Beginilah Cara Kapitalis Menghormati Ramadan

Ramadan menjadi momentum penting bagi umat islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, juga sebagai waktu untuk intropeksi diri dan meraih derajat takwa dan pengampunan. Saat bulan suci inilah sebagian umat islam sibuk dengan banyak aktifitas amalan-amalan sunnah, membaca Al-Qur’an, sholat Terawih, sholat Qiyamul Lail,hadil dimajlis-majlis ilmu dan dauroh. Tetapi ada pula yang memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan/ meraup materi sebanyak-banyaknya.

Bagaimana system kapitalis memandang bulan ramadhan ? yang mana segala sesuatu dikaitkan dengan untung dan rugi menghasilkan materi semata. Disaat ramadhonPresiden Jokowi mengajak umat muslim untuk meningkatkan ketakwaan, tetapi para  kapitalis inilah yang menodai seperti halnya masih buka hiburan malam, bukankah itu sama saja membuka jalan maksiat dibulan suci ramadhon?
Dengan dalih mereka harus membayar tunjangan hari raya bagi para pegawai mereka maka masih tetap dibuka, karena para pekerja adalah karyawan kecil yang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, apalagi menjelang lebaran maka makin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Bahkan dalam menjelang lebaran banyak mall dan tempat penjualan lainnya menawarkan barang dengan harga diskon besar-besaran untuk menarik minat pembeli.
Banyaknya tempat hiburan yang buka, banyaknya diskon dimana mana merupakan salah satu cara kapitalisme meraup untuk yang sebesar-besarnya, mengingat dibulan suci ramadhon ini segala bentuk kebutuhan naik, dari kebutuhan pokok sampai kebutuhan sandang, pangan dan papannya.
Dan yang menjadi pertanyannya adalah apakah disaat umat muslim menjalankan ibadah puasa memang untuk meraih derajat takwa?karena bila kita melihat lebih seksama dibulan puasa ini banyak yang berlomba-lomba memperbaharui rumah, menghias dengan berbagai macam motif horden, aneka macam jenis kue dan makanan yang menggugah selera, diharapkan dengan adanya bulan ramadhan bukan hanya berlomba-lomba memperbaharui fisik saja tetapi memperbaharui keimanan kita menjadi lebih baik tentunya.
Seharusnya pemerintah menciptakan keaadaan yang kondusif dan mendorong umat untuk benar-benar menjalankan ibadah dengan khusyuk, peduli dengan kebutuhan umat, dan menjamin segala kebutuhan umat. Sesungguhnya seorang pemimpin itu laksana perisai orang-orang yang berada diberperang dibelakangnya dan berlindung kepada dirinya. (HR. Al- Bukhari dan Muslim).
Cara kapitalis lebih mendahulukan mendapatkan keuntungan dibandingkan dengan memikirkan bagaimana kondisi umat, sebaliknya dalam system khilafah mampu menjaga kehormatan dan kesucian bulan Ramadhan, memperhatikan kebutuhan umat danmenjamin segala pemenuhan kebutuhan secara adil dan merata sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah dan para Khalifah sesudahnya. Dengan demikian setiap sendi kehidupan umat berjalan dengan baik dan dapat merasakan arti dari Islam Rahmatan Lil’Alamin bukan sekedar utopia atau sekedar rangkaian kata tanpa makna.(*)
Penulis : Ibu Kamsiatun (Ibu Rumah Tangga)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website