Bertaruh Nyawa dalam Pesta Mudik

Ramadhan tinggal menghitung hari, bulan penuh berkah ini akan segera berlalu dan berganti dengan hari kemenangan dan semarak Iedul Fitri. Antusiasme kaum muslim menyambut hari raya iedul fitri tak terbendung. Menjadi langganan, moment itu digunakan untuk berjumpa dengan sanak saudara yang mungkin telah lama terpisah jarak di perantauan. Moment yang ditunggu-tunggu setiap perantau untuk pulang kembali ke kampung halamannya, berkumpul dengan keluarga besarnya.

Persiapan tentulah sudah dilakukan jauh–jauh hari sebelumnya, baik dari sisi fisik, alat transportasi dan tak ketinggalan buah tangan untuk orang-orang terkasih. Beragam pilihan alat transportasi mudik umum disediakan jasa penyedia transportasi, mulai dari bus, kereta api, kapal laut dan pesawat. Bahkan sebuah perusahaan penerbangan menyediakan perjalanan mudik dengan menggunakan helikopter, namun tentu kita harus merogoh kocek lebih dalam. Tingginya biaya transportasi bagi sebagian orang dan kurang nyamannya fasilitas transportasi umum membuat mereka memilih menggunakan kendaraan pribadi, mobil dan motor roda dua.
Kegembiraan dan rindu untuk berkumpul dengan keluarga besar ternyata tak dapat diraih dengan mudah, ribuan bahkan jutaan pemudik setiap tahunnya harus rela berjuang dengan jalanan. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas menjadi suguhan berita setiap hari menjelang lebaran dan arus balik setelah lebaran, khususnya di kota-kota besar. Seperti tahun–tahun sebelumnya, kemacetan terjadi di beberapa titik yang mengakibatkan kendaraan terjebak berjam-jam di suatu lokasi.
Fenomena kemacetan dan tingginya angka kecelakaan pada arus mudik seolah sudah menjadi hal yang biasa. Permasalahan infrastruktur, transportasi dan keamanan menjadi kendala terbesar setiap tahun dalam aktivitas mudik.
            Setiap tahunnya angka korban kecelakaan saat mudik masih lebih besar dari pada korban bencana alam selama setahun. Pada 2014 ada 622 jiwa dan pada tahun 2015 sebanyak 276 jiwa. Bandingkan dengan korban kecelakaan laulintas saat mudik pada 2014 tercatat 714 jiwa meninggal dari 3.888 kasus dan pada tahun 2015 tercatat 657 jiwa dari 3.049 kasus.  Pada mudik tahun ini pemerintah menargetkan zero accident atau tanpa kecelakaan sesuai instruksi Presiden Joko Widodo. Dan ditindak lanjuti oleh Kementrian Perhubungan dengan memeriksa kelayakan seluruh moda transportasi. Transportsi yang tidak layak jalan akan dilarang untuk beroperasi.
Kita apresiasi upaya pemerintah untuk menekan atau menghilangkan angka kecelakaan lalu lintas saat mudik lebaran, hanya saja jangan sampai ini hanya menjadi slogan saja, tapi haruslah dibarengi dengan tindakan serius untuk menghentikan hal tersebut.
Seharusnya, mudik yang sudah menjadi aktivitas rutin setiap tahun menjelang lebaran tidak menjadi persoalan bagi pemerintah. Jika saja pemerintah melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Bukan hanya sekedar mengecek dan melarang kendaraan yang tidak layak beroperasi menjelang hari H, tapi jauh-jauh hari sebelumnya sudah menyiapkan semuanya termasuk alat transportasi dan infrastrukturnya. Membangun sendiri infrastruktur yang menjadi tanggung jawabnya sehingga cepat selesai sesuai target, bukan diserahkan kepada investor swasta.
Membangun infrastruktur dengan standar teknologi tercanggih seperti fisik jalan hingga alat transportasi yang dilengkapi dengan teknologi navigasi dan telekomunikasi. Memiliki perencanaaan yang baik dalam meratakan pembangunan disetiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. Setiap daerah dilengkapi dengan semua falisitas umum sehingga warga tidak berbondong-bondong keluar daerah untuk mencari ilmu maupun memenuhi kebutuhan dan mencari penghidupan yang layak.(*)
Penulis: Sri wahyuti (IRT/Anggota MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website