Brexit: Bukti Krisis Sistemik Mendalam

Brexit  adalah bentuk pudarnya kesatuan Eropa, Perdana Menteri Inggris David Cameron mengumumkan bahwa Inggris akan menyelenggarakan referendum pada 23 Juni lalu. Referendum itu adalah hasil desakan public terhadap pemerintah Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Berbagai kalangan inggris menilai bahwa Uni Eropa semakin menguasai semua aspek kehidupan. Banyak dan ketatnya aturan Uni Eropa dirasakan membelenggu bisnis Inggris serta pembayaran keanggotaan di Uni Eropa di anggap sebagai penghambur duit rakyat.

 Pendukung Brexit yakin bahwa Inggris akan mampu membendung arus imigran dari Uni Eropa jika keluar dari organisasi ini, mereka berpendapat arus imigran dapat dibendung jika Inggris keluar dari blok  Uni Eropa karena tak akan terikat prinsip pergerakan manusia secara bebas bagaimana di tetapkan oleh Uni Eropa. Sangat wajar pihak anti migran ini berpendapat demikian karena semakin meningkatnya islamphobia di Eropa. Insiden anti-muslim terjadi hampir di seluruh Eropa sehingga menjadi salah satu tantangan terbesar di Eropa, berbagai bentuk pelecehan dan  diskriminasi terjadi  terhadap agama minoritas yaitu muslim sehingga agar tidak terjadi islamphobia maka Uni Eropa dengan undang-undangnya akan mengambil tindakan terhadap rasis dan islamphobia dan akan menjadikan pelakunya criminal karena anggota Uni Eropa beralasan bahwa hukum harus berlaku untuk semua orang, maka diharapkan negara anggota juga melakukan tindakan yang sama ketika ada upaya penyebaran pesan kebencian antaragama.  Aturan ini juga semakin memberatkan Inggris mengingat kebanyakan dari warganya terserang islamphobia .
Tewujudnya Brexit ini jelas akan semakin meningkatkan diskriminasi terhadap para imigran muslim di Inggris, dan sangat wajar apabila penduduk muslim khawatir yang akan terjadi dengan mereka setelah Inggris melepaskan diri dari aturan Uni Eropa. Menyatunya Negara-Negara Uni Eropa di harapkan dapat secara bersama-sama menyelesaikan banyak persoalan terkait kemiskinan, kebodohan, pengangguran, diskriminasi dan lainnya namun hasilnya hanya pepesan kosong yang justru banyak dari Negara anggotanya ingin juga menyusul referendum sama seperti yang dilakukan oleh Inggris seperti italia dan Belanda.
              Inilah bentuk  sistemik persatuan Negara  yang  dengan pemikiran kufur akan mempersatukan negeri-negeri dengan kesamaan  tujuan menyelesaikan persoalan, hanyalah menjadi mimpi. Sekalipun  antar negara memiliki aqidah  yang sama mengusung ideologi kapitalis juga sama, menggunakan demokrasi dan liberalisasi, HAM serta  nasionalisme, justru karena konsep dan system itulah upaya persatuan negeri–negeri Uni eropa  menjadi mustahil. Atas ideology kapitalis maka persatuan Uni Eropa yang berharap dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan justru akan  tambah memperpanjang jarak antara si miskin dan si kaya. Dengan digunakannya demokrasi dan liberalisasi serta HAM justru akan semakin banyaknya  persoalan diskriminasi, pelecehan dan tindak criminal. Atas dasar nasionalisme Negara Uni Eropa pun enggan berbagi tempat dengan para imigran muslim. Pada dasarnya mereka hanya direkatkan  oleh asas manfaat sebagai tolak ukur pandangan yang lahir dari ideology kapitalis secular, sehingga sangat wajar jika manfaat itu tidak ada lagi Negara–Negara di dalam Uni Eropa masing–masing menarik dirinya untuk exit dan menjadi negri yang bebas mengatur seluruh urusan negrinya sendiri tanpa interfensi dari Uni Eropa.
            Berbeda dalam sistem islam negeri-negerii yang bergabung dengan daulah islam, mereka melebur menjadi satu dengan nama Negara Daulah Khilafah dimana negeri yang  bergabung terikat dengan seluruh aturan islam dalam berpolitik, ekonomi dan bernegara serta pengaturan muamalahnya, mereka juga akan dijamin kebutuhan dari setiap penduduk  baik muslim maupun non muslim  dengan jaminan yang sesuai dengan standar syariat islam,  menjadikan  misi Islamrahmatanlil alamin dengan syariat islam teraplikasi dalam kehidupan semata –mata mengharap keridhoan Allah SWT, dimana Negara akan  mewujudkan terpeliharanya, agama, harta, akal, jiwa, keamanan dan Negara, sehingga seluruh  masyarakat menjadi mayarakat  islam  yang  memiliki pemikiran, perasaan, dan peraturan yang sama.  Di dalam system islam, orang-orang muslim mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Hak-hak mereka sebagai warganegara di jamin untuk terpenuhii dan islam tidak pernah memaksa non muslim untuk memeluk agam islam. Harta  dan darah mereka terjaga sebagaimana terjaganya darah dan harta kaum muslimin. Hanya saja kafir dzimmi atau non muslim yang menjadi warga negara Daulah mereka hanya diminta membayar jizyah, itupun hanya dari kalangan lelaki, baligh dan mampu bekerja saja.
            Dengan dijaminnya  pemenuhan hak-hak warga Negara dalam islam dan menghilangkan sekat nasionalisme kelompok, golongan, ras, suku dan yang lainnya maka system islam mampu menjaga keutuhan Negara yang tidak dapat di temui dalam Uni Eropa. Negara Islam dalam system islam adalah tempat yang nyaman bagi semua kelompok ras, suku, agama dan bangsa, bahkan di masa lalu ketika orang Yahudi terpaksa mengungsi akibat inkusisi yang dilakukan Kristen Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapatkan perlindungan dari Khilafah Beyazid. Begitupun ketika pasukan salib Kristen menyerang syam, mereka terkaget saat lawan yang mereka hadapi adalah orang- orang yang seagama dengan mereka tapi pro terhadap islam.
 Maka jelas demikianlah utopisnya sebuah keinginan menyelesaikan problematika manusia dengan persatuan negri Uni Eropa yang berdiri dan asas kapitalis sekuler, setelah dipersatukan mereka justru merasakan ketidakadilan dan berebut kepentingan yang menambah masalah, ketakutan dan kezaliman bagi para warganegaranya, inilah bukti sistemik yang lahir dari lemahnya akal manusia ketika di terapkan maka akan muncul perselisihan, krisis sitemik yang terus menerus ditambal sulam tak jua  kunjung datang kesejahteraan. Sejatinya persatuan hakiki  hanya akan dapat di temukan dalam penerapan system islam secara kaffah dengan meleburnya berbagai negeri yang mau tunduk dan di atur dengan syariah islam dan Khilafah sebagi pemimpin negaranya mampu  menjadi pelindung warganegaranya hingga mereka menjadi  masyarakat islam yang memiliki pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama.(*)
Penulis:Uevanurdiana

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website