Potret Buram Keluarga Muslim di Zaman Kapitalisme

Rumahku Surgaku itulah ungkapan yang selalu menjadi impian dan idaman setiap insan dalam membangun rumah tangga atau keluarga kecil. Itu tercermin setiap awal babak masuk wilayah pelaminan, selalu dibangkitkan dengan naluri beragama. Masuk jenjang membangun rumah tangga diasaskan pada sakralisasi agama. Islam diakui dengan seyakin-yakinnya.
Namun usia pengakuan itu hanya seumur bunga sedap malam yang menghiasinya. Layu bunga itu, maka layu juga naluri beragamanya. Kapitalisme yang lahir dari faham Sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) telah menempatkan agama hanya sebagai aturan dalam ibadah ritual semata termasuk dalam pernikahan yang hanya mengatur pada saat prosesi sakralnya semata. Sementara berbagai interaksi antar sesama manusia dalam kehidupan diatur oleh manusia itu sendiri.
Ilustrasi
Pada akhirnya menciptakan masyarakat yang berpandangan sekuler, tiada keteladanan, untuk menghiasi rumah tangganya dengan amal sholeh. Seperti terungkapnya kasus yang belum lama ini terjadi didaerah Jakarta yaitu kasus penangkapan pasutri (pasangan suami istri) yang mempertontonkan adegan seks secara langsung kepada pelanggan yang membayarnya. Cukup dengan membayar Rp. 800.000 pelanggan bisa menikmati secara langsung adegan hubungan intim, bahkan sang suami rela menjajakan istrinya apabila si pelanggan ingin langsung “memakai” si istri..
Mungkin selama ini kita beranggapan bahwa kejadian seperti kasus diatas hanya terjadi di luar negeri tidak mungkin terjadi di negeri kita Indonesia, yang konon katanya masayarakatnya masih menganut adat ketimuran dengan budaya malu. Tapi toh kenyataannya hal yang terjadi diluar negeri sudah melanda negeri ini. Sungguh tragis sekali. Dan ini bisa saja menjadi tamparan bagi kita yang mayoritas masyarakatnya Muslim.
            Jika ditelaah lagi dengan kasus tersebut diatas. Kenapa sampai ada sebuah keluarga muslim yang tega melakukan demikian. Harusnya keluarga muslim dapat menjadi teladan yang baik bagi agama diluar Islam. Bukan malah memalukan agamanya sendiri (Islam). Apa yang menjadi penyebab mendasar hingga keluarga muslim menjadi begitu hina dihadapan agama diluar Islam??  Ibarat dokter ketika mencari akar penyebab sakit parah pasiennya.
Maka ketika kita ingin benar-benar menyembuhkan secara total perlu dicari akar munculnya penyakit. Sama demikian halnya dengan kasus pasutri diatas, untuk menuntaskan permasalahannya mari kita telaah terlebih dahulu apa akar munculnya sehingga pasutri itu bisa berbuat hal demikian. Pasutri yang tertangkap itu mengaku katanya mereka melakukan itu atas dasar ekonomi yang serba kekurangan. Si suami baru saja di PHK dan si Istri yang bekerja tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dari hasil jerih payahnya. Akhirnya si suami menyarankan kepada istri untuk melakukan hal keji tersebut guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.
Padahal kalau dilihat kembali kedua pasutri itu juga memiliki pendidikan yang tinggi hingga ke jenjang Universitas. Keduanya adalah lulusan Sarjana. Harusnya dengan pendidikan yang telah mereka tempuh mempunyai andil didalam pola pikir mereka ketika menghadapi permasalahan ekonomi. Ini mencerminkan bahwa pendidikan tinggi seseorang di zaman kapitalis sekarang bukanlah jaminan seseorang bisa menyelesaikan masalahnya dengan cara yang halal dan diridhoi Islam. Dalam masyarakat kapitalisme saat ini orientasi keluarga hanya untuk materi,tanpa memperdulikan lagi halal dan haram. Seorang kepala rumah tangga di zaman kapitalisme sekarang, tidak mendorong istri dan anak-anaknya berbuat amal soleh. Tapi turut pula menciptakan budaya materialis ditengah keluarga. Semua kebutuhan yang bersifat materi segera dipenuhi.
Namun ibadah dan amal soleh banyak ditinggalkan. Akhirnya keluarga muslim menjadi krisis identitas rumah tangga muslim sejati, Materi diangggap hal terpenting bagi keluarga muslim saat ini. .Karena dengan materi, seseorang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Hal ini menyebabkan seseorang terdorong melakukan sesuatu jika mendatangkan manfaat secara materi. Setiap individu diberikan kebebasan sebesar-besarnya untuk mengumpulkan materi, tanpa batasan halal dan haram.
Sistem kehidupan kapitalis memandang bahwa kehidupan dunia adalah hak penuh manusia untuk mengaturnya. Sehingga muncullah motto ditengah-tengah masyarakat bahwa “Hidup didunia hanya sekali, maka nikmatilah”. Tak heran jika keluarga muslim saat ini berlomba-lomba mengejar dunia untuk mencukupi kesenangan duniawi semata.
Akhirnya ukuran kebahagian dan kesuksesan keluarga muslim di zaman kapitalis sekarang ditentukan oleh terpenuhinya semua kebutuhan hidup yang bersifat materi. Sebuah rumah tangga dianggap bahagia jika secara materi berkecukupan dan berlebih, yang menjadikan penghuninya bisa memenuhi semua kebutuhan yang diinginkan.
Dengan demikian kebahagian dan kesuksesan hanya menjadi milik orang-orang kaya semata. Gaya hidup materialis akan mengikis identitas rumah tangga muslim. Rumah tangga muslim yang telah terwarnai oleh budaya materialis akan menjadi kering dan hampa dari nilai ruhiyyah. Rumah tangga muslim yang kering dari nilai ruhiyyah menyebabkan penghuninya tidak saling menasehati untuk taat kepada hukum-hukum Allah.
Hubungan dalam keluarga tidak lagi saling menjaga agar terhindar dari siksa api neraka. Hal ini disebabkan oleh karena para penghuninya memiliki aqidah Islam yang lemah dan tidak adanya gambaran tentang kenikmatan syurga dan pedihnya azab neraka didalam benak penghuninya. Jadi penyebab mendasar keluarga muslim menjadi hina adalah peradaban global yang dianut dunia saat ini yaitu system kapitalis sekuler yang menjadi “hantu” bagi rumah tangga muslim.
Kapitalisme menjauhkan penataan masyarakat dari Islam. Islam hanya dijadikan sebagai tuntunan ritual semata. Kewenangan Islam dikebiri oleh system kapitalis saat ini menjadi pengisi relung-relung hati dan perilaku per individu.Tanpa mewujudkannya dalam pengaturan masyarakat secara umum. Dan system kapitalisme sekarang memberi wewenang kepada manusia untuk menanggalkan Alloh sebagai Zat Pengatur Kehidupan manusia.
            Nah setelah kita mengetahui penyebab mendasar yang menimpa keluarga muslim menjadi krisis identitas kemuslimannya. Maka perlu dicarikan “obat” atau solusinya. Agar hal ini tidak lagi menimpa keluarga muslim yang lain. Solusi Islam agar Keluarga muslim tidak kehilangan identitas rumah tangga muslim adalah sebagai berikut :
1.      Menjadikan Aqidah Islam sebagai asas berumah tangga. Dengan aqidah Islam setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan berumah tangga akan diselesaikan dengan aturan yang lahir dari Aqidah Islam. Perselisihan antar anggota keluarga akan dituntaskan dengan solusi Islam. Keinginan dan kesenangan pribadi akan diselaraskan dengan aturan Allah dan mengikuti kehidupan rumah tangga Rasulullah sebagai tauladan terbaik keluarga muslim.
2.      Melepaskan diri dari jeratan system kapitalis baik dalam keyakinan, pemikiran, perasaan, arah dan tujuan rumah tangga serta melepaskan diri dari aturan dan nilai-nilai kapitalisme yang telah ditanamkan kepada keluarga muslim. Sebab kapitalisme adalah pangkal kebobrokan dan biang kehancuran rumah tangga muslim.
3.      Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan atau kaffah. Karena hanya Islam satu-satunya agama yang dirihoi oleh Allah. Islam tidak hanya sebatas keyakinan, tetapi Islam adalah aturan kehidupan yang dapat memecahkan berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan manusia. Setelah diyakini, kemudian diamalkan dalam segala aspek kehidupan. Baik ketika ini menyangkut kehidupan pribadi (akhlak), atau ketika melakukan interaksi dengan orang lain, maupun ketika berhubungan langsung dengan pencipta, semua memakai aturan Islam. Namun karena saat ini belum ada institusi yang menerapkan aturan Islam secara kaffah. Maka perlu ada solusi lanjutan
4.      Solusi lanjutan adalah mewujudkan generasi pengemban dakwah di jalan Allah SWT. Keluarga muslim sejati bukan hanya sebagai tempat pelampiasan nafsu menjadi halal, tetapi keluarga muslim sejati adalah keluarga muslim yang peduli terhadap urusan Islam. Dalam kacamata Islam kepedulian terhadap Islam dan kaum muslimin diwujudkan dengan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabat Beliau terdahulu.
5.      Senantiasa menumbuhkan sikap menuntut ilmu secara kontinyu didalam setiap anggota keluarga muslim. Karena dengan ilmu seorang muslim menjadi mulia dan terhindar dari kemaksiatan.
6.      Senantiasa menanamkan didalam diri setiap anggota keluarga muslim bahwa cita-cita tertinggi sebuah keluarga muslim adalah tercapainya ridho Allah. Jelaslah keridhoan Allah hanya akan diperoleh seorang muslim ketika Islam sudah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan kata lain, dengan kaitannya terhadap keluarga muslim bahwa cita-cita tertinggi tadi hanya dapat diraih dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam bentuk sebuah Negara adidaya. Yang dalam fiqih hanya dikenal istilah Daulah Khilafah Islamiyah untuk penyebutan sebuah Negara Islam. Apabila Islam diterapkan dalam Naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang mengikuti metode kenabian baru akan terwujud keluarga muslim yang terhormat dan sejahtera. Karena Islam Rahmatan Lil’aalamiin.(*)
Penulis: Wulandari, A.Md (Penulis adalah Ibu Rumah Tangga dan Aktivis MHTI Penajam)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website