Waspada Generasi “awkarin”

“Awkarin alias Karin Novilda dulunya waktu SMP adalah anak berjilbab berprestasi mendapat nilai tertinggi di Tanjung Pinang. Dirinya saat itu masih duduk di bangku SMPN 1 Tanjung Pinang. Saat itu, Karin yang berjilbab masih didampingi ibunya dan tidak menyangka jika dirinya mendapatkan nilai tertinggi di Tanjung Pinang. Saat itu ia bahkan meneteskan air mata atas prestasinya meraih Nilai UN tertinggi. Karin lalu melanjutkan sekolah ke SMA 58 Jakarta. Tiga tahun usai kisah yang membuat banyak orang terinspirasi, kini ia muncul dengan Karin yang jauh berbeda yang kini dikenal dengan sosok Awkarin” itulah salah satu berita yang terpampang dalam surat kabar online solopos yang membahas tentang sosok remaja yang kini menjadi selebgram, seleb ask, dan vblogger tersebut. 
            Karin dianggap keren atau cool oleh anak-anak sebayanya karena Ia mempunyai banyak teman, pacar yang tampan dan kaya, selain itu ia sudah mempunyai pendapatan sendiri sejak berusia 16 tahun. Namun di sisi lain Awkarin adalah seorang remaja yang mempunyai kehidupan yang bebas. Hal tersebut dapat dilihat dari gayanya yang tidak sungkan untuk menampakkan dirinya yang sedang merokok secara vulgar di vlog miliknya. Selain merokok, Awkarin tak sungkan untuk memperlihatkan kebiasaannya minum minuman keras (alkohol), bertato, bermesraan dengan kekasihnya, dan juga gemar berpesta. Bisa dibilang, fenomena Awkarin merupakan sebuah fenomena anak muda kekinian yang bernama generasi swag. (www.femina.co.id)
            Karin adalah satu dari sekian banyaknya remaja yang terlibat dalam pergaulan bebas. Namun yang berbeda dari Karin adalah dia memiliki banyak pengikut yaitu anak-anak dan juga remaja yang sedang mencari jati diri. Kita bisa lihat saat ini, anak kelas 1 SD pun sudah mengerti internet dan cara membuka Youtube, mereka berpeluang besar untuk mengenal dan bahkan mengikuti fenomena Awkarin ini. kalau mengikuti dalam hal yang baik saja tentu tidak masalah. Namun mirisnya apa yang dicontohkan awkarin dalam video dan foto-fotonya yang beredar di sosmed sangat jauh dari contoh yang baik. Gaya pacaran yang bablas, minum-minuman keras, merokok, pesta semalaman adalah gaya hidup yang dicontohkan oleh awkarin. Lantas apakah pantas jika awkarin dikatakan sebagai idola? Bagaimana nasib generasi ini jika yang ditiru adalah sosok remaja labil, yang hanya menjadikan hidupnya untuk senang-senang, dan tidak memikirkan tanggung jawab sama sekali? Kalian pasti sudah bisa menebak. Ya, yang akan terjadi adalah kehancuran generasi. Bukan hanya satu, dua orang, melainkan berjuta-juta remaja. Dan kehancuran generasi pasti akan diikuti dengan kehancuran bangsa. jadi apakah kita ingin bangsa ini hancur hanya karena sosok seperti awkarin atau remaja lain semacamnya?
                Namun tentu kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan Karin, karena dia termasuk korban dari pergaulan yang salah dan lingkungan kehidupan yang mensuasanakan keburukan. Diluar sana ada ratusan ribu bahkan jutaan awkarin lainnya yang tidak diblow up oleh media. Mereka semua melakukan hal yang sama, menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk meraih kesenangan sesaat yang tidak ada artinya. Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 % remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks bebas. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2010 menyatakan 52 persen remaja Medan sudah melakukan seks bebas yang berdampak kepada terjangkitnya penyakit Infeksi Menular Seksual. (www.kompasiana.com)
            Itulah potret generasi saat ini. Mereka yang sejatinya adalah bibit unggul, pengisi peradaban dengan karya dan prestasi yang cemerlang, justru berubah menjadi remaja alay, haus perhatian, dan pemuja materi. fenomena ini muncul karena suatu sebab yakni diterapkannya aturan demokrasi-liberal di tengah-tengah kita. demokrasi yang menjadikan suara mayoritas sebagai suara kebenaran ini lantas mengubah pandangan hidup manusia tentang benar-salah, terpuji-tercela. Selama banyak orang yang melakukan maka itu adalah suatu kebenaran, seperti halnya gaya hidup bebas awkarin yang justru diikuti dan dielukan oleh banyak remaja, tak terkecuali remaja muslim. Disamping itu liberalisme yang menjadikan kebebasan sebagai Tuhan baru dijadikan alat oleh remaja yang ingin bebas, tidak mau terikat pada aturan apapun. Mereka melakukan kemaksiatan dan dosa atas nama kebebasan berekspresi dan berpendapat. Generasi seperti inikah yang kita inginkan kelak memimpin kita di masa depan?
            Fenomena ini seharusnya menjadi perhatian besar bagi orangtua, generasi, dan negara. Negara, masyarakat, dan orangtua semestinya saling bekerja sama untuk membina generasi agar menjadi generasi yang cerdas, bertaqwa, dan mampu menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya sesuai dengan aturan yang diturunkan oleh Sang Pencipta, Allah swt. media pun turut membantu untuk menciptakan dan memberitakan sosok pemuda yang memang layak untuk dicontoh karena kesholihah dan ketaqwaaannya pada Allah karena hal itu akan menjadikan remaja memiliki sosok yang nantinya akan mereka jadikan sebagai ukuran, untuk menjadi seperti itu kelak di masa depan. Semua ini hanya akan terjadi jika negara mau untuk mengganti sistem demokrasi-liberal yang rusak sekarang menjadi sistem islam yang mana islam adalah rahmat bagi seluruh manusia juga seluruh alam. Negara yang menerapkan sistem islam adalah khilafah yang akan menghantarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, membina generasi agar memiliki kepribadian islam, dan menciptakan banyak kebaikan di tengah-tengah umat. Wallahua’lam bish shawab.
Penulis: Suhaela wahdaniar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website