Karusakan Orangtua Kerusakkan Anak-nya

Keluarga idealnya adalah tempat bersemainya para calon generasi penakluk peradaban. Di keluargalah seharusnya para calon generasi itu didik dan dipenuhi setiap kebutuhan hidupnya. Dan orangtua berperan besar dan penting dalam mendidik generasi tersebut.
Winda Sari
Namun sayang, sungguh speechless (tak bisa berkata apa-apa) menyimak berita di media. Orang tua yang seharusnya membentuk anak untuk bersiap menjadi generasi yang membanggakan justru mengalami banyak keterpurukan. Banyak fakta yang mengungkapkan. Sebagai cotoh, KPK menangkap Wali Kota Cimahi nonaktif Atty Suharti Tochija (AST) dan suaminya, M ItocTochija (MIT), saat menerima transferan uang sebesar Rp 500 juta. Penyuap mereka menjanjikan uang sebesar Rp 6 miliar. KPK bukan kali pertama mengusut pasangan suami istri (pasutri) yang terlibat korupsi. Atty dan Itoc adalah pasutrikesekian yang harus berurusan dengan lembaga antirasuah itu. Bukan cuma itu mantan Bendahara Partai Demokrat, M Nazaruddin ditangkap di Kolombia pada 8 Agustus 2011. Saat itu ia diburu tim KPK karena terlibat kasus suap di Kemenpora dan Wisma Atlet. Adapun istinya, Neneng Sri Wahyuni, juga sempat kabur ke Malaysia. Neneng kemudian ditangkap belakangan atau tepat pada 13 Juni 2012 di rumahnya di kawasan Pejaten, Pasar Minggu. Neneng ditangkap di kasus proyek listrik. M Nazaruddin-Neneng lalu diadili dengan berkas terpisah. Nazaruddin lalu dihukum 7 tahun penjara untuk kasus korupsi dan 6 tahun penjara untuk kasus pencucian uang. Bukan hanya itu, muncul penjualan intim suami-istri. Bukan transaksi video mesum. Namun Suami-Istri  yang tinggal di Jakarta ini mengundang langsung pelanggannya untuk menyaksikan live. Lebih gila lagi, pelanggan yang mau bayar Rp 800 ribu itu boleh berhubungan intim dengan sang Istri.
 Tak kalah rusaknya, ada suami-istri bahkan sekeluarga yang sama-sama memakai narkoba. Bahkan keluarga pembuat dan pengedarnya. Ada keluarga penipu. Ada keluarga pencuri, perampok, pemerkosa. Ada suami-istri pengemis gadungan. Suami-istri produsen makanan berbahaya dan bahkan haram. Suami-istri penculik, penjual bayi bahkan tak jarang anak sendiri. Motifnya? Uang.
Bukan hanya itu Menteri Agama Lukman Hakim pun mengungkapkan kegalauannya, karen peningkatan angka perceraian rata-rata mencapai 10 hingga 15% di seluruh Indonesia.

Indonesia "Darurat" ketahnankeluarga.
Suami istri adalah pilar penting keluarga. Bila keduanya bekerjasama dalam melakukan kriminalitas, bagaimana mungkin diharapkan mendidik, membangun keluarga dan menjalankan 8 fungsi keluarga secara ideal. Mengapa ini terjadi?
Mudahnya suami istri melakukan kriminalitas demi mendapatkan kecukupan ekonomi, adalah akibat sistem sekuler dan ekonomi liberal yang membebaskan cara memperoleh harta dan mandulnya sistem hukum dalam mewujudkan fungsi sanksi yang menjerakan dan mencegah pihak lain mengulang kriminalitasnya.
Jeratan sistem ekonomi Kapitalisme menghasilkan manusia yangberfikir dangkal dan pragmatis, serta sukses meliberalkan keluarga berikut individu-individu di dalamnya. Peradaban sekuler kapitalis sukses merobohkan bangunan keluarga. Elemen terkecil dan terpenting sebuah masyarakat. Dimulai dari menghilangnya harga diri, menggantinya dengan materi. Ya, sistem sekarang telah mengajarkan , bahwa kemuliaan tertinggi sebuah keluarga dalam pandangan manusia adalah materi.
Dahulu, banyak orang miskin Mempertahankan harga diri dengan tidak meminta-minta, tidak mencuri, tidak merampok, tidak menjual harga diri dan tidak terpikir secuil pun untuk berbuat keji. Demi integritas. Biar miskin, yang penting punya harga diri. Ungkapan itu sangat dipegang teguh oleh orang tua zaman dulu. Mereka yang hidup hingga era 80-an. Terlebih jika berkaca pada abad-abad saat peradaban Islam diterapkan. Sungguh, harga diri dan kemuliaan masih bergantung pada nilai-nilai takwa.
Namun hari ini, harga diri tidak lagi menjadi ukuran penting bagi sebuah keluarga. Karena ukuran terpenting dalam menjalankan hidup saat ini adalah materi. Harga diri diukur dari tempat tinggal. Nama komplek perumahan atau cluster pun sudah menunjukkan kasta diri.
Dan ini melanda keluarga-keluarga muslim di Indonesia. Keluarga telah berubah total menjadi keluarga kapitalis dengan ciri permisif (serba boleh) dan hedonis (gaya hidup mewah).
Keluarga harusnya menjadi tempat munculnya kebaikan, kebajikan, dan inspirasi menuju surga. Keluarga adalah wadah penempaan iman, takwa, dan kemuliaan. Tempat menanamkan harga diri atau integritas. Keluarga adalah institusi kebaikan, bukan kejahatan. Harus bebas dari kemaksiatan.
Sungguh, kerusakan keluarga akan berdampak besar pada kerusakan masyarakat. Ini harus segera diselamatkan. Tentu dengan membuang akar masalahnya. Sebab, persoalannya bukan terletak pada individu atau keluarga semata. Tapi sudah sistemik.
Maka sudah saatnya mengganti peradaban sekuler-liberal yang rusak dan merusak ini dengan peradaban Islam. Terapkan seluruh sistem Islam secara Kaffah. Sistem yang akan membawa keimanan pada keluarga dan individu-individu di dalamnya. Sistem yang hanya menawarkan kebaikan dan kebajikan bagi manusia seluruhnya.(*)
Penulis: Winda Sari (Mengajar dan Aktivis di Muslimah Hizbut Tahrir Paser)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website