Pemimpin Kafir, Salahkah?

Sebagaimana kita ketahui, saat ini diberbagai media di indonesia sedang hangat dengan pemberitaan siapa yang akan menjadi orang nomor satu wilayah DKI Jakarta yaitu pemimpin (Gubernur) untuk DKI Jakarta.
Saat ini ada 3 calon yang lolos seleksi, yaitu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, AgusHarimurti-Sylviana Murni, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Apa yang membuat pemberitaan diluar semakin hangat? itu semua tidak lain karena salah satu dari calon tersebut yang akan mencalonkan diri sebagai GubernurDKI Jakarta 2017 adalah Bapak Ahok yang beragama Non-Muslim telah diusung oleh beberapa partai, dan lebih parahnya banyak dari mereka yang mendukung adalah orang-orang Muslim.
Liana Pasya
Mengapa ini bisa terjadi? ya..tentu kita semua ketahui bahwa saat ini dapat dikatakan Rakyat Indonesia sedang krisis kepercayaan terhadap para pemimpin mereka yang kebanyakan orang Muslim, hal tersebut dapat kita lihat dan dengar banyaknya para koruptor yang semakin hari semakin bertambah, perekonomian rakyat semakin memburuk, dan lain sebagainya.
Dengan segala problema yang ada di Jakarta yg kita ketahui sangat semraut munculah sosok Ahok, dengan sikapnya yang tegas dalam hal perubahan ingin menjadikan Jakarta lebih baik karena  jakarta merupakan ibu kota Negara Indonesia.Oleh Karenabanyak rakyat yang simpatik terhadapnya walaupun juga banyak yang tidak menyukainya, dengan percaya diri Ahok mencalonkan diri kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2017.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Ahok adalah warga Indonesia keturunan Tionghoa dan merupakan warga Non-Muslim. Saat ini banyak pro dan kontra terhadap pencalonannya, sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2017.
Hal ini sampai terjadi karena kurangnya ilmu agama yang dimiliki oleh para pendukung Ahok yang tidak lain adalah warga Indonesia yang Muslim. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya orang muslim yang tentunya beragama Islam. Walaupun negara Indonesia bukanlah negara islam, ini merupakan masalah penting, karena Allah SWT bersabda :“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang Mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun...” (Al-Imran:28).
Selain itu juga Allah SWT terangkan di Al-Quran surah Al-Muntahanah: 1, At-Taubah:23, An-Nisa:144, Al-Maidah: 51 dan 57, dan masih banyak lagi, hal tersebut menyatakan bahwa memilih seorang pemimpin itu tidaklah boleh sembarangan melainkan harus sesuai dengan hukum-hukum Allah yang telah Dia tetapkan.
Apabila kita menelaah kembali sejarah Islam ketika Baginda Rasulullah SAW saat wafat, para sahabat sampai menunda pemakaman Baginda Rasulullah SAW selama 3 hari karena kosongnya kursi kekhalifahan saat itu.
Itu menandakan bahwa ada hal yang lebih penting, lebih genting. Sehingga saat itu dengan berbagai musyawarah dari para sahabat Rasulullah SAW, maka dipilihlah Abu Bakar RA, begitu banyak pertimbangan yang dilakukan para sahabat saat itu, siapa yang layak menggantikan Baginda Rasulullah SAW. Sehingga mereka cukup lama untuk memutuskannya karena pertanggungjawaban seorang pemimpin kelak adalah kepada Allah SWT.
Dalam Islam terdapat pedoman atau panduan dalam melahirkan kepemimpinan yang di ridhai Allah swt, yang membawa kemaslahatan, menyelamatkan manusia dunia dan akhirat. Dalam Al-Quran surah An-Nisa: 59 menjelaskan bahwa ketaatan kepada ulil amri (pemimpin) harus dalam rangka ketaatan pada Allah SWT dan Rasulnya.
Jadi bagaimana bisa kita sebagai seorang muslim yang beragama islam memilih pemimpin yang tidak satu aqidah/ keyakinan dengan kita yang mayoritas penduduk indonesia adalah orang Muslim. Bagaimana mungkin orang yang berbeda keyakinan bisa menjalankan syariat Islam secara Kaffah (menyeluruh), sedangkan ia tidak beriman.
Karena Allah pun telah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh kalian yang nyata.(TQS al-Baqarah [2]:208).
Memilih pemimpin haruslah yang baik dan beriman, apabila pemimpin negara itu jujur, cerdas, dan amanah, niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara.
Oleh karena itu islam memberikan pedoman dalam memilih pemimpin yang baik sesuai dengan syariat/hukum Allah SWT.
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil merekasebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS.Al-Maidah:51).
Jadi Apakah kita sebagai orang Muslim yang beragama Islam masih mau memilih pemimpin Kafir? Apakah kita sebagai umat Islam akan melanggar hukum-hukum Allah SWT yang telah ditetapkan olehNYA? Hanya hukum Allah SWT lah yang terbaik yang harus kita pergunakan, bukan hukum yang dibuat oleh manusia. Karena Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan seluruh jagad raya. Oleh karenanya dibutuhkan seorang Khalifah (Pemimpin) dimuka bumi ini yang dapat menjalankan hukum Allah SWT secara Kaffah (keseluruhan). Bukan pemimpin yang dia dipilih karena ada faktor-faktor tertentu seperti menguntungkan orang-orang tertentu saja.
Khalifah (pemimpin) adalah pemegang mandat Allah SWT untuk mengemban amanah dan kepemimpinan langit di muka bumi ini. Oleh karenanya bila kita sebagai orang islam bingung dalam memilih seorang pemimpin,maka kembalikan semua kepada Al-Quran dan as-sunnah.
Dan ingatlah bahwa siapapun yang memilih maupun yang dipilih, semua akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.
Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah SWT dan terhindar dari Azabnya yang pedih. Amin (*)
Penulis: Liana Pasya (MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website