Produk Ibu Era Kapitalisme Kehilangan Fitrahnya

Sebuah media online di Jakarta memberitakan, “warga di sekitar rumah kontrakan Aipda Deni langsung berkumpul saat Aipda Deni berteriak histeris usai menemukan anaknya telah dimutilasi isterinya, Mutmainah.”
 
Warga memasuki rumah kontrakan Aipda Deni, mereka melihat ada potongan tubuh yang berada di kamar kontrakan.
 
"Saya lihat itu (potongan tubuh di atas piring ) pas masuk ke kontrakannya. Saya nggak berani merubah apapun," kata ketua RT 04, RW 10, kelurahan Cengkareng Barat, Suyadi saat ditemui di lokasi kejadian, belum lama ini.
Siti Nur Shofiyyah Yani
Suyadi menjelaskan, dirinya masuk ke rumah kontrakan Aipda Deni sekitar pukul 20.00 (WIB).

Dirinya masuk ke kontrakan Deni setelah mendapat laporan dari warga. Saat masuk ke kontrakan, Suyadi begitu kaget mendapati kondisi kamar Mutmainah. Darah berceceran di sprei tempat tidur dan lantai kamar. Mutmainah saat itu ditemukan dalam kondisi telanjang.

Sedangkan anak pertamanya, Arjuna berada di samping Mutmainah dalam keadaan tidak bernyawa. Kondisi bayi 1 tahun itu sangat mengenaskan, beberapa bagian tubuhnya dipotong sang ibu. Tak jauh dari tempat tidur warga menemukan piring yg tergeletak di atas lantai. Begitu kagenya warga saat melihat di atas piring itu ada potongan tubuh bayi yang dimutilasi Mutmainah.

          Rumah kontrakan Aipda Deni berukuran 3×6, rumah itu terdiri dari 3 ruangan, yakni ruang tamu, kamar, dan dapur. Mutmainah diduga memutilasi bayinya di kamar.

Di duga, Mutmainah dalam keadaan depresi. Mutmainah diamankan Polsek Cengkareng di lokasi kejadian. Wanita berusia 28 tahun itu dibawa ke rumah Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jatim untuk diperiksa kondisi kejiwaanya.

Seorang Ibu zaman dulu walaupun masih diusia muda, tapi ia memahami firahnya. Walaupun ia masih belum memiliki pengetahuan terkait cara mengurus anak, namun ia berusaha untuk memahami karena ia mempunyai kasih sayang kepada anaknya, dengan cara mencari tahu dan banyak belajar, kasih sayang naluri keibuan yang ia miliki itu luar biasa kepada anaknya.

Akan tetapi sangat jauh berbeda dengan ibu-ibu disaat sekarang ini, yang tidak ingin terganggu oleh anaknya, ia lebih mengutamakan rasa keegoisannya karena yang ada di pemikirannya adalah faktor materialistik, masih ingin senang-senang, ingin hidup bebas tanpa ada gangguan dari anak, tidak ingin terikat dengan tugasnya sebagai seorang ibu dan isteri serta bisa juga karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

Sehingga ibu sekarang lebih mudah depresi, karena ia memikirkan kondisi yang sedang ia hadapi.  Sebagai contoh, para ibu di zaman sekarang baru punya satu orang anak tapi sudah kesulitan dan tidak mampu dalam mengurus anaknya, maka dari itu saat ini banyak para ibu yang mengambil langkah praktis yakni dengan cara menitipkan anaknya kepada nenek, tante, baby sister, atau tempat penitipan anak dll.

Mereka menitipkan anaknya dengan alasan sibuk kerja, membantu suami untuk menambah penghasilan dalam mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.
 
Fenomena ibu yang kehilangan fitrah karena depresi (gagal mengatasi masalah hidupnya) dan lain-lain, ibu bunuh diri bawa anaknya, ibu buang bayi, ibu mutilasi bayi sederetan peristiwa tersebut muncul karena sistem yang banyak memicu masalah, keluarga tidak membantu ibu menyelesaikan masalah dan negara kapitalis gagal mencetak insan problem solver.

Dari semua penjelasan di atas, telah terbukti banyaknya fakta-fakta yang membuat para ibu itu kehilangan naluri keibuan, serta kelembutan dan rasa kasih sayang  fitrah yang ada di dalam dirinya itu telah tumpul, ia cenderung rentan dari sikap emosional kepada anaknya sehingga muncullah pikiran ingin membunuh, memutilasi, membuang, dan mengaborsi anaknya.

Kapitalis adalah akar dari permasalahan tumpulnya fitrah seorang ibu ini. Disistem kapitalisme ini apapun bisa saja terjadi, termasuk  kasus ibu yang tega memutilasi anaknya.     

Hal ini sudah tidak menjadi sesuatu yang tabu lagi. Sangat ironis, apabila kita melihat kondisi sekarang dimana anak itu bukan lagi menjadi dambaan bagi seorang ibu, para ibu sekarang menganggap anaknya adalah penghalang bagi dirinya atau dia khawatir terhadap masa depan anak nya dalam ekonomi yang serba kurang.

Kapitalisme telah menjauhkan para ibu dari fitrah nya, hingga para ibu tega untuk menghabisi nyawa anaknya sendiri.

Ini tidak dapat didiamkan, harus ada upaya dalam menuntaskan problematika ini. Sudahi sistem kapitalisme yang rusak ini, yang menjauhkan para ibu dari fitrahnya. Menerapkan islam dalam kehidupan adalah solusinya, karena hanya dengan penerapan islamlah para ibu akan kembali pada fitrahnya.

Islam memiliki seperangkat aturan yang sempurna, yang akan menjaga fitrah seorang ibu, dan tentu nya penerapan islam yang sempurna itu hanya akan didapati dalam naungan khilafah islamiyah.(*)

Penulis :   Siti Nur Shofiyyah Yani ( Pengajar, pemerhati Remaja dan Lingkungan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website