Kota Islami ?

Dirilisnya Indeks Kota Islami (IKI) oleh Maarif Institute ,pada tanggal 17 Mei 2016 menghasilakan bahwa, tiga kota paling Islami adalah : Denpasar, Yogyakarta, dan Bandung. Hasil penelitian yang dilakukan sejak tanggal 8 Januari hingga 31 Maret 2016 ini mengikutsertakan 29 sempel kota di Indonesia. Dari 29 kota tersebut, Denpasar, Yogyakarta dan Bandung mendapatkan nilai yang sama yaitu 80,64. Sementara itu, kota Padang dan Makasar berada di posisi terakhir dengan skor 51,28 dan 58,37. Ditetapkannya Denpasar sebagai kota paling Islami tentu menuai pro dan kontra ditengah masyarakat. Diketahui, Denpasar adalah kota yang bermayoritas non muslim, yang berbalik dengan Padang dan Makasar.

            Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais, menerangkan bahwa tolak ukur kota Islami ini adalah aman, sejahtera, dan bahagia. Riset seperti ini bukan pertama kali. Ternyata sudah banyak riset yang menggunakan 3 tolak ukur tersebut, seperti yang dilakukan LSM didalam negeri hingga luar negeri. Hossein Askari, Guru besar Universitas George Washington,AS, merilis bahwa negara paling Islami di dunia adalah Irlandia. Dan peringkat 25 besar tersebut bukanlah negara yang bermayoritas Islam. Dari hasil penelitian-penelitian ini penyesatan pada masyarakat terjadi,dimana masyarakat dibuat tak mengerti seperti apakah idealnya kota atau negara dapat dikatakan islami.
            Diterapkannya syariat islam diwilayahnya dan menyebarkan islam keseluruh dunia, adalah salah satu syarat negara tersebut dapat dikatakan Islami atau lebih tepatnya Darul Islam. Di dalam darul Islam bukan hanya penduduknya beragama Islam, tetapi segala sistem peraturan didalamnya juga akan berlandaskan islam. Yang semua aturan itu diambil dari Al Quran dan As sunah. Dan tentunya buah dari penerapan aturan islam di segala aspek kehidupan masyarakatnya adalah aman,sejahtera dan bahagia. Berbeda dengan negara atau kota yang tidak menerpakan aturan islam (Darul kufur)  di wilayahnya tentu akan menimbulkan banyak masalah, ketidak amanan, kerusakan, kehanuran dan lain sebagainya. Itu semua bisa terjadi karna aturan yang diterapkan berdasarkan akal manusia yang lemah dan terbatas.(*)
Penulis: Puspita Octaviani (Pemerhati Sosial, MHTI PPU)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website