Miras induk semua kejahatan


Mengapa miras selalu mendapatkan tempat di hati penggemarnya meski terbukti banyak menimbulkan dampak negatif di bidang sosial, psikologi, maupun kesehatan? Lalu, bagaimana dengan miras yang memiliki kandungan alkohol rendah atau kurang dari 5 persen v/v sebagaimana yang banyak dijual bebas, apakah tidak berbahaya?

Kandungan alkohol dalam miras memberikan efek farmakologi yang mendepresi pusat hambatan di sistem saraf pusat sehingga menimbulkan efek stimulasi. Para peminumnya akan merasakan kepercayaan diri yang meningkat, lebih bertenaga, dan lebih bersemangat. Fakta itu pada gilirannya menimbulkan perasaan nikmat bagi yang meminumnya, selain keberadaan alkohol yang menimbulkan rasa ketergantungan itu tersendiri. mereka yang pernah coba-coba akhirnya menjadi ketagihan dan sulit meninggalkan. Mereka yang mencoba berhenti akhirnya harus mengalami gejala putus alkohol yang tidak mengenakkan seperti gemetar, mual, lemah, gelisah, dan berkeringat. Gejala-gejala itu barulah akan segera hilang setelah mereka meminumnya lagi. 
Terkait dengan pemahaman masyarakat bahwa miras dengan kandungan alkohol kurang dari 5 persen itu tidak berbahaya, itu tidak benar. Coba disimak! Dengan asumsi 1 gelas setara dengan 220 ml, 1 gelas miras berarti mengandung 11 ml alkohol. Jumlah itu sebenarnya sama dengan miras berkadar alkohol 10 persen v/v sebanyak setengah gelas. Yang perlu diperhatikan di sini bukan sekadar konsentrasi alkoholnya, tetapi juga jumlah volume yang diminum. Walaupun konsentrasinya kecil, jika minumnya banyak, dampaknya akan sama saja dengan miras berakohol tinggi dalam jumlah kecil. 
Lalu, bagaimana kalau minum miras dengan konsentrasi rendah dalam jumlah sedikit? Ya, perlu diketahui bahwa alkohol memiliki efek toleransi. Bila pada awalnya dengan satu gelas sudah dapat menimbulkan efek farmakologis, jumlah satu gelas itu tidak akan menjadi terasa cukup lagi setelah efek toleransi muncul. Itulah yang akan mendorong orang yang sudah mencicipi alkohol untuk minum lebih banyak lagi. Pecandunya seperti kian “haus” alkohol.Selain efek farmakologis yang tampaknya “nikmat” bagi yang mengonsumsi, sesungguhnya ujung dari minuman itu adalah bahaya bagi kesehatan. Pertama, alkohol mengakibatkan gangguan konsentrasi dan menghilangkan sikap mawas diri. Karena itulah, muncul larangan mengemudi setelah minum alkohol. 
Kedua, terdapat efek samping yang muncul, yaitu berkurangnya kualitas tidur dan terjadi rangsangan terhadap sekresi asam lambung. Ketiga, bagi ibu-ibu yang sedang hamil, alkohol bisa menimbulkan efek teratogenik yang dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan cacat (IQ rendah, mikrosefali, dan pertumbuhan lambat). Keempat, alkohol dapat mengakibatkan kerusakan hati. Istilah klinisnya adalah perlemakan hati (fatty liver). Alkohol yang dapat mengakibatkan triasilgliserol itu berakumulasi di hati. Perlemakan hati yang ekstensif dapat dianggap sebagai suatu keadaan patologik. Jika akumulasi lipid di hati berlangsung kronis, sel hati akan mengalami fibrosis yang kemudian dapat berlanjut menjadi gangguan faal hati dan bahkan sirosis. Apa itu sirosis? Kalau orang tua kita dulu pernah cerita tentang santet, gejala sirosis sebenarnya mirip dengan orang yang kena santet. Perut membesar, muntah darah, dan buang air besar (BAB)-nya seperti lumpur. Kalau sampai terjadi seperti itu, penanganan secara klinis sudah sulit sekali untuk dilakukan.
Kelima, alkohol dapat menghambat metabolisme beberapa obat. Misalnya, barbiturat dan obat-obat lain yang bersaing untuk enzim yang bergantung pada sitokrom P450. Hal itulah yang menjelaskan mengapa ketika alkohol diminum bersama dengan obat atau bahan yang lain (miras oplosan) sering mengakibatkan keracunan. Jelas, korban miras oplosan tidak hanya berada di perkotaan, tetapi sudah merambah ke daerah dan pedesaan. Untuk itu, layak kalau daerah diberi keleluasaan memeranginya lewat perda. Apalagi, yang sangat memprihatinkan ialah sebagian besar korban miras adalah para pemuda harapan bangsa. Yang lebih menyedihkan lagi, yang biasanya dijadikan tersangka adalah penyedia miras oplosan. Tapi, pabrik miras dan distributornya malah dilindungi hukum. Ironis, bukan? 
          Perpres  memberi walikota/bupati membuat peraturan dengan mempertimbangkan karakteristik daerah dan budaya lokal. Artinya, Perda Miras tingkat Kota/Kabupaten yang melarang total miras mestinya dibenarkan dan tidak dicabut. Namun nyatanya, Perda Miras Kota Banjarmasin juga diinstruksikan untuk dicabut.Itu artinya, boleh jadi memang benar ada instruksi pencabutan Perda-perda miras baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Andai tidak ada reaksi luas dari masyarakat, termasuk dari Pemda, Perda-perda miras itu akan amblas semua.
Jika alasannya Perda Miras menghambat investasi, maka investasi yang melibatkan miras merupakan investasi berbahaya. Hasil yang didapatkan tidak akan sebanding dengan besarnya bahaya yang harus ditanggung oleh masyarakat, misalnya mereka yang menjadi korban kejahatan yang dipicu oleh miras seperti dalam banyak kasus kekerasan seksual, pembunuhan, penyiksaan yang banyak terjadi selama ini. Investasi yang melibatkan miras juga tak sebanding dengan risiko finansial, sosial dan moral yang harus ditanggung oleh Pemerintah dan masyarakat secara luas. Jika alasannya demi pariwisata, maka itu hanya menunjukkan kemalasan berpikir mencari inovasi dan terobosan.
Pelonggaran peredaran miras, apapun alasannya, sama saja dengan bunuh diri, mengundang datangnya bahaya besar bagi masyarakat. Fakta-fakta yang ada jelas membuktikan bahwa miras menjadi sumber berbagai kejahatan dan kerusakan seperti kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, kecelakaan, dan kejahatan lain yang nyata-nyata terjadi akibat pelakunya dalam pengaruh minuman keras.
Rasul saw telah jauh-jauh hari mengingatkan:
«الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ وَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِىَ فِى بَطْنِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
“Khamr itu adalah induk keburukan. Siapa saja yang meminumnya, Allah tidak menerima shalatnya 40 hari. Jika ia mati dan khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dengan kematian jahiliyah.” (HR ath-Thabrani, ad-Daraquthni, al-Qadhaiy)
Miras Harus Dibabat Total
Pelonggaran peredaran miras jelas menyalahi syariah. Islam tegas mengharamkan miras dan memerintahkan untuk dijauhi agar beruntung. Allah SWT berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (TQS al-Maidah [5]: 90).
Rasul saw. menjelaskan bahwa semua minuman (cairan) yang memabukkan merupakan khamar dan haram, baik sedikit maupun banyak.
«كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ»
“Semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram” (HR Muslim).
«مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ، فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ»
“Apa saja (minuman/cairan) yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya adalah haram” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan).
Khamar harus dibabat total dari masyarakat. Hal itu bisa dipahami dari laknat terhadap 10 pihak terkait khamar. Anas bin Malik ra. menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:
«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ r فِي الخَمْرِ عَشَرَةً: عَاصِرَهَا، وَمُعْتَصِرَهَا، وَشَارِبَهَا، وَحَامِلَهَا، وَالمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ، وَسَاقِيَهَا، وَبَائِعَهَا، وَآكِلَ ثَمَنِهَا، وَالمُشْتَرِي لَهَا، وَالمُشْتَرَاةُ لَهُ»
“Rasulullah saw. telah melaknat dalam hal khamar sepuluh pihak: yang memerasnya, yang minta diperaskan, yang meminumnya, yang membawanya, yang minta dibawakan, yang menuangkan, yang menjualnya, yang memakan harganya, yang membeli dan yang minta dibelikan” (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).
Hadis ini sekaligus juga menunjukkan bahwa kesepuluh pihak itu berarti telah melakukan tindak kriminal dan layak dijatuhi sanksi sesuai dengan ketentuan syariah. Untuk orang yang minum khamar, sedikit atau banyak, jika terbukti di pengadilan, sanksinya adalah hukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Anas ra. menuturkan:
«كان النبي r يَضْرِبُ فِي الخَمْرِ باِلجَرِيْدِ وَالنَّعَالِ أَرْبَعِيْنَ»
“Nabi Muhammad saw.pernah mencambuk orang yang minum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak 40 kali.” (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud).
Ali bin Abi Thalib ra menuturkan:
«جَلَّدَ رَسُوْلُ اللّهِ أَرْبَعِيْنَ، وَأبُو بَكْرٍ أَرْبَعِيْنَ، وعُمَرُ ثَمَانِيْنَ، وَكُلٌّ سُنَّةٌ، وهَذَا أحَبُّ إِليَّ»
“Rasulullah saw. pernah mencambuk (peminum khamar) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah yang lebih aku sukai.” (HR Muslim).
Untuk pihak selain yang meminum khamr, maka sanksinya berupa sanksi ta’zir. Bentuk dan kadar sanksi itu diserahkan kepada Khalifah atau qadhi, sesuai degan ketentuan syariah. Tentu sanksi itu harus memberikan efek jera. Produsen dan pengedar khamar selayaknya dijatuhi sanksi yang lebih keras dari orang yang meminum khamar sebab bahayanya lebih besar dan luas bagi masyarakat.
Dengan syariah seperti itu, masyarakat akan bisa diselamatkan dari ancaman yang timbul akibat khamar atau miras.
Namun, semua itu hanya akan terwujud jika syariah diterapkan secara menyeluruh dalam sistem Khilafah Rasyidah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi saw. dan dilanjutkan oleh para Sahabat dan generasi kaum Muslim dulu. WalLâh alam bi ash-shawâb. (*)
Penulis: Nur Junaidah (Aktivis MHTI, Balikpapan Utara)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website