerisme dan Liberalisme dan dijadikannya aturan Sang Khaliq menjadi landasan. Sebab Islam punya segala solusi atas semua permasalahan tanpa kecuali, sanksi-sanksinya pun tegas, bukan bermaksud kejam tapi ia sebagai penebus dan yang pasti menimbulkan efek jera bagi pelakunya juga bagi siapapun yang akhirnya tidak akan berani bermaksiat.
Dan Islam bisa ditegakkan melalui wadah penerapan sistem Islam yakni Khilafah Islamiyyah. Aqidah dan Syariah Islam menjadi hidangan utama dalam kurikulum pendidikan yang mana kebodohan dan kedengkian terhadap agama tak akan terjadi. Penghinaan terhadap nabi dan agama ini sebenarnya hanyalah efek samping dari peraturan yang berlaku di negara sekuler, maka apalagi yang perlu diterima dan dicerna darinya? Jika jelas-jelas ada aturan yang lebih benar dan berhak mengatur kita sebagai manusia. Wallahualam bish Shawab.(*)
Penulis: Yuni Yartina (Pelajar MHTI)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website