Khulu’ Jadi Tren

Indonesia saat ini menjadi negara yang memiliki angka perceraian yang tinggi. "Sehari bisa sampai 80 hingga ratusan orang yang melakukan sidang perkara," ungkap Fauzi, selaku petugas Pengadilan Agama Jakarta Selatan dalam media online.
“80 sampai dengan ratusan ini adalah hanya fakta di satu pengadilan agama saja, belum yang lain. Setiap saat di pengadilan agama, ada saja yang wara-wiri terkait kasus perceraian, mulai dari usia yang muda (+ 20 Tahun) hingga yang berumur. Fenomena ini, menjadi hal yang patut untuk diangkat, apakah pemicunya ?”, ungkap Fauzi.
Ilustrasi
Angka permohonan cerai gugat yaitu cerai permohonan yang dilakukan oleh istri (Khulu’) lebih banyak dari angka permohonan cerai talak atau cerai permohonan dari pihak suami. Angka cerai gugat mencapai 70,5 persen dan angka cerai talak hanya 29,5 persen di Bekasi, kata  Kepala Panitera Pengadilan Agama Bekasi, Aminuddin (klipingbekasi.wordpress.com).
Dengan sebab-sebab yang variatif satu sama lain, mulai dari ketidakcocokan yang berakibat pada pertengkaran dan perselisihan berkelanjutan, tidak gugurnya kewajiban suami dalam perkara nafkah, juga kondisi ekonomi keluarga yang mana biasanya istri selalu tak puas, dan adanya orang ketiga atau perselingkuhan. Namun dari keempat faktor tersebut yang menonjol karena faktor ekonomi.
Gaji Suami Kurang
Tidak adanya pemahaman terkait konsep rezeki oleh istri, menjadikan penghasilan suami selalu terasa kurang. Namun, hal ini juga tidak bisa disalahkan sepihak. Laki-laki yang tidak shalih pun akan setengah-setengah mencari nafkah pun jua setengah-setengah memberikan pada istri. Itulah sebabnya dalam rumah tangga dibutuhkan keterbukaan juga kepercayaan. Seringkali istri curiga suami sering menyembunyikan uangnya, dan sebaliknya suami juga tak memberikan sepenuhnya hak istri dan anaknya, padahal uang itu ada.

Istri Juga Bekerja, dan Gaji Lebih Besar
Nah, fenomena ini yang sekarang sedang banyak sekali terjadi. Dari cara perekrutan pegawai di negara kita saja sudah salah, yang mana kebanyakan mengutamakan perempuan dengan berbagai alasan keutamaan dari perempuan. Banyak sekali perempuan yang aktivitas diluar rumahnya adalah bekerja, walaupun suaminya juga bekerja, bahkan gajinya jauh lebih besar dari suami. Jika hal ini terus-menerus dijalani tanpa adanya komunikasi yang baik, maka bisa saja si istri merasa lebih dan si suami merasa disepelekan. Wanita bekerja diluar rumah juga ada yang menjadi penyebab lainnya, yakni isu kesetaraan gender. Wanita merasa lebih berharga dan mulia jika bisa sama seperti lelaki, bekerja.
Suami Tidak Bekerja, Tidak Nafkahi Keluarga
Yang bekerja saja, masih dirasa kurang apalagi yang sama sekali tidak bekerja. Hal ini membuat wanita bertindak sendiri dengan mencari uang demi menghidupi dirinya dan anaknya. Akibat hal ini, sebagian wanita akhirnya meremehkan kedudukan suaminya.
Hal-hal diatas hanyalah beberapa dari banyak faktor pemicu terjadinya Khulu’. Beredarnya Isu Kesetaraan Gender juga sedikit banyaknya berpengaruh terhadap cara pandang wanita sebagai seorang istri. Dalam Keseteraan Gender, kaum perempuan dapat mengambil keputusan dan berbuat apa saja tanpa boleh dilarang oleh laki-laki.  Berhak setara dan mendapatkan hak seperti yang laki-laki dapatkan. Hal ini, tentu saja salah sebab Allah telah menciptakan manusia berbeda jenis dan juga berbeda fitrahnya. Kedudukan keduanya sama, hanya implementasinya saja yang berbeda. Banyak wanita yang malu, jika sekolah tinggi-tinggi kemudian hanya menjadi Ibu Rumah Tangga.”Jangan mau kalah dengan laki-laki” kalimat itulah yang seringkali memprovokasi wanita.
Melihat tingginya tingkat perceraian, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sedang menggodok peraturan terbaru terkait materi pembekalan pra-nikah yang lebih terstandardisasi, termasuk melibatkan unsur keluarga dari pihak suami maupun istri. Diharapkan, setiap pasangan yang memutuskan bersatu di pelaminan dapat menjaga komitmen.
Materi pranikah ini biasa selalu kita dapati dadakan sesaat sebelum akad nikah. Materi ini tak kita jumpai dalam kurikulum sekolah, padahal menikah adalah hal yang akan kita jalani dimasa yang akan datang. Ditengah serangan arus narkoba dikalangan anak remaja yang juga hasil dari rumah tangga yang buruk, lantas akankah pembekalan pranikah ini akan efektif mengurangi angka perceraian dan dapat meningkatkan keberkahan keluarga ?
Jika kita melihat cara dan aturan Islam dalam mengatasi persoalan rumah tangga, semua teratur dan tertata. Perceraian ini adalah satu persoalan dari persoalan yang sebabnya sistemik; salahnya peraturan hidup yang diterap yang mana aturan yang bukan berasal dari sang pencipta. Dalam Islam, suami dan istri itu sama-sama punya kedudukan yang mulia. Suami dan Istri diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Dalam hal ekonomi pun, istri diminta untuk selalu bersabar dan bersyukur atas hasil jerih payah suami.
Suami wajib mencari nafkah yang baik dan halal. Islam juga tak luput mengatur ketenagakerjaan yang mana setiap laki-laki wajib untuk diberi pekerjaan tidak terbalik seperti sekarang. Itulah Islam mengatur, jika Islam yang diterapkan Insya Allah semua persoalan akan terpecahkan secara sistemik. Wallaahu ‘alam bish shawab.(*)
Penulis: Yuni Yartina – Pelajar MHTI.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website