Safari Jokowi : “Antara Tulus dan Modus”

Pembaca yang budiman…. Siapa yang tidak tahu kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahja Purnama “Ahok” ? Kabarnya yang telah menggemparkan publik dan tak kan terlupakan sepanjang masa khususnya pada umat muslim. Mereka tidak menerima kasus ahok dibiarkan saja, sehingga atas dasar keimanan mereka bersatu padu melakukan aksi untuk menuntut agar Ahok segera dihukum karena kita berada di Negara hukum.
Aksi 411 yang dilakukan umat muslim serentak adalah aksi terbesar di Indonesia sepanjang sejarah. Bahkan tak hanya para ulama, kyai, habaib, ormas islam dan lain-lain yang antusiasnya sungguh luar biasa hingga sekarang, para panglima pun juga ikut menikmati suasana gentir ini. Hal ini juga menggerakkan hati  pemimpin no.1 Se-Indonesia “Jokowi”. Perhatian dan keprihatinan beliau sangat dibutuhkan agar keadilan ditegakkan.
Aksi yang dilakukan umat muslim berlangsung dengan damai dan tentram, namun sayangnya ada oknum tertentu yang mengundang kericuhan. Pak Jokowi pun beranggapan ada oknum politik yang menunggangi demo itu. Sehingga pasca aksi 411 tersebut Bapak Presiden bersafari ke basis-basis TNI dan Polri. Ada tiga poin utama yang disampaikan Jokowi dalam kunjungan tersebut, yaitu legitimasi (legitimacy), keamanan (security), dan kebhinekaan (diversity) Indonesia. Ketiga hal ini terus diulang-ulang Jokowi untuk mengantisipasi kejadian yang menghancurkan keutuhan NKRI dan menganggap kondisinya genting. Namun yang perlu kita ketahui, harusnya Safari Jokowi tidak hanya pada saat-saat seperti ini. Perlu kita pertanyakan, safari Jokowi apakah tulus atau modus? Bukan untuk meragukan keseriusan beliau sebagai pemimpin, hanya saja sampai saat ini kasus Ahok belum tertuntaskan. Meski Ahok dianggap sebagai tersangka, namun tidak nampak kesungguhan mewujudkan aspirasi umat Islam untuk menghukum penghina Al Qur’an. Buktikan nilai sila pertama dan kelima yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia!
Wahai umat muslim, kita harus bisa berfikir secara jernih karena hukum dan kebenaran tertinggi sejatinya adalah dari yang maha sempurna. Kita sebagai manusia memang tidak sempurna tapi ISLAM itu sempurna.(*)
Penulis: Nurul Fauziah (Mahasiswi STIE Madani Balikpapan dan MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website