Pendidikan Indonesia mau Kemana ?

Dunia pendidikan dengan tujuan mulianya mencerdaskan kehidupan Bangsa tak pernah henti melakukan perombakan untuk memperbaiki kualitas sistemnya walaupun polemik pendidikan tidak pernah kunjung padam pada kenyataannya.

Tanggal, 2 Mei, yang merupakan hari pendidikan nasional atau biasa disingkat Hardiknas merupakan hari yang ditetapkan oleh pemerintah sejak dikukuhkan pada tahun 1959 untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.
Ki Hadjar Dewantara adalah Pahlawan Nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia.
Melalui akun Twitter-nya, Presiden Joko Widodo menyampaikan harapannya agar pendidikan bangsa Indonesia bisa terus membuat generasi masa depan menjadi lebih baik.
Martinah
"Pendidikan bukan hanya menjadikan manusia Indonesia cerdas dan pintar, tapi upaya memanusiakan manusia," kata Jokowi.
Bertepatan dengan Hardiknas ini, selayaknya pada moment ini dapat dijadikan ajang untuk berbenah diri dalam masalah pendidikan. Karena Kondisi pendidikan saatini cukup caruk marut.
Setiapkali kebijakan pendidikan dipengaruhi oleh politik. Setiap ada pergantian kabinet, mengakibatkan kebijakan pendidikan berubah arah. Sistem Pendidikan bukanlah sebuah permainan yang bisa begitu saja berubah haluan. Ia merupakan unsur pemain penting dalam kemajuan bangsa. Bila hal ini terus terjadi, akan berakibat fatal bagi pembangunan bangsa.
Contoh kecilnya ialah masalah kurikulum. Menurut Ditjen, Dikti, Kemendikbut, pergantian kurikulum di Indonesia sudah dilakukan sebanyak 11 kali.
Dan melaksanakan perpindahan kurikulum itu bukanlah hal yang mudah juga pasti membutuhkan dana. Misal,kasus yang terjadi saat memberlakukan kurikulum 2013, malah justru menuai kekisruhan di dunia pendidikan. Akhirnya, Menteri Pendidikan Anies Rasyid Baswedan, menghentikan sementara kurikulum 2013 dan kembali kekurikulum 2006. Kacaubukan ?
Cita-cita bangsa Indonesia untuk menciptakan pendidikan yang maju pun ada bahkan ini termasuk dalam undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 memuat tujuan pendidikan nasional.
Namun, rumusan ini seolah menggantang asap dalam system demokrasi-kapitalis. Pasalnya system ini berporos pada sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan. Jadi, sangat wajar jika tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan potensi agar terbentuk individu yang bertakwa dan berakhlak mulia bagaikan mencicang air.
Jika kita mau sekilas menengok fakta tentang kenakalan pelajar dan korupsi para intelektual  yang semakin lama semakin membludak. Kita akan dapati, menurut data KPK ada 10 profesor dan ada 200 dokter terjebak korupsi. Inilah fakta hasil pendidikan yang justru menghasilkan sumber daya manusia yang hanya menghamba pada kepentingan kapitalis, tidak mampu memberikan manfaat pada masyarakat dan menjauhkan dari penghambaan kepada Tuhannya.(*)
Penulis: Martinah (mahasiswi)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website