Bapak Ibu Kriminal Buah Sistem Ekonomi dan Hukum Indonesia

Tertangkapnya Wali Kota Cimahi nonaktif Atty Suharty Tochija (AST) bersama suaminya, M. Itoc Tochija (MIT), saat menerima transferan uang suap sebesar Rp 500 juta dari total Rp 6 milyar yang dijanjikan, menambah panjang daftar pasutri yang terseret kasus. Pasalnya, sudah bukan kali pertama KPK mengusut pasangan suami istri yang terjerat korupsi kolusi dan nepotisme (KKN).
Di sisi lain, masih berhubungan dengan keterlibatan pasangan suami istri, tertangkap tangan pasangan produsen vaksin palsu. Berikutnya, pasangan pecandu dan pengedar narkoba. Naasnya, terciduk pula pasangan mucikari, penjaja gadis belia dan anak di bawah umur. Begitu kusam wajah pencetak generasi di negeri ini.
Ilustrasi
Tak ada yang menyangkal, suami istri adalah pilar utama keluarga. Bahu-membahu melangsungkan kehidupan berkeluarga dan berumah tangga. Keduanya bersinergi dalam mencetak generasi penerus di masa akan datang. Delapan fungsi keluarga yang meliputi fungsi edukatif, rekreatif, ekonomi, reproduktif, sosialisasi, protektif, afektif, dan relijius akan dapat terlaksana jika pasangan suami istri memiliki visi yang sama.
Tetapi, bila keduanya justru bekerjasama dalam melakukan kriminalitas, misal suami melakukan korupsi di kantornya kemudian dilindungi oleh istri dengan melakukan pencucian uang, atau adanya pasangan suami istri yang candu dan memperdagangkan barang-barang haram seperti narkotika, dan sebagainya. Bagaimana mungkin diharapkan mampu mendidik, membangun keluarga dan menjalankan delan fungsi keluarga tadi secara ideal. Bukan tidak mungkin pasangan kriminal ini justru melahirkan bibit-bibit penerus generasi yang liberal, hedonis, materialistis, bahkan bisa jadi kriminal mengikuti indukannya.
Pasangan liberal bercorak materialistik tersebut, hanya memprioritaskan kebutuhan materi ketimbang kebutuhan non materi (aspek spiritual). Pasangan liberal jenis ini lebih banyak mengumpulkan dan menghamburkan uang dengan cara-cara liberal, serta menghabiskan waktunya untuk memenuhi kesenangan jasmaniah. Tidak pernah merasa puas, dan sanggup menghalalkan segala cara.
Mudahnya suami istri melakukan kriminalitas demi mencukupi kebutuhan ekonomi, adalah akibat  dari penerapan Sistem Ekonomi Kapitalis Liberal di masyarakat oleh negara. Sistem Ekonomi Kapitalis-lah yang membebaskan siapa saja memiliki inovasi strategi/cara memperoleh harta. Mengeruk keuntungan dengan memeras keringat buruh tenaga kerja. Tidak ada batasan dalam kepemilikan, termasuk mengkebiri standar halal atau haram.
Diperkeruh pula mandulnya sistem hukum dalam mewujudkan fungsi preventif dan kuratif atas sanksi. Jual beli hukum yang murah di kalangan kapitalis berefek timbulnya kekisruhan hukum di masyarakat. Oleh karena itu, penerapan sanksi terbalik tidak menjerakan dan tidak pula mencegah pihak lain mengulang kriminalitas.(*)
Penulis: Murni Arpani-Aktivis MHTI Penajam Paser Utara

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website