Salah Menerapkan Sistem Indonesia Darurat Kekerasan Seksual Anak

Akhir-akhir ini sejak peristiwa mengenaskan yaitu Yuyun yang tewas lantaran diperkosa dan dibunuh muncul berbagai berita serupa. Kasus kejahatan pemerkosaan dan pembunuhan begitu ramai diperbincangkan terutama di media sosial. Ibarat gunung es kasus Yuyun adalah puncaknya yang kemudian membeberkan kasus yang sama. (Mungkin) jika kasus Yuyun tidak di blow up oleh media maka kasus yang lain juga tertutupi.

Selain Yuyun yang menuai perhatian masyarakat hingga timbul hastag #NyalaUntukYuyun, ada kasus serupa seperti seorang balita LN (2,5) bernasib sama pasalnya ia perkosa dan dibunuh pada 8 Mei lalu di Kampung Pabuarantonggoh Kebupaten Bogor, seorang siswi SD (10) di Kecamatan Jepara, Lampung Timur diperkosan dan dibunuh, di Surabaya siswi SMP kelas 7 dicabuli oleh 8 anak-anak dari kelas 3 SD hingga kelas 9 SMP.
Dewi Murni
Indonesia sebelumnya sudah memiliki peraturan terkait perlindungan anak dan perempuan selain itu dalam pancasila memuat “Kemanusian yang Adil dan Beradab” namun sayangnya ditengah kemajuan zaman yang kian canggih hal yang dijunjung tinggi tersebut hanyalah hitam di atas putih. Beradabnya manusia menjadi hal yang tabu sementara biadabnya manusia sudah menjadi biasa.  Di sisi lain peraturan yang ada cenderung tidak tegas menindak kasus kejahatan dengan membawa dalil hak asasi manusia. Hasilnya pelaku hanya dihukum penjara beberapa tahun. Jelas hukuman tersebut tidak akan membuat jera dan tidak adil untuk korban yang jauh lebih berat merasakan penderitaan.
Bukan untuk masalah ini saja setiap kali ada kasus kriminal sering kali masyarakat atau para penguasa fokus pada penyelesaian individu. Seolah dengan memberikan hukuman atau himbauan kepada keluarga untuk mengawasai anak-anak sudah cukup menghentikan secara tuntas. Padahal kasus seperti ini adalah kasus yang bersifat sistemik.
Banyak hal yang berperan dalam kejadian yang memilukan ini. Mulai dari individu, keluarga, masyarakat, dan negara. Individu-individu saat ini condong berperilaku sekuler, materialistik, dan liberal. Mereka lahir dari pendidikan yang sekuler pula, sebagai contoh bagaimana generasi kita merayakan kelulusan dengan tindakan yang tidak bermoral. Seperti coret-coret, merobek rok hingga paha, memamerkan (maaf) bokongnya, anak laki-laki berpenampilan seperti perempuan dan lainnya. Justru kini kian parah sebab bukan hanya dilakukan oleh siswa tingkat SLTA saja melainkan tingkat SMP pun juga demikian. Itulah potret generasi kita yang kering sekali penanaman akidah islam. Mereka senantiasa melakukan apa saja yang sesuai dengan hawanafsu mereka. Karena keringnya iman mereka menghalalkan segala cara agar kebutuhan dan nalurinya terpenuhi. Bisa dengan mencuri, memperkosa, hingga membunuh.
Kemudian kondisi masyarakat kita yang cenderung tidak perduli. Menganggap bahwa biarlah orang lain yang berbuat keji sementara dirinya dan keluarganya tidak. Padahal membiarkan terus menerus orang lain berbuat kesalahan justru semakin membuka kehancuran bagi diri kita sendiri sehebat apapun penjagaan kita. Pemahaman sekuler dan liberal juga menjamur di tengah-tengah masyarakat. Orang dewasa ataupun anak-anak berpakaian minim dan serba terbuka dipandang biasa, tersebarnya berbagai video porno hingga kini sedikit yang memperdulikannya, dan maraknya pergaulan bebas seperti menjadi budaya dikalangan generasi.
Begitupula dengan kondisi negara. Upaya pencegahan dan hukuman tidak serius menyelesaikan masalah. Tidak ada bedanya dengan kondisi individu dan masyarakat yang sekuler dan liberal. Pendidikan, media, kontrol sosial, keamanan, ekonomi dan budaya adalah hal yang berada dibawah pengurusan negara. Namun negara lalai menjaga itu semua yang sehari-hari menjadi kawan hidup generasi. Negara bertindak sekuler terhadap hal-hal di atas. Misalnya memisahkan pendidikan agama dengan pendidikan dunia, terbukanya media akan ponografi dan pornoaksi yang dengan gampang sekali diakses berbagai kalangan.
Sementara situs porno adalah salah satu hal yang merangsang naluri seksual seseorang.  Ada pengakuan dari pelaku pencabulan pada seorang siswi di Surabaya bahwa ia belajar dari warnet (warung internet) ketika ditanya oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Padahal Indonesia banyak memiliki orang-orang cerdas yang mampu menghapus situs porno seperti dahulu ada rakyat Indonesia yang mampu membuat pesawat, mobil ESEMKA, dan televisi. Akan tetapi negara tidak memberikan perhatian lebih kepada mereka.
Jaminan akan keamananpun diserahkan kepada individu yang kekuatannya tidak sebesar negara. Ditengah derasnya arus globasasi negara tidak memberikan benteng terhadap budaya rusak. Tidak ada hukuman bagi yang berikhtilat (berdua-duaan), berpacaran, dan berzina. Dengan demikian rangsangan tersebut selalu mengundang bangkitnya naluri seksual yang kini terlampiaskan dengan zina, pemerkosaan, dan pembunuhan. Karena sistem sekuler dan liberal yang dianut negara menciptakan lingkungan serba sekuler dan liberal pula.
Oleh karena itu selama kondisinya masih menerapkan sistem sekuler maka kasus yang demikian tidak akan berakhir. Sebab sistem itulah akar dari masalah kekerasan seksual anak. Maka hendaklah seluruh lapisan masyarakat mengubah sistem buatan manusia tersebut dengan sistem buatan sang pencipta yaitu sistem islam. Sejak ratusan tahun lalu islam telah menetapkan jaminan kehidupan dan keamanan bagi anak-anak dan perempuan. Islam tidak memisahkan kehidupan agama dan dunia (sekuler) dan setiap sisi kehidupan selalu dihadirkan nilai-nilai iman.
Saat ada yang melakukan pemerkosaan dan pembunuhan maka hukumannya sangat tegas yakni qhisas atau membayar diyat. Pembunuhan dibalas bunuh. Zina dihukum cambuk 100 kali bagi yang belum menikah dan dirajam yang sudah menikah. Bahkan saat eksekusi hukuman tersebut disaksikan oleh masyarakat agar tergambar betapa kejinya perbuatan tersebut. Disamping ada hukuman islam juga melakukan upaya pencegahan seperti aturan menutup aurat, larangan ikhtilat dan zina, memisahkan kehidupan wanita dan laki-laki, jaminan keamanan dan ekonomi, kemudahan menikah, sistem pendidikan (berkualitas dan murah) berbasis akidah islam, mengawasi dan mengotrol media dari situs porno, dan sanksi tegas bagi pelakunya. Semua itu bukan hanya untuk kaum muslimin saja tetapi untuk warga non muslim juga.
Perlu kita ingat untuk meraih kehidupan yang aman dan sejahterah tidak dapat dengan mengambil aturan islam dari hal yang bersifat teknis saja. Akan tetapi harus mengambil aturan islam secara total dan menerapkannya dalam kehidupan negara.(*)
Penulis: Dewi Murni (Muslimah HTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website