Pengemis Buntung, Negeri Penipu Fenomena Masyarakat Sakit

Dinas sosial kota bandung telah menangkap seorang pengemis pria yang berpura-pura bunting di jalan otista, kota bandung. Ketika dia ditanya oleh dinas social kkota bandung dia mengakui bahwa namanya adalah Alexander, umur 48 tahun. Pengemis ini ditangkap di depan toko An Nur otista pada hari jum’at (5/8) pukul 10.00 wib saat ia tertangkap basah sedang mengemis dengan “Akting” buntung. Pada waktu itu dua petugas dinas social berompi merah, meminta alex untuk melepas bajunya saat itulah ketahuan bahwa ia tak buntung. Namun, pihak dinas social belum bisa menyebutkan secara pasti aka nasal pria tersebut dari mana. Karena keterangan Alex yang berputar-putar dan belum jelas. Hanya saja terakhir alex menyebutkan bahwa ia berasal dari Sumatera dan dia bukan warga bandung. Dinas social masih berusaha untuk menyelidiki dan sedang melakukan komunikasi dengan pihak (keluarga) dari sumatera, akan tetapi mereka menyangkal dan berkata tidak punya keluarga dari sumatera.
Siti Nur Shofiyyah Yani

           Aksi tipu-tipuan ini bukanlah perkara yang baru terjadi, tapi memang sudah tidak asing lagi. Mereka berupaya mengais rupiah dengan cara memanfaatkan rasa simpati orang lain, para pengemis juga memiliki banyak akal seperti berpura-pura buntung dan lain sebagainya, hingga mereka berhasil mengantongi puluhan juta rupiah dan masih banyak lagi aksi penipuan yang dilakukan oleh para pengemis. Tentunya kasus tipu menipu ini pun banyak sekali terjadi ditenga masyarakat, bahkan ntelah menjadi bersifat umum. Penipuan ini bukan hanya terjadi pada kasus para pengemis saja, karena aksi ini kini telah masuk kesegala lini kehidupan yang tentunya tidak lepas dari asas manfaat untuk mencari keuntungan belaka.
            Semakin banyaknya pengemis yang ditemui dengan menggunakan cara-cara menipu untuk menarik simpati  masyarakat sudah bukan hal yang baru lagi. Mencari penghidupan dengan cara mengemis saja merupakan suatu hal pilihan yang hina, apalagi disertai dengan aksi penipuan. Desakan kebutuhan hidup yang semakin sulit inilah salah satu factor yang membentuk pola piker di masyarakat menjadi sesat. Hanya demi memenuhi tuntutan kebutuhan hidup yang serba sulit ini sehingga mereka bisa dengan mudah melegalkan atau menipu memenuhi kebutuhan hidup dan mendapat kekayaan dengan jalan yang salah, serta berani menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan materi semata. Inilah system Kapitalisme yang di dalamnya memproduksi kemiskinan  massal di satu sisi dan jurang kesenjangan ekonomi disisi lain.
            Aksi menipu bukan hanya dilakukan oleh pengemis saja, akan tetapi juga di lakukan oleh para pembuat vaksin dan serum palsu, ijasah palsu untuk menjadi pejabat, KTP palsu untuk mendukung parpol yang ikut pemilu dan masih banyak lagi kasus penipuan lain nya dengan beragam motifnya. Demokrasi inilah penyebab suburnya perilaku penipu dan negeri penipu. Ini bukanlah masalah kerusakan individual dan kasuistik saja, tetapi memang semua itu terjadi karena system yang rusak dan merusak ini telah menggerus nilai-nilai fitri yang dimiliki oleh manusia, sehingga mendorong masyarakat dengan menggunakan segala macam cara untuk meraih keuntungan pribadi semata serta tanpa perduli halal dan haram. Meskipun hal itu merugikan dan mengorbankan yang lain. Kebebasan yang menjadi asas setiap perilaku itulah yang mendorong mereka ke dalam kecenderungan kejahatan dan kerusakan yang mendominasi yang menjadi pemicu ketidak seimbangan ekonomi sehingga membuat mereka tipis rasa malu, tipis dari sifat jujr dan tipis dari sifat amanah.
            Hal ini tentu tidak akan terjadi jika syariah Islam diterapkan secara total dan menyeluruh. Negara Khilafah mengatur perekonomian yang sesuai dengan system islam yang mewajibkan bagi pemerintah untuk mengelola kekayaan alam untuk rakyat sesuai dengan hukun syariah Islam, dengan begini maka akan terwujudlah kesejahtraan ekonomi di tengah masyarakat. Menerapkan syariah islam secara totalitas di dalam seluruh aspek kehidupan dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Maka, akan menjaga masyarakat dari aksi penipuan karena mereka memahami bahwa semua yang dilakukan aka nada pertanggung jawabannya serta dengan cara mewujudkan suasana lingkungan yang penuh dengan keimanan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman : “Apakah hokum jahiliahkah yang mereka kehendaki. (Hukum) siapakah yang lebih baik dari (hukum)  Allah SWT bagi orang-orang yang yakin?”. TQS. Al Maidah 5 : 50.
            Wahai kaum muslimin semua kebobrokan yang menjauhkan kita dari sifat jujur dan rasa malu dengan aksi penipuan yang merusak ini, apakah layak untuk dipertahankan dan dibiarkan? Tentu tidak. Ketahuilah semua kebobrokan yang mengikis sifat kejujuran itu , rasa malu, serta rasa takut kepada Allah itu haruslah diakhiri dengan cara meninggalkan system yang memang asalnya sudah rusak dan merusak yang merupakan system jahiliah. Sudah saatnya kita kembali kepada penerapan syariah Islam. Menggantikan system yang rusak itu, dengan penerapan system dan syariah Islam secara total dan menyeluruh. (*)
Penulis: Siti Nur Shofiyyah Yani (Pengajar, Pemerhati Remaja dan Aktifis MHTI)

           

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website