Alayers Lecehkan Agama, Siapa Lalai?

Ada sebuah kelakuan remaja yang mungkin oleh mereka di anggap sebuah lelucon.  Kelakuan mereka menggegerkan netizen. Oleh pemilik akun  Rudi Hartanto telah mengunggah sekitar 12 foto yang berisi pelecehan syariat islam. Foto tersebut berupa para remaja yang melakukan ibadah shalat tanpa menggunakan pakaian di tempat yang diduga masjid. Tak cukup itu, dua orang remaja yang yang hanya memakai celana dalam dan yang seorang lagi memakai celana dalam dan sarung sedang berpose memegang kotak amal.  Sontak foto tersebut membuat geram para netizen sehingga disebarkan ulang lebih dari 3000 kali dalam waktu kurang dari 24 jam.
Dewi Murni
Fakta di atas sungguh memperihatikan sekali, pasalnya di tengah gemerlapnya social media justru menjerumuskan generasi pada kesalahan yang sangat fatal. Trend selfie kini telah merasuki jiwa mereka sehingga lupa persoalan akhlak. Aktivitas sia-sia bahkan maksiat tersebut telah berani dilakukan oleh generasi kita dengan landasan eksistensi atau kebebasan berekspresi.
Fenomena remaja memang telah mengalami “sakit kritis” karena agama yang dipandang sakral tersebut tidak lagi bernilai demikian. Itu artinya kesadaran mereka akan pahala dan dosapun lenyap bersama lenyapnya rasa malu mereka. Selain itu, merupakan hal yang pantas jika fakta tersebut adalah puncak dari keeksisan generasi yang kebablasan. Sebagaimana ibaratnya gunung es, ini adalah akumulasi atas minimnya perhatian terhadap mereka dari sebelumnya. Sehingga menyebabkan mereka mencari sendiri perhatian tanpa dibekali penanaman akidah islam.
Sebenarnya tidak ada salah dengan kondisi generasi yang lebih gencar meraih eksistensi. Apalagi katanya mereka adalah kaum yang sedang mencari jati diri. Selama segala potensi yang mereka miliki tidak melanggat syariat. Islampun tidak mengingkari adanya naluri tersebut. sebab dalam padangan islam eksistensi dinilai sebagai fitrahnya manusia atau dengan kata lain naluri eksistensi adalah hal yang manusiawi. Dengan demikian pada dasarnya setiap manusia ingin keberadaannya diakui. Sebagai contoh manusia akan marah ketika dihina dan sebang jika disanjung/puji, ingin memposting fotonya di social media, saat ada foto bersama  maka foto yang pertama kali ia cari adalah foto dirinya sendiri.
Setiap naluri butuh pelampiasan walaupun jika tidak dilampiaskan tidak menyebabkan kematian, akan tetapi menyebabkan keresahan dan gelisah. Sehingga untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk keriminalitas seperti fakta di atas maka islam sejak kedatangannya membawa solusi akan kehidupan.
Dalam syariat islam peran keluarga begitu penting bagi tumbuh kembang anak-anak. Islam menempatkan ibu sebagai ummurabatul bait dan ayah sebagai pencari nafkah. Bukan sebaliknya. Orang tuapun diberi kesadaran untuk menjaga dan mengurus anak-anak sebagai titipan Allah yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban.
Dalam dunia pendididkan formal segala pancarannya seperti kurukulum, guru, sistem, dan sebagainya menggunakan sistem pendidikan islam. Dimana tidak terjadi sekulerisasi, berbagai bentuk pelajaran termasuk suasana sekolah adalah sesuai dengan standar akidah islam. Bahkan para pendidik yang juga merupakan bagian dari anggota masyarakat tidak hanya diajarkan keterampilan melainkan pemahaman-pemahaman terkait persoalan hidup. Misalnya menjadi ibu atau ayah yang dapat menjadi teladan bagi anak-anak, kehidupan suami istri dan perbuatan halal/haram. dengan demikian saat mereka mempunyai suatu masalah maka mereka mampu menyelesaikannya tanpa melanggar syariat islam. Mereka tau apa yang harus diperbuat agar menyelesaikan masalah. Tidak seperti sekarang yang banyak generasi kita masih bingung menyelesaikan masalahnya. Seolah dengan curhat lewat status atau video-video di social dapat menyelesaikan secara tuntas.
Islampun senantiasa mengajarkan agar negara membawa potensi generasi ke arah yang bermanfaat misalnya menjadi ulama, hafidz Quran, ilmuan dan dokter. Seperti membangun tempat penelitian, ruang belajar yang memadai dan apresiasi terhadap semua pihak yang terkait. Dahalu pada masa kejayaan islam orang yang menulis buku akan dihadiahi emas seberat buku yang ditulis. Hebatnya lagi pada masa Umar Ra guru digaji 15 dinar perbulannya. Semua itu dapat diakses dengan mudah bahkan justru gratis.
Sayangnya saat ini sistem pendidikan kita masih minim sekali dari penanaman akidah islam sebab sistem yang diadopsi adalah sekuler. Sekulerisasi tidak terjadi pada keluarga saja tapi pada semua bidang kehidupan seperti media, masyarakat dan pendidikan. Alhasil, tecetaklah generasi-generasi yang kering ketakwaan. Jauh dari moral atau akhlaktul karimah namun dekat dengan kehidupan hedonis dan liberal. Halal-haram tidak menjadi standart ukuran perbuatan mereka. Sementara ditengah kondisi generasi yang kian rusak masih banyak yang tidak peduli. Ketidakpedulian yang merupakan buah dari sistem sekuler terjadi diberbagai lapisan. Mulai dari masyarakat bawah hingga pemerintah.
Perlu kita ingat bawa waktu terus berjalan secara pasti. Yang lambat laun namun pasti akan membuat mereka semakin dewasa dan tua, begitu pula dengan diri kita. Kepemimpinan akan bergeser dan merekalah yang akan menggantikan posisi yang tergeser tersebut. Terbayang bagaimana nantinya kondisi negeri ini jika tidak di benahi dengan aturan kehidupan yang benar (islam), tentu mengalami kehancuran.
Sesungguhnya kita semua adalah korban atas diterapkan sistem sekuler kapitalis. Tidak perlu kita saling menyalahkan satu sama lain. Yang perlu kita lakukan adalah saling mengingatkan dan bersama-sama melakukan tekad perubahan agar seluruh lapisan masyarakat memahami pentingnya islam dalam kehidupan sehari-hari yang akan menyelamatkan generasi dari kerusakkan.(*)
Penulis: Dewi Murni


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website