Tidak Cukup Dengan UU Anti Kekerasan Seksual

Publik kembali dikejutkan dengan pemberitaan media beberapa hari belakangan ini, betapa tidak berita yang diawali melalui medsos yang memberitakan tentang kekerasan seksual hingga menyebabkan kematian, yang terjadi pada yuyun, sehingga menimbulkan keprihatinan yang sangat mendalam.  
Beramai-ramai netizen menggalang dukungan #saya bersama yuyun, sehingga mengangkat berita tersebut kelayar kaca yang membuat masyarakat sontak terkejut dengan pemberitaan tersebut. Seorang bocah perempuan berasal dari Bengkulu menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan keji, pelakunya terdiri dari 14 orang dan beberapa diantaranya masih dibawah umur. Baru beberapa waktu yang lalu hakim memutuskan hukuman 10 tahun penjara dan ditambah 6  bulan melakukan pekerjaan social.

Ilustrasi
Belum lagi reda kasus pemerkosaan dan kekerasan yang menimpa yuyun, mencuat berita yang lain yang serupa, seorang anak batita yang mengalami kekerasan seksual hingga mengakibatkan kematian yang terjadi pada Laela Nurhidayah, bocah berusia 2,2 tahun yang mana mayat korban ditemukan dibelakang rumah tetangga pada senin malam, pelaku Budiansyah (26) tahun mengaku memperkosa sebelumnya akhirnya membunuh bocah malang tersebut. Sebelumnya juga ada kasus angeline yang terjadi di bali, kekerasan yang bermunculan dimedia-media menunjukan betapa lemahnya pegawasan orang tua, masyarakat dan Negara sehingga banyak kasus pemerkosaan dan tindak kekerasan yang korban serta pelakunya rata- rata masih dibawa umur.
Kompas (29/7/2015) menyebutkan bahwa dari hasil olah data Komnas Perlindungan Anak, Kemendikbud, kasus kekerasan anak cenderung meningkat setiap tahunnya dan jumlah kekerasan yang terjadi di lapangan tentu jauh lebih tinggi dari data yang Komnas PA terima (CNN Indonesia, 5/7/2015).
Penyebab kekerasan terhadap anak berasal dari factor luar atau social yaitu kemiskinan, masalah keluarga, ,masalah social, gangguan jiwa pelaku kekerasan, dengan mudahnya mendapatkan minuman beralkohol, mudah mengakses tontonan porno dan berbagai macam hal hal yang mengakibatkan kehilangan akal dan rendahnya pengetahuan pelaku kekerasan akan efek tindakannya.
Pro dan kontra pun terjadi dimasyarakat mengenai hukuman yang sebanding dengan pelaku perbuatan pemerkosaan dan tindak kekerasan. Sebagian beranggapan agar dihukum seumur hidup, ada pula yang masih mempertimbangkan karena pelaku masih dibawah umur yang mana belum ada peraturan yang jelas tentang sanksi yang diberikan, sementara pengadilakan Bengkulu memutuskan pelaku tindak kekerasan dan pemerkosaan terhadap yuyun dihukum 10 tahun masa kurungan karena masih dibawah umur.
Dari pemerintah sendiri masih mempertimbangkan wacana sanksi kebiri kimiawi, yang mana sanksi tersebut sudah banyak diterapkan dibeberapa Negara sepert di California sejak tahun 1996, florida 1997, Polandia 2010, Maldova 2012 serta beberapa Negara bagian eropa. Hasilnya tingkat kekerasan menurun drastic dan tindak criminal kekerasan anak pun berkurang.
Kekerasan pada anak muncul akibat penerapan system hidup sekuler. Pelaku kekerasan, termasuk kekerasan seksual yang mayoritasnya orang terdekat korban, keluarga atau tetangganya menggambarkan keadaan masyarakat yang tidak sehat. Selain keluarga, lingkungan dan Negara juga abai memberikan jaminan keamanan pada anak.
Dengan kemajuan teknologi saat ini yang terus berkembang sehingga mempermudah mengakses berbagai macam informasi yang dibutuhkan. Situs-situs porno yang dapat diakses dengan mudah, berbagai macam tontonan yang meningkatkan syahwat, pergaulan remaja yang bebas tanpa pengawasan dan tidak terikat dengan syariat islam menjadikan semuanya menjadi pintu gerbang terjadinya kekerasan. Selain itu beredarnya narkoba, minuman beralkohol yang bisa didapatkan dengan mudah pun menjadi pemicu tindak kekerasan karena hal tersebut menghilangkan akal dan kesadaran, dimana bila dikonsumsi secara berlebihan dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit.
Berbeda dengan system kapitalis, islam yang menjadikan aqidah sebagai asas, dan Al-quran sebagai pijakan, menerapkan aturan islam secara utuh dalam rangka mengatur seluruh urusan umat, sehingga mendapatkan jaminan keamanan dan kesejahtraan secara adil dan menyeluruh. Sehubungan dengan kerusakan akal yang yang terjadi karena mengkonsumsi narkoba, miras, konten porno dan hal yang merusak akal dalam islam hal tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga saja, tetapi masyarakat dan Negara memiliki andil yang besar untuk mewujudkan kondisi lingkungan yang berkualitas dan mencetak generasi yang berkualitas pula.
Seorang khilafah mencegah rakyatnya dari berbagai hal yang dapat merusak akal seperti narkoba, miras, konten porno yaitu dengan mengharamkan segala sesuatu yang telah diharamkan dalam ajaran islam. Menjaga aturan dan norma dalam islam salah satunya memahamkan batas- batas dalam pergaulan antara laki laki dan perempuan, pada saat yang sama mewajibkan kaum muslimin belajar menuntut ilmu, berpikir dan menggali hokum islam, yang kesemuanya bisa meningkatkan intelektual manusia. Sehingga pada saat terjaga akal maka tidak aka nada tindak kekerasan yang timbul dikarenakan kesadaran dan ketaatan akan aturan islam yang pada akhirnya akan mewujudkan islam rahmatan lil’alamin.(*)
Penulis: Wrada

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website