Ada Korupsi di Kampus?

Dunia Pendidikan di Indonesia kembali ternoda. Tak berhenti sampai pada wacana pemerintah mengimpor rektor, kini mencuat lagi kasus yang menyayat hati anak negeri.
Murni Arpani

Akhir Oktober lalu, KPK mengusut dugaan korupsi dan indikasi adanya masalah terkait pemilihan rektor di sejumlah Perguruan Tinggi Negeri. Hal ini diakui langsung oleh Ketua KPK Agus Rahardjo dalam keterangan pers mengenai operasi tangkap tangan (OTT) yang berhasil menangkap tiga orang serta barang bukti uang suap senilai 148.835 dollar AS.
Dalam kesempatan lain, Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Donal Fariz menganggap korupsi dalam pemilihan rektor perguruan tinggi termasuk dalam 12 modus yang terjadi dalam sektor pendidikan. Lebih dari itu, permainan dalam pemilihan tersebut dijadikan pintu masuk bagi pemegang kuasa untuk melakukan praktik korupsi yang lebih luas.
Pasalnya, anggaran untuk pendidikan merupakan salah satu sektor tertinggi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016, yakni sebesar Rp 424 triliun. Data ICW pun menyebutkan bahwa sektor pendidikan merupakan salah satu sektor tertinggi terjadinya tindak korupsi. Sebagaimana teori korupsi, dimana ada uang, di situlah potensi korupsi makin besar.
Korupsi yang bisa tumbuh sebagai dampak permainan pemilihan rektor antara lain dalam pengadaan barang dan jasa, penjualan aset perguruan tinggi, penerimaan mahasiswa, dan juga penyalahgunaan wewenang dalam pemilihan jajaran di bawahnya seperti dekan-dekan fakultas. Belum lagi praktik pungli oleh oknum akademisi di perguruan tinggi itu. Setidaknya ada 37 kasus menyangkut perguruan tinggi yang ditangani aparat penegak hukum. Rata-rata kasusnya terkait pengadaan fasilitas dan pembangungan infrastruktur.
Menindak lanjuti kasus tersebut, KPK bermaksud akan mengkaji hak suara Menteri sebesar 35 persen dalam pemilihan rektor. Pemerintah sendiri memiliki alasan di balik penetapan hak suara Menteri Ristek dan Dikti sebesar 35 persen untuk memilih rektor perguruan tinggi negeri, dan 65 persen lainnya dipilih oleh senat. Aturan ini telah berlaku sejak era pemerintah sebelumnya, saat Mohammad Nuh masih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Dalam pengkajian yang mendalam, besarnya hak suara menteri dalam pemilihan rektor ini rupanya bisa menjadi salah satu celah korupsi dan sangat rawan intervensi. Karena terkadang, calon yang terpilih bukan yang memliki suara terbanyak dari hasil pemilihan internal (senat).
Tentu saja hal tersebut dapat terjadi, dengan bertopang liberalisme yang dilegalkan oleh sistem Demokrasi Kapitalis seperti yang diadopsi negeri ini, kasus penyimpangan dapat menerpa setiap sendi dan aspek. Terutama aspek politik yang pada faktanya disinyalir mampu menguasai hajat hidup orang banyak untuk mengeruk keuntungan berlipat ganda oleh hanya segelintir orang kaya.
Bukan tidak mungkin dalam sistem korup negeri ini pendidikan tingginya justru melahirkan orang-orang bermental korup. Sistem sekuler yang dianut berbalik menghancurkan peran dan fungsi vital aparatur negara mengayomi masyarakat yang bernaung di dalamnya. Tidak sedikit kasus yang berdengung dan berulang membuat geram. Tetapi pemerintah seolah tidak berdaya memutus mata rantai korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan lainnya. Seolah tidak ada jalan lain lagi bagi pemerintah memberantas akar masalah korupsi.
Sejatinya, peliknya problematika yang menimpa negeri ini bisa teratasi, jika saja pemerintah mau membuka mata telinga dan hati mereka untuk mengambil solusi Islam menyelesaikan setiap permasalahan. Sistem Pemerintahan Khilafah Islam akan membangun pemerintahan berpondasi akidah yang kokoh, memberikan kesejahteraan material maupun spiritual, juga memberikan solusi preventif dan kuratif yang digali dari sumber-sumber hukum Syariah Islam. Oleh karena itu, hanya institusi Khilafah Islamlah solusi paripurna bagi seluruh umat saat ini. Wallahu A’lam bishawab.(*)
Penulis: Murni Arpani, Aktivis MHTI Penajam Paser Utara

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website