Ibu Ditanganmu Nasib Generasi

Ketika berbicara tentang ibu dan seputar dunia ibu, maka tak bisa kita pisahkan dengan yang namanya anak-anak..Yups ibu identik dengan anak. Anak identik dengan generasi dan sebuah peradaban. Sehingga sudah sewajarnyalah untuk mewujudkan sebuah peradaban gemilang serta mencetak generasi dengan kualitas terbaik, maka haruslah ditopang oleh ibu-ibu terbaik pula. Sejarah gemilang mencatat dengan tinta emas, bagaimana seorang imam besar sekelas imam syafi’I bisa menjadi sosok yang namanya selalu disebut hingga akhir zaman.Ternyata di balik imam syafi’I ada sosok seorang wanita yang jasanya sangat besar membentuk kepribadian dan pola pikir imam syafi’i. Beliau adalah ibunda imam syafi’i. Bagaimana dahsyat, tangguh dan beraninya Abdullah bin Zubair didalam medan jihad, ini ternyata adalah hasil bentukan dari sosok ibu yang juga dahsyat tangguh dan pemberani. Siapakah dia? Dialah Asma binti Abu Bakar..Itulah sosok sosok manusia dengan kualitas terbaik yang terlahir  dan terdidik dalam sentuhan tangan mulia ibunda-ibunda terbaik..Ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Ilustrasi

Bahkan Jepang sebagai sebuah Negara yang tidak memakai Islam sebagai aturan hidup..ternyata memahami dengan baik posisi strategis ibu ini. Para ibu di Jepang umumnya berpendidikan sarjana disegala bidang. Ketinggian tingkat pendidikan yang di sandang tidak membuat mereka silau untuk menjadi wanita karier dan bekerja dikantor-kantor. Ilmu pendidikan yang mereka dapat dibangku sekolah atau perkuliahan di optimalkan sebagai bekal untuk mendidik anak-anak mereka.
Paradigma keliru Wanita masa kini
Hal sebaliknya yang jauh berbeda dengan masa Islam dan kondisi di Jepang bisa kita lihat saat ini dinegeri kita tercinta. Ramainya fenomena wanita karier untuk mengejar aktualisasi diri dan sejumlah rupiah, bukanlah lagi pemandangan yang aneh. .Anak-anak mereka dititipakan kepada pembantu, baby sitter atau wadah penitipan anak. Ibu yang seperti ini biasanya mempunyai pola piker bahwa materi adalah segalanya..Dengan materi berlimpah maka seolah bisa memiliki segalanya. Padahal materi tetap tidaklah mampu membeli pola piker dan pola sikap anak. Materi tidak mampu membeli sebuah kepribadian dan akhlaq mulia. Dan materi tidak akan mampu menjanjikan sebuah masa depan gemilang dunia akhirat..Efeknya anak menjadi lebih dekat dengan pembantu atau baby sitternya. Baby sitter menjadi sosok yang lebih memahami jiwa anak, mengerti apa yang menjadi kebutuhan anak dan sebagainya. Belum lagi di tambah dengan program sesat ala kapitalis sekuler yaitu program pemberdayaan ekonomi perempuan. Dimana para perempuan di arahkan sebagai roda penggerak pembangunan ekonomi. Peran perempuan terus di geser dari fitrahnya sebagai ibu dan manager rumahtangga. Pada hakikatnya, membuat perempuan mandiri secara ekonomi, bukan hanya tujuan berekonomi saja. Agenda gender adalah satu kesatuan agenda yang memiliki tujuan utama menghancurkan bangunan keluarga ideal. Ide ini telah sukses menghancurkan ketahanan sebuah keluarga.

Islam dan Mulianya peran ibu
Anak merupakan amanah yang harus dipikul oleh pundak orang tua.  Orang tua bertanggung jawab atas terlaksananya amanah ini.  Bila orang tua salah dalam mendidik anak, kesalahan itu menyebabkan kerusakan yang nyata, kelalaian yang serius, pengkhianatan terhadap amanah, dan pertanda dari lemahnya pemahaman dalam hal agama. Islam memuliakan peran Ibu, dan Islam mempunyai mekanisme yang mempermudah terlaksananya dengan optimal peran ini.karena Islam paham benar posisi ibu dalam mencetak sebuah peradaban umat manusia dan keberlangsungan agama ini. Sehingga bisa kita menarik poin kesimpulan bahwa:
  1. Peran ibu adalah peran strategis dalam kehidupan umat manusia bukanlah peran yang biasa-biasa saja.
  2. Pengoptimalan peran ibu menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat.
  3. Diperlukan pembinaan yang serius, terarah dan simultan untuk para ibu agar mampu menjalankan perannya dengan baik.
  4. Terwujudnya generasi berkualitas di masa mendatang bukanlah semata-mata harapan.
  5. Butuh sebuah Negara yang perduli akan peran ibu. Dan Negara itu tidak lain adalah sebuah Negara Islam yang di sebu tKhilafah Islamiyah. #Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga.(*)

Penulis: Tri Maya (aktivis Muslimah HTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website