Banyaknya Kasus Perceraian, Tanda Rapuhnya Pilar Keluarga

Pagi itu tidak ada wajah-wajah lesu, semua orang bersikap biasa saja. Empat pilar berdiri tegak menyambut setiap orang yang melintas menuju pintu masuk. Hampir 40 orang yg berjejer rapi di bangku ruang pendaftaran, sembari menunggu waktu giliran dipanggil oleh resepsionis.

Kendati demikian tidak ada gambaran kebahagiaan di gedung megah itu. Di pengadilan agama Jakarta Selatan. Mereka semua terlibat di sana, baik sebagai, penggugat, tergugat, panitera, hingga hakim. Semua berkolaborasi untuk memisahkan hubungan antara dua manusia yang telah bersatu.
Siti Nur Shofiyyah Yani

"Saya mau daftar cerai" , kata ibu beranak dua sembari membawa berkas-berkas yang menurutnya sudah di persiapkan jauh-jauh hari.

Satu persatu mereka menghampiri tiga pria berkemeja lengkap dengan celana hitam rapi untuk mendaftar cerai atau sekedar mengambil berkas hasil perceraian.  Terlihat mulai dari usia 20 tahun hingga tua renta menyatu di sana.

Dari ruang pendaftaran lanjut ke ruang tunggu pemanggilan sidang. Setelah melewati lorong sepi, tiba2 suasana kembali riuh di sana. Hal itulah yg disaksikan oleh mereka.com saat menyambangi pengadilan Agama Jaksel, Kamis (15/9).

Jalannya sidang memakan waktu variatif, tergantung jenis perkara. Jika masuk tahap rujuk, cerai atau mediasi maka hanya memakan waktu sebentar yakni 5 - 10 menit karena majlis sekedar membacakan surat putusan. Namun kalau masih berada di level pembuktian, proses sidang bisa memakan waktu 1-2 jam.

Fauzi menuturkan, lima ruang sidang di pengadilan Agama jaksel, saban hari masing-masing digunakan oleh 20 hingga 25 orang yg mengikuti proses perceraian. Sidang rata-rata di langsungkan secara tertutup. Hanya saja selebritis, biasa nya mengizinkan proses sidang nya dibuka untuk awak media.

Jumlah perkara di pengadilan Agama Jaksel ini masih terhitung normal di beberapa pengadilan Agama kota lain, angkanya dapat mencapai dua kali lipat. Pada nya jadwal sidang perceraian di pengadilan agama Jaksel yang lebih besar di indonesia. Tak banyak orang yang menyadari, tingkat perceraian di tanah air merupakan salah satu yang tertinggi sedunia.

Anwar Saadi, selaku Kasubdit kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama membenarkan peningkatan tren perpisahan suami isteri di negara ini yang semakin meningkat setiap tahun nya. Menurut data sepertiga penggugat berusia di bawah 35 tahun, marak nya pernikahan muda selama satu dekade terakhir ternyata berbanding lurus seiring tinggi nya angka perceraian .

Ini sangat mengkhawatirkan pemerintah, lantaran mengindikasi rapuhnya institusi perkawinan saat ini. Efek samping nya adalah pada anak yg mengalami gangguan psikologi akibat dari perceraian.

Angka permohonan cerai gugat yaitu cerai permohonan yang dilakukan oleh istri lebih banyak dari angka permohonan cerai talak, atau cerai permohonan dari pihak suami. Angka cerai gugat mencapai 70,5 persen dan angka cerai talak hanya 29,5 persen.

“Ke depan, kita akan mengadakan kursus persiapan pernikahan. Jadi yang hendak nikah, harus mempunyai sertifikat nikah,” kata Menag Lukman Saifuddin.

Ketika sedang menghadapi darurat narkoba, darurat kekerasan anak dst ternyata ketahanan keluarga semakin rapuh. Terjadi  40 perceraian/jam. Kini Indonesia juga darurat perceraian. Pemerintah mengantisipasi dengan kursus pranikah. Cukupkah?
Bila dicermati gugat cerai 70% dan cerai talak 30%, mengapa lebih banyak perempuan yang menggugat cerai? Apakah faktor kesetaraan gender?

Perceraian adalah suatu perbuatan yang halal tetapi di benci oleh Allah swt. Perceraian merupakan alternatif terakhir sebagai pintu darurat yang boleh di tempuh, jika sebuah bahtera rumah tangga sudah tidak dapat lagi untuk di pertahankan. Baik laki-laki maupun perempuan punya hak yg sama dalam sebuah upaya perceraian.

Cerai talak adalah upaya yang di miliki oleh pihak suami dan gugat cerai adalah upaya milik pihak isteri. Pemicu-pemicunya banyak yaitu tidak mau terikat oleh suami, faktor ekonomi, ketidak terbukaan antara suami-isteri, karena merasa usia masih muda atau masih mampu mencari penghidupan pribadi nya. Saat ini gugat cerai yang di lakukan oleh pihak isteri menjadi problem besar, angka perceraian lebih besar, angka perceraian lebih di dominasi oleh pihak perempuan.

Data mengemukakan cerai gugat mendominasi dari pada cerai talak, dari hasil penelitian tentang adanya sesuatu yang mempengaruhi wanita berani menggugat cerai karena paham kesetaraan gender. Seperti fakta yang ada saat ini, bahwa bukan hanya suami-isteri yg sama-sama mencari nafkah, tapi juga situasi nya sekarang ini berbanding terbalik yaitu suami di rumah dan isteri mencari nafkah sehingga suami kehilangan kekuasaannya sebgai kepala rumah tangga yg berdampak pada retak nya sebuah institusi keluarga.

Ide kesetaraan gender yang lahir dari kapitalisme ini adalah benang merah yang mendasari terhadap runtuhnya sebuah bahtera rumah tangga, ini sudah tidak dapat di pertahankan lagi adapun mengenai rancangan kursus pranikah yang akan di terapkan oleh pemerintah niscaya kasus perceraian tersebut tidak akan berkurang karena itu semua adalah peraturan yang bukan berdasarkan dari hukum Allah.

Sungguh apabila kita punya pemahaman aturan berumah tangga di dalam islam hal ini tidak akan terjadi walaupun ada tipis kemungkinan akan adanya perceraian itu sebab dilakukan disaat ada situasi yang darurat saja, misal tidak bisa memiliki keturunan tetapi itu ada solusi nya yaitu poligami.

Sebagai contoh pada siti Sarah isteri nabi Ibrahim AS yg tidak punya keturunan maka nabi Ibrahim AS pun berpoligami dengan menikahi Siti Hajar walaupun setelahnya Siti Sarah mempunyai keturunan. Itulah guna nya kita mempunyai pemahaman yang ada di dalam islam karena hanya islamlah yang dapat menyelesaikan segala problematika kehidupan dengan menerapkan syariat islam secara totalitas dalam naungan institusi khilafah.(*)

Penulis : Siti Nur Shofiyyah Yani (Pengajar, Pemerhati Remaja dan Lingkungan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website