Obesitas Terjadi Karena Salah Asuh

Rasa sayang adalah fitrah manusia yang telah Allah berikan kepada makhluk-Nya, tak terkecuali manusia, hewan pun memilikinya (Gharizah Nau’). Hanya saja, karena manusia dan hewan adalah dua makhluk yang berbeda, maka pemenuhan rasa sayang manusia dan hewan pun juga berbeda. Manusia adalah makhluk Allah yang kedudukannya lebih tinggi daripada hewan karena telah diberikan akal pikiran oleh Allah. Maka segala tindak tanduk perbuatan manusia pun harus dilandasi dengan akal, yakni berfikir. Tidak mengikuti hawa nafsu atau perasaannya.
Sebagai Sang Pencipta Manusia, Allah telah menurunkan rincian aturan untuk manusia dalam bertindak tanduk/berbuat dalam kehidupannya. Semua terjelaskan secara rinci di dalam al-qur’an dan as-sunnah. Termasuk menyalurkan/mengungkapkan fitrah rasa sayang manusia kepada manusia yang lain. Seperti rasa sayang terhadap orang tua, rasa sayang terhadap orang yang lebih muda seperti rasa sayang terhadap anak kecil dan sebagainya. Semua aturan yang rinci ini akan membawa kebaikan untuk manusia itu sendiri dan akan menjamin kebaikan manusia di dunia dan akhirat.
Rasa sayang orang tua terhadap anaknya pun juga telah diatur di dalam Islam. Islam mendorong para orang tua untuk memberikan nama yang baik kepada anaknya, men-sunnah-kan untuk mengadakan aqiqah ketika anaknya lahir ke dunia sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas rezeki tersebut, mendoakan atau meminta kepada Allah agar dikaruniakan anak yang solih dan solihah pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Rasa sayang ini juga termasuk kaitannya dengan pengurusan atau pengasuhan anak. Seperti peran mendidik dan sekolah pertama ada di tangan ibu, peran ayah yang memberikan contoh sebagai pemimpin, itu pun di atur di dalam Islam. Rasa sayang ibu terhadap anaknya dalam mengasuhnya, haruslah dilandasi keimanan kepada Allah, yakni bahwa apa-apa yang diberikan dan diajarkan kepada anaknya, itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt kelak di akhirat.
Dari dorongan inilah, ibu dan ayah akan bersama-sama mengasuh anaknya sesuai dengan aturan Allah.  Misalnya saja, dalam hal makanan. Maka standar pemberian makanan kepada anaknya, adalah makanan yang halal dan thoyyib, sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 168 yang artinya “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. Menurut tafsir Ibnu Katsir, makna halal itu adalah cara mendapatkan makanan tersebut dan jenis makanan dan sebagainya. Seperti bukan bangkai, bukan hewan yang disembelih tidak atas nama Allah dan lain sebagainya. Makna toyyib adalah tidak membahayakan akal dan tubuh yang sesuai dengan ilmu pengetahuan makan/gizi. Seperti tidak memakan makanan yang jumlah kadar gula yang lebih banyak, tidak ber-MSG, tidak mengandung zat pewarna tekstil/industry dan lain sebagainya. Jadi peran orang tua ini sangat penting, yakni bahwa orang tua wajib memberikan makanan yang halal dan thoyyib sesuai dengan aturan Allah, sebagai bentuk ungkapan rasa sayang mereka terhadap anak-anak mereka.

Namun hal tersebut sulit dilakukan oleh individu dan keluarga pada situasi dan suasana bisnis kapitalis-sekuler saat ini yang mengedepankan keuntungan di banding halal dan thoyyib suatu makanan. Di lingkungan masyarakat banyak makanan/cemilan anak-anak yang berbahan tidak thoyyib seperti mengandung MSG, aspartame, pewarna makanan yang tidak sesuai standarnya untuk anak-anak, tidak higienis dan lain sebagainya. Ini menunjukkan abainya pemerintah dalam menjaga mutu makanan.
Padahal peran pemerintah/Negara, sangat penting (urgent) untuk melindungi masyarakat dari makanan yang tidak baik. Peran pemerintah juga untuk memastikan mutu makanan yang beredar di tengah–tengah masyarakat itu bermutu baik dan sehat. Karena seperti yang telah Rasul sampaikan bahwasanya penguasa itu laksana pengembala, yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah atas pengembalaannya yakni pengurusan terhadap masyarakat terkait makanan yang halal dan thoyyib. Di tangan pemerintahlah, tanggung jawab ini harus diemban. Tidak bisa dilemparkan kepada individu atau masyarakat semata.
Di tangan pemerintahlah, masyarakat harus ter-edukasi baik orang tua, pebisnis dan kalangan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan dan makanan, tentang pentingnya menyajikan makanan yang halal dan thoyyib, tidak hanya sekedar enak di lidah. Sehingga kasus Arya anak kelas 3 SD yang mengalami obesitas, itu tidak akan terjadi.(*)
Penulis: Lisa Okarina

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website