Alaynya Remaja Lecehkan Syariat Islam

Alay merupakan istilah yang sering sekali remaja gunakan saat ini untuk  menggamabrkan perilaku berlebihan dan selalu menarik berlebihan. Tak jarang remaja agar berberilaku alay agar dapat dikatakan kekinian, atau dapat dipredikatkan eksis. Dan di jaman globalisasi ini, media sosial adalah tempat favorit remaja untuk memamerkan kealayannya, yang tentu berniat untuk menarik perhatian banyak orang di medsos, dengan mengumpulkan banyak followers atau like.
Perilaku alay remaja saat ini sangat mencemaskan. Belakangn beredar foto remaja alay di Lampung  yang menlecehkan nilai agama. Foto tersebut ,merupakan foto lima lelaki remaja yang berfoto dengan menirukan gerakan sholat dengan membuka auratnya. Dalam postingan foto tersebut, terlihat dua dari lima orang remaja menirukan gerkan sholat tanpa mengenakan baju. Dan postingan lain, terlihat seorang remaja yang  berpose khatib seolah tengah melakukan khutbah dimimbar masjid, dengan berpenampilan ala anak gaul dan bertopi. Dan dua orang remaja dengan hanya mengenakan celana menenteng kotak amal masjid.
Beredarnya foto-foto remaja tersebut tentu bernilai merendahkan syariat Islam. Terlihat dari mimik wajah para remaja tersebut akan kepuasaan yang telah mereka lakukan. Dan selain foto tersebut, masih banyak lagi perilaku alay yang tentu mengandung pelecehan terhadap syariat islam.
Dari peristiwa ini kita dapat melihat bagaimana hasil didikan kurikulum di sekolah dan pola asuh dirumah. Kurikulum yang tidak menghasilkan kepribadian Islam inilah yang sekarang diterapkan, dan terlihatlah sekarang bagaimana hasilnya. Remaja dengan merasa tidak risih melakukan pelecehan terhadap agama mereka. Dan pola asuh orang tua yang menjadi contoh bagi anaknya kini telah tidak dianggap penting lagi. Remaja tumbuh tanpa mengetahui betul apa aqidah mereka sesungguhnya. Hanya dengan Islam, kurikulum pendidikan akan berasakan pada aqidah islam yang tentunya akan menghasilkan remaja yang berkepribadian Islam. Dan dengan Islam orang tua akan tau betul apa yang seharusnya dididikan pada anak-anaknya dan akan menjadi contoh akan anak-anaknya.(*)
Penulis:  Puspita Octaviani

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website