Indonesia Kembali Berasap

Kepala pusat data informasi dan Human Badan Nasional Penanggulangan bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa kerugian akibat kabut asap di tahun 2014 yang dihitung selama tiga bulan dari februari sampai april hanya dari provinsi riau mencapai Rp. 20 triliun. Sutopo memperkirakan jumlah kerugian kali ini akan lebih besar jika dilihat dari skala luasnya. Kabut asap menjadi lebih parah mulai 1 september hitungnya lebih dari Rp. 20 triliun. Jumlah penerbangan yang gagal terbang, hotel, industry, makanan, kontrak bisnis yang batal, atau berkurangnya wisatawan akan tercermin dalam produk domestic regional bruto (PDRB). BNPB sudah menganggarkan Rp. 385 miliar untuk pemadaman lahan dan hutan yang terbakar.
            Adanya bencana kabut asap ini tidak lain karena semakin maraknya penebangan hutan dengan motif beragam yaitu penebangan liar tanpa ijin, bisnis illegal logging dan bisnis illegal mining sehingga terjadilah kabut asap yang berdampak pada rusaknya lingkungan. Asap di dapur belum ngepul, namun asap dari hutan sudah membumbung tinggi saja. Perekonomian rakyat korban kebakaran hutan belum membaik akan tetapi asap dari hutan sudah membumbung tinggi malah keluar SP3, beginilah Negara yang dikendalikan para kapitalis dan pejabat bersama pembuat asap, bagaimanapun caranya meskipun hal itu merusak dan merugikan asal punya modal uang semua bisa dikendalikan, termasuk membakar hutan yang menghasilkan kabut asap.
            Tentunya hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah, terutama dalam mencegah agar kabut asap ini tidak kembali terjadi dengan upaya yang maksimal dalam menekan jumlah titik api yang menyebabkan meluasnya kabut asap ini sekaligus mengevaluasi pembenahan dari mengelola SDA dengan cara memperhatikan lingkungan dan menjaga hutan dalam penjagaan yang super ketat dari penebangan hutan secara liar. Didalam system pemerintahan Negara Khilafah telah mewajibkan kepada pemerintah dalam mengelolaa dan menjaga lingkungan SDA , serta di dalam pembangunan SDA harus digunakan secara cermat, strategi yang digunakan pun tidak merusak tata lingkungan dan kehidupan manusia dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan agar kelestarian lingkungan terjaga.
            Allah SWT berfirman : “ Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepadaNYA dengan rasa takut dan penuh harap.sesungguhnya Rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf : 56”. Kejadian kabut asap ini tidak lepas dari ulah manusia yang merusak demi kepentingan mereka sendiri walaupun itu pada akhirnya merusak lingkungan alam dan merugikan banyak kehidupan. Sudah seharusnya kita kembali pada penerapan syariah islam secara kaffah, karena syariah islam adalah system yang paripurna yang akan menjaga kelestarian lingkungan. Semoga peristiwa kabut asap ini dapat segera diakhiri dengan penerapan islam secara keseluruhan.(*)
Penulis : Siti Nur Shofiyyah Yani ( Pengajar, Pemerhati Remaja dan Aktivis MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website