Demokrasi : Pemimpin Non-Muslim Ditolak, Pemimpin Perempuan Maju !


Pemilihan Pilkada DKI 2017 tidak lama lagi akan dilaksanakan. Banyak calon yang mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat, khususnya wilayah Ibukota Negara kita. Gubernur DKI saat ini ‘Basuki Tjahaja Purnama’ (Ahok) kembali mencalonkan diri, namun banyak penolakan dari warga karena ahok dianggap melecehkan syiar islam serta masih banyak lagi alasan warga menolak Ahok.
Nurul Fauziah

Penolakan ahok semakin menguat namun kini opini malah bergulir mengarah pada naiknya Tri Rismaharini atau Rini Santer sebagai walikota Surabaya maju menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta. Beliaupun juga mendapat dukungan dari PDIP melalui Emi Sulyuwati (Ketua Umum Gerak Indonesia). Persaingan pilkada DKI semakin terlihat, beberapa partai besarpun memberikan lampu hijau untuk mengusung Risma. Kapasitas Risma dinilai baik oleh tokoh masyarakat, selain itu warga Surabaya akan sedih atas berpindahnya kepemimpinan  Risma.
Dari segi sosial yang terus diusung oleh paham kebebasan saat ini dikatakan bahwa perempuan juga berhak  setara dengan lelaki dalam kewajiban dan hak ekonomi bahkan hingga urusan kepemimpinan. Secara kasat mata mungkin pemimpin perempuan menjadi hal yang wajar bagi masyarakat kebanyakan atau justru akan menjadi lebih hebat jika perempuan yang mengurusi rakyatnya. Tetapi di dalam islam, syarat menjadi pemimpin salah satunya adalah seorang laki-laki dan tentunya orang muslim. Sebagai seorang muslim semestinya bukan hanya bersikap tegas menolak pemimpin non-muslim namun juga harus menolak pemimpin perempuan. Inilah yang terjadi terhadap aspirasi politik kaum muslim di sistem demokrasi saat ini, penolakan terhadap pemimpin kafir tidak boleh menjadi jalan bagi hadirnya pemimpin sesuai kriteria islam. Sedangkan pemimpin yang sesuai dengan syariat islam itu diangkat untuk menegakkan agama Allah, memelihara hak-hak para hamba-Nya serta mengatur urusan kaum muslim maupun non-muslim dengan islam.
Pemimpin yang diimpikan tersebut tidak akan terwujud jika seperangkat peraturannya pun masih belum menggunakan dasar yang murni turun dari pedoman hidup kita, yakni “Al-Qur’an”. Demokrasi yang berasaskan pemisahan agama dari kehidupan akan mustahil bisa melahirkan kepemimpinan sesuai syariat islam apalagi menjadi jalan untuk melaksanakan seluruh syariat dalam pemerintahan. Sebagai seorang muslim, seharusnya kita rindu dipimpin oleh Rasulullah serta penerus beliau yang namanya tak bisa dihilangkan dari tinta sejarah islam. Dan kepemimpinan mereka akan didapatkan di bawah naungan konstitusi islam yang memuliakan seluruh kaum.(*)
Penulis: Nurul Fauziah (Mahasiswi STIE Madani Balikpapan & MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website