Nyala untuk Yuyun… Syariah Islam Solusinya


Belum lama ini Dunia maya mendadak diramaikan dengan munculnya tagar  (tanda pagar) #Nyala UntukYuyun..kisah meninggalnya Yuyun siswi SMP di Bengkulu ini cukup tragis, korban ditemukan meninggal dunia di dalam jurang saat pulang sekolah, ditemukan warga dalam kondisi membusuk karena sudah beberapa hari menghilang. Korban ditemukan dalam keadaan nyaris tanpa busana dengan kaki dan tangan terikat pada Senin (4/4/2016) (tribunnews, 4 mei 2016). 
Tak hanya Yuyun, bulan Februari lalu, seorang anak perempuan juga diperkosa beramai-ramai oleh enam temannya yang juga masih di bawah umur. Peristiwa itu terjadi di kelurahan Talang Benih, kecamatan Curup, Bengkulu. Korban memang selamat, tapi trauma yang dialaminya hingga kini masih membekas dalam. Tindakan pembunuhan dan pemerkosaan ini membuka catatan suram terhadap kasus serupa yang juga menimpa gadis cantik penjual angkringan bernama Eka Mayasari yang pernah mencuat di publik.

Iustrasi
Diberitakan sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIY berhasil membekuk pelaku pembunuhan terhadap Eka Mayasari yang ditemukan meninggal di kontraknya kawasan Janti, Banguntapan, Bantul, (02/05/2015) lalu.Tersangka berinisial RMZ (19) yang tak lain merupakan pelanggan angkringan korban. Pengamen yang tinggal di Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta ini ditangkap Polisi setelah bersembunyi di kamar kos ibunya di kawasan Kutoarjo, Jawa Tengah, (20/05/2015).Manajer Program Cahaya Perempuan Women Crisis Center, Juniarti menyebutkan, sudah seharusnya darurat kekerasan terhadap perempuan dan anak ditetapkan di daerah Rejang Lebong Bengkulu.Ia bahkan menyebutkan sepanjang 2016 terdapat 36 kasus kekerasan anak dan perempuan terjadi.Sebelumnya di Kabupaten Rejang Lebong pada tahun 2015 kekerasan mencapai 84 kasus. (tribunnews.com, 02/05/2016). Belum lagi yang terjadi didaerah lain.  
Kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan tahun 2016 di Indonesia naik menjadi peringkat kedua dengan jumlah kasus perkosaan mencapai 2.399 kasus atau 72 persen, pencabulan mencapai 601 kasus atau 18 persen, sementara kasus pelecehan seksual mencapai 166 kasus atau 5 persen.
            Dengan mencuatnya kembali kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yg menimpa yuyun belum lama ini membuat mata kita semakin terbuka bahwa alam demokrasi yang dianut oleh Negara kita ini tidak memberikan jaminan keamanan bagi warga negaranya. Rakyat selalu hidup dalam kecemasan,ketakutan terhadap keselamatan diri dan generasi penerus. Kalau rakyat yang mampu (baca kaya. Red) mereka sanggup membayar bodyguard atau satpam untuk menjaga keamanan diri mereka.
Sedangkan rakyat yang kurang mampu, mereka harus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga keamanan diri. Padahal yang namanya keamanan itu adalah kebutuhan pokok bagi setiap makhluk hidup di muka bumi ini. Tidak hanya itu kasus yang menimpa yuyun jika ditelaah kembali juga berkaitan erat  dengan system pendidikan yang dianut negeri ini Pendidikan di negeri ini dengan konsep Sekulerisme nya  meniscayakan urusan agama dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang TIDAK terkait dengan mata pelajaran lain atau menjadi pijakan bagi materi ajar yang lain.

Walhasil, semakin tinggi jenjang pendidikan, tidak berkorelasi positif dengan pemahaman agama dan akhlak anak didik.
Akhirnya generasi yang dihasilkan oleh negeri ini bukan generasi yang berkualitas yang mempunyai kepribadian Islam yang berakhlaqul Karimah.
Tetapi generasi yang dihasilkan adalah generasi cemen dan alay yang banyak membuat angka kriminalitas tiap tahun meningkat. Yang lebih mengedepankan sikap Hedonis dengan mengadopsi Gaya hidup bebas. Kemudian pada akhirnya menjadikan remaja dengan bebas pula mengekspresikan keinginan dan kecenderungan seksualnya tidak berdasarkan perintah Allah dan Rasulnya. Belum lagi rangsangan seksual yang ditayangkan melalui televisi,buku bacaan dan internet yang dapat diakses dengan mudah oleh remaja.
Hal inimenjadikan remaja tanpa malu dan tanpa ragu melampiaskan hasrat seksualnya kepada siapapun yang dia inginkan. Terlebih lagi minimnya pondasi agama didalam pendidikan keluarga semakin mudah remaja terjerumus kedalam perbuatan maksiat. Ditambah lagi kurang tegasnya sikap penguasa negeri ini terhadap peredaran minuman keras ditengah-tengah masyarakat secara bebas.
Banyak para ahli kejiwaan berkomentar bahwa minuman keras dapat menghilangkan kesadaran peminumnya layaknya orang kerasukan syaitan. Dari kehilangan kesadaran akhirnya berdampak pada kerusakan akal sehat yang menyebabkan sulitnya pengendalian perilaku sehingga tidak segan akan melakukan tindak kejahatan. Sanksi terhadap pelaku kejahatan sangat dipastikan tidak menimbulkan efek jera bagi pelakunya. Ditambah lagi, banyak celah terjadinya kejahatan justru dibiarkan dan dibebaskan,.
Dalam pandangan Islam, menyelesaikan masalah masyarakat tidak sekedar menyelesaikan individunya saja, namun juga menyelesaikan dan memperbaiki pemikiran, perasaan dan aturan yang diberlakukan.Islam satu-satunya standar kebenaran dan kebaikan. Pembinaan aqidah Islam dalam keluarga, pendidikan formal berbasis Aqidah Islam dalam seluruh jenjang sekolah, menerapkan interaksi di tengah masyarakat dengan aturan sosial berdasarkan syariat Islam, penerapan sanksi pelaku kriminalitas dengan sanksi Islam yang dipastikan akan memberi efek jera.

Kejahatan yang terjadi pada Yuyun dapat dikenai sanksi : hukuman jilid karena penculikan, rajam karena pemerkosaan, sekaligus qishas karena pembunuhan.Selain itu, Islam akan menutup semua celah kejahatan dengan melarang secara tegas peredaran miras, melarang produksinya, pengedarannya, penjualnya, pembelinya, peminumnya dari hulu hingga hilir.  Pelakunya akan dihukum melalui ijtihad hakim pengadilan Islam.

Razia dan patroli akan dilakukan  Negara untuk menghentikan pengedaranya.  Melarang produk-produk pornografi beredar luas di masyarakat, karena pornografi bisa merusak akal sehat, serta pelarangan khalwat dan zina karena keharamannya.Walhasil, penerapan Syariat Islam dalam seluruh aspek  menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak satupun aturan yang sempurna selain Islam dalam menyelesaikan permasalahan.

Tentu saja aturan ini harus diterapkan secara integral-menyeluruh oleh negara, dan tidak ada yang dapat menjamin pelaksanaannya kecuali Negara dengan Konsep Pemerintahan Khilafah Islamiyah yang mengikuti metode kenabian yang akan mewujudkan Islam Rahmatan LilAlamin yang mampu menjaga akal.(*)
Penulis: Indah Lestari (Aktivis MHTI Penajam Paser Utara)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website