Menghina Al-Qur’an Apakah Cukup Hanya Dengan Minta Maaf ???

Permintaan maaf Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait ucapannya yang dianggap menghina agama diperkirakan tidak menghentikan upaya hukum oleh sejumlah pihak yang melaporkannya ke kepolisian. Pengamat politik memerkirakan isu Suku Agama Ras dan Aliran (SARA) akan digunakan sebagai kampanye hitam untuk mengurangi popularitas Ahok. Senin (10/10) 09.30 WIB pagi,
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak akan lagi menyinggung-nyinggung ayat kitab suci. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ahok saat mengucap permintaan maaf kepada umat islam, yang dinilai banyak pihak menyinggung isi Al Qur’an.
Siti Nur Shofiyyah Yani

Ahok mengatakan dirinya meminta maaf kepada umat islam terkait ucapannya soal surah Al Maidah : 51 yang dianggap oleh sejumlah pihak melecehkan agama islam.
“ Saya sampaikan kepada semua umat islam atau yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama islam atau apa, saya minta maaf atas kegaduhan ini. Saya pikir komentar ini jangan dilanjutkan lagi, ini tentu mengganggu keharmonisan berbangsa dan bernegara,jelasnya”.
Permintaan maaf Ahok ini muncul setelah sejumlah pihak melaporkan dirinya kekepolsian terkait ucapannyasaat bertemu dengan masyarakat di kepulauan seribu akhir September lalu.
Selain MUI Sumatera Selatan dan FPI, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah – atas nama Forum Anti Penistaan Agama (FUPA) juga telah melaporkan Ahok ke Bareskrim  Mabes Polri dan Polda Metro Jaya. Ahok dilaporkan dengan dugaan melanggar pasal 156 ayat a KUHP tentang penistaan agama. Mereka menyertakan rekaman video saat Ahok berdialog di kepulauan seribu sebagai barang bukti.
Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan pihaknya menerima permintaan maaf Ahok, tetapi tidak akan mencabut upaya hukum. “ Proses hukum tetap dijalankan agar ada efek jera, ada penegakan hukum, ada perlakuan yang adil terhadap siapapun.” Kata Dahnil ketika dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon, senin (10/10/2016) sore. Tetap saja (ada kekuatan hitam soal SARA) karena itulah sumber kekuatan dari lawan-lawan Ahok. Apa yang mau dipakai lagi (isu lain)? Tidak ada lagikan? Jelasnya.
Meskipun demikian, Arbi meminta Ahok menjauhi isu agama selama menjelang dan disaat Pilkada DKI Jakarta nanti. Dia menekankan hal itu berdasarkan pengalaman Ahok tersebut dan mengomentari soal satu surah dalam Al Qur’an yang berbuah pada gugatan hukum.
“ Dia mungkin salah strategi, menganggap bahwa perhatian soal itu akan mencegah isu SARA secara lebih tegas, tapi akhirnya malah mendapat gugatan,” katanya menganalisa.
Ahok pun tidak meminta maaf atas penghinaan yang dia lakukan terhadap Al Qur’an Ahok malah menuduh ulama yang rasis karena menggunakan penafsiran Al Qur’an sesuai kepentingannya. Berarti Ahok juga menghina ulama dan umat islam. Ahok hanya meminta maaf karena menciptakan situasi kurang kondusif menjelang pilkada, karenanya umat islam harus menyadari ini dan tetap menuntut aparat memproses sanksi atas perilaku penghinaan Al Qur’an, ulama dan umat islam.
Adapun kepada pendukung Ahok hendaknya bertaubatlah karena azab pedih menanti para pembela penghina agama Allah. Ramainya pemberitaan pelecehan terhadap Al Qur’an yang dilakukan oleh Ahok merupakan penistaan agama. Penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok ini tentunya membuat umat islam serentak melakukan penentangan terhadap sikap Ahok yang tidak pantas itu. Dari sini nampak sikap Ahok yang menganggap remeh terkait penistaan agama dengan melecehkan isi Al Qur’an yang dilakukannya, kemudian setelah itu ia langsung meminta maaf dan dengan mudahnya ia berkata “tidak bermaksud menyinggung isi Al Qur’an.
 Seolah menganggap bahwa hal yang dilakukannya itu hanya perkara yang tidak perlu dibesar-besarkan. Padahal, apa yang dilakukan oleh Ahok itu adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dimaafkan begitu saja , serta tidak cukup hanya dengan sebatas kecaman semata, akan tetapi harus ada hukuman yang setimpal atas apa yang telah ia lakukan, sebab perkara ini menyangkut dengan akidah umat islam.
Tentunya akar masalahnya ada pada system kapitalisme sekularisme, demokrasi yang membebaskan kepada siapa saja dalam berucap, kemudian bersikap seolah hal itu adalah suatu perkara yang remeh, padahal semua hal yang dilakukan itu pasti harus ada konsekuensinya  sehingga hukum menjadi berbelit-belit termasuk perkara penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok.
Hanya karena demi kepentingan pemilu Ahok sampai berani mengutip melecehkan ayat Al Qur’an sesuai pendapatnya sendiri. Hari ini Ahok yang melecehkan Al Quran, hari esoknya siapa lagi? Tentunya pelecehan terhadapAl Qur’an ini adalah perkara yang serius. Oleh karena itu tidak cukup hanya dengan mengecam, menyuruh minta maaf dan menjatuhkan hukuman saja.
Namun dalam hal ini harus ada suatu aturan yang menjaga, agar penistaan agama ini tidak terulang lagi. Penjagaan itu hanya akan terwujud jika diterapkannya system peraturan islam secara keseluruhan, tidak ada lagi solusi yang lebih tepat kecuali dengan menerapkan islam secara kaffah. Islam akan menutup semua celah dari segala bentuk pelecehan atau penistaan agama. Tentunya semua itu hanya akan dapat dijumpai dalam naungan Khilafah yang menerapkan islam secara totalitas dalam kehidupan.(*)
Penulis: Siti Nur Shofiyyah Yani



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website