Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga

Kerapuhan dan malapetaka tengah mengancam keluarga Indonesia. Kasus kekerasan dalam rumah tangga menggunung. Ketidakharmonisan rumah tangga sudah menjadi berita sehari-hari dan bahkan perceraian seringkali tak bisa dihindari. Tren perceraian yang terus meningkat beberapa tahun terakhir selayaknya mendapat perhatian serius semua kalangan. Tidak main-main, Indonesia menempati ranking teratas dengan jumlah perceraian tertinggi di dunia. Setidaknya 40 perceraian terjadi setiap jam nya. Dari data tersebut juga terungkap bahwa sejumlah 70,5 persen nya adalah gugat cerai (khulu’) dan angka cerai talak 29,5 persen Terus meningkatnya kasus perceraian tentu berdampak besar bagi masa depan bangsa ini.
Di Balikpapan sendiri, Angka perceraian setiap tahun mengalami peningkatan tajam. Pengadilan Agama Balikpapan mencatat dari Januari sampai September 2016 terjadi 1.535 kasus perceraian. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan pada tahun 2015 periode yang sama yakni 1.460 kasus atau meningkat 15 persen. Menurut salah seorang hakim pengadialan agama Balikpapan, Rusinah, "Kasus perceraian paling banyak yang ditangani PA Balikpapan sepanjang tahun 2016 ini adalah cerai gugat yang mencapai 744 kasus, disusul cerai talak sebanyak 324 kasus (okezone.com)
Ilustrasi
Instrument penghancur ketahanan keluarga
            Bicara perceraian adalah bicara tentang relasi hubungan antara laki laki dan perempuan dalam sebuah rumah tangga. Dan bicara perceraian juga berbicara mengenai instrument instrument apa saja yang menjadi pemicu,penyebab bahkan akar masalah terjadinya kasus perceraian dan meningkatnya fenomena angka perceraian. Sebagaimana yang kita ketahui dalam dasawarsa terakhir ini, kasus gugat cerai justru mendominasi pola rusaknya hubungan suami istri. Sejalan dengan meningkatnya arus globalisasi dan informasi, maka semakin meningkat pula arus perceraian. Wajar, kalau sebagian kalangan menilai, kemajuan teknologi adalah salah satu sarana pemicu retaknya hubungan suami istri. 
Menurut www.sehatki.com, ada 5 penyebab utama perceraian yaitu, financial,pasangan yang tidak setia,seks,anak,kekerasan dan komunikasi. Sementara menurut www.pelangiblog.com ada 11 penyebab umum terjadinya perceraian yaitu ekonomi,komunikasi pasif, perbedaan, tidak konsekuen,perselingkuhan,nafkah batin,kesibukan pekerjaan yang berlebihan,kurang perhatian,saling curiga,sering bertengkar,intimidasi dan tindak kekerasan.
Ketika kita melihat persoalan ini dengan jeli, sebenarnya rapuhnya institusi keluarga muslim yang berujung pada perceraian dipengaruhi oleh factor internal dan factor eksternal. Faktor internal yaitu lemahnya aqidah kaum muslimin. Kelemahan aqidah ini membuat keluarga muslim tidak memiliki visi dan misi hidup yang jelas. Selain itu lemahnya pemahaman terhadap aturan-aturan Islam, termasuk di dalamnya adalah bagaimana sesunggunya konsep pernikahan dan dan membangun keluarga. Sehingga seolah olah pernikahan sakinah mawaddah wa rahmah hanya sebagai kata kata mutiara penghias undangan pernikahan. Tanpa mampu menemukan realitasnya dalam menjalani kehidupan. Sedangkan faktor eksternal yang membuat keluarga muslim semakin rapuh, adalah konspirasi asing untuk menghancurkan umat Islam dan keluarga muslim melalui serangan pemikiran dan budaya sekuler yang rusak dan merusak. Serangan ini semakin nemancapkan jari jemari penjajahannnya melalui berbagai produk undang undang hasil ratifikasi konfrensi tingkat dunia.
Sebagaimana kita ketahui, barat tidak pernah berhenti mengarahkan moncong senjatanya ke negeri negeri kaum muslimin. Sejak kegagalan mereka di perang salib, maka mereka mengganti pelurunya menjadi serangan pemikiran. Dan sejak mereka berhasil menghancurkan Daulah khilafah Islamiyah, maka praktis kaum muslimin tidak punya benteng pelindung yang lain selain keluarga muslim. Inilah benteng terakhir yang ingin mereka hancurkan. Sehingga tidak akan ada lagi profil pejuang islam yang lahir dari keluarga muslim. Harapan mereka, sudah tidak akan ada lagi kemungkinan bagi kaum muslimin untuk bangkit, karena mereka berhasil menghancurkan islam sampai ke benteng terakhirnya. Sehingga mereka pun membuat berbagai macam cara untuk membuat kaum muslim menganut ide ide liberal yang mereka puja. Berbagai macam program mereka gagas, yang seolah olah program itu untuk membantu kemajuan  Negara Negara berkembang.
Efeknya sebagaimana yang kita lihat dewasa ini, kehancuran keluarga pasti nerpengaruh kepada kualitas generasi yang dihasilkan. Anak-anak menjadi korban utama. Pola asuh dan proses pendidikan dalam keluarga jelas terganggu. Kualitas kehidupan anak-anak bangsa kian memburuk. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 5 masalah aduan anak terkait perceraian di tahun 2016. (a) Korban hak asuh 86 kasus (b) pelarangan akses bertemu orang tua 193 kasus (c) penelantaran ekonomi 124 kasus (d) anak hilang dan (e) penculikan keluarga. Yang tak terbantahkan, kondisi rapuhnya keluarga sangat berpengaruh pada kualitas generasi. Faktor keluarga adalah faktor utama yang berkontribusi pada semakin banyaknya generasi yang terjerumus penyimpangan perilaku semisal narkoba, geng motor, LGBT dan pergaulan bebas.
Kritik terhadap Upaya untuk mewujudkan ketahanan keluarga
            Kita memang tidak menutup mata, bahwasanya ada upaya upaya yang dilakukan baik skala individu, maupun kelompok yang perduli terhadap persoalan genting ini, dalam upaya menyipakan calon pasangan suami istri, kita tahu ada upaya kursus pra nikah baik oleh kementrian agama maupum melalui lembaga lain. Yang inti dari programnya adalah sebagai upaya pencegahan terhadap kasus perceraian. Dalam memandang persoalan generasi, maka ada gerakan penyadaran tentang pentingnya meningkatkan kualitas generasi dan anak anak Indonesia. Misalnya Ada program parenting ayah edi, ataupun dari pihak sekolah, sebagai wadah sharing bagi para orang tua untuk menjaga anak anak dari lingkungan yang buruk, dan untuk melejitkan potensi anak, ataupun LSM semacam yayasan kita dan buah hati, yang memfokuskan pada pendidikan anak di era globalisasi.
            Namun bisa dikatakan, bahwa program ini tidak menyentuh ke persoalan utama. Bahwa generasi yang rusak, kebanyakan dan memang terbukti berasal dari latar belakang keluarga yang rapuh dan bermasalah. Seperti yang sebelumnya telah diungkapkan pada awal makalah, bahwa tingginya tingkat perceraianlah yang menjadi penyebab utama kehancuran ketahanan keluarga. Sebagai konsekuensi dari tingkat perceraian, maka akan muncul berbagai macam masalah. Atau, meskipun tidak sampai terjadi perceraian, ada fungsi fungsi keluarga yang terabaikan. Salah satunya yang menjadi sorotan pemerintah adalah fungsi ekonomi. Maka digagaslah berbagai program pemberdayaan ekonomi perempuan, yang bertujuan agar perempuan tetap mampu menjalankan dan menjadi penyumbang terbesar jalannya roda perekonomian Negara.  Begitupun untuk menghindari terjadinya kekerasan terhadap perempuan, maka Negara pun mengaturnya dalam UU PKDRT. Bagimana dengan anak,” jangan khawatir”, Negara pun siap dengan UU Perlindungan Anak.
            Lantas, apakan program ini efektif dan mampu menyelesaikan masalah? Tentu saja tidak. Bahkan program ini sama sekali tidak menyentuh akar masalah. Mewujudkan ketahanan keluarga sebagai salah satu pilar katahanan masyarakat dan bangsa tidak bisa dibebankan pada kualitas individu dalam memerankan diri di masing-masing keluarganya. Fungsi religi, edukasi, proteksi, ekonomi, sosialisasi, afeksi, reproduksi dan rekreasi mustahil diwujudkan oleh masing-masing keluarga tanpa peran besar negara. Justru disinilah fungsi utama dalam rangka menjaga ketahanan keluarga harus diwujudkan. Negara diharapkan menyediakan seluruh perangkat dan prasarana agar setiap individu dan setiap keluarga mampu memerankan fungsi-fungsinya secara ideal, tanpa gangguan dan tidak tumpang tindih. Fungsi ekonomi misalnya, bisa terjalan bila negara menopangnya dengan memberikan pendidikan untuk menjelaskan siapa saja pihak yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Negara juga harus menyediakan program dan sarana pelatihan agar individu terampil bekerja, membuka lapangan kerja, memberi kemudahan permodalan dan pengembangan usaha . Negara bahkan dituntut menghapus semua praktik kecurangan di dunia usaha. Karenanya, mengatasi kerapuhan keluarga yang dipicu faktor kemiskinan tidak bisa dilakukan dengan mendorong lebih banyak kaum ibu untuk bekerja. Justru kebijakan ini akan berlawanan dengan perwujudan fungsi keluarga yang lain yang melibatkan ibu.
Negara harus mampu membuat kurikulum pendidikan  yang menghasilkan manusia seutuhnya (insan kamil), melakukan penataan terhadap media dan content contentnya yang mewujudkan masyarakat cerdas dan peduli, sistem ekonomi yang menyejahterakan, mewujudkan sistem sosial budaya yang meninggikan peradaban, pemberlakuan sistem hukum yang memberikan rasa keadilan serta mengintegrasi fungsi edukasi negara yang mencakup pendidikan formal, informal dan non formal. Namun, semua tidak bisa dilakukan oleh negara sebagaimana paradigma sistem demokrasi saat ini. Hanya negara berdasarkan Islam yakni Khilafah Islamiyah lah yang bisa diharapkan mewujudkan peran idealnya. Karena itu solusi tuntas bagi persoalan massalnya kerapuhan keluarga adalah berjuang bersama menegakkan sistem Khilafah yang akan secara nyata menghadirkan Negara sebagai Soko Guru Ketahanan Keluarga.(*)
Penulis: Ari Nur Ainun


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website