Solusi Tambal Sulam Dibalik Kursus Pranikah


Berdasarkan data yang di himpun dari Pengadilan Agama Kota Balikpapan,  dariJanuari sampai September 2016 jumlah kasus perceraian mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015. Hakim Pengadilan Agama (PA) Kota Balikpapan Rusinah saat ditemui di ruang kerjanya Rabu (9/16) mengatakan, pada periode yang sama tahun lalu hanya mencapai 1.460 kasus, sementara dari Januari-September 2016 sudah mencapai 1.535 kasus atau meningkat sekitar 15 persen.
Menurut Rusinah, kasus perceraian paling banyak yang ditangani PA Balikpapan sepanjang tahun 2016 ini adalah cerai gugat yang mencapai 744 kasus, disusul cerai talak sebanyak 324 kasus. Dari keseluruhan kasus perceraian sepanjang tahun 2016, sebagian besar adalah adanya gugatan cerai dari pihak istri. Perceraian yang sudah diputuskan sepanjang Januari-September 2016, paling banyak terjadi pada Januari ada 250 kasus, Februari 226 kasus, dan Maret 218 kasus.
Ilustrasi
Di tambah juga terdapat penemuan fantastis yang di peroleh Kemenag bahwa jumlah kasus perceraian yang diputus Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231, naik sekitar kasus 131.023 dibanding tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus.Sementara dalam persentase berdasarkan data Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, dalam lima tahun terakhir terjadi kasus Cerai Gugat mencapai 59 persen hingga 80 persen. Angka itu didominasi kasus cerai gugat di beberapa daerah seperti Aceh, Padang, Cilegon, Indramayu, Pekalongan, Banyuwangi, dan Ambon.
Angka – angka ini tentunya membuat pihak pihak terkait panik seperti Kemenag, Hakim Pengadilan Agama serta kepala Puslitbang.Hingga di gagaslah beberapa solusi yang di harapkan mampu menekan laju tren gugat cerai ataupun cerai talak di kalangan masyarakat Indonesia. Salah satu solusi yang coba di tawarkan adalah mewajibkan bagi calon pengantin untuk mengikuti kursus pranikah.Selanjutnya, untuk kursus idealnya satu bulan dengan minimal pertemuan sebanyak tiga kali dan dibina oleh tokoh  yang memiliki pengaruh baik dan bisa menjadi teladan. Selain pemerintah kursus ini juga dapat dilakukan oleh  organisasi masyarakat, namun harus atas rekomendasi pemerintah sehingga pelaksanaannya tidak ada penyimpangan dan masyarakatnya mau menjalankan.
Benarkah kursus pranikah akan mampu menekan laju angka perceraian???
Secara sadar kita memahami bahwa yang namanya perceraian itu pastilah akan berdampak kepada banyak pihak, terutama anak-anak. Fenomena yang jelas akan tampak adalah kehancuran sebuah generasi, hilangnya tauladan utuh yang bisa di peroleh anak dari figur ayah dan ibu yang berpisah, belum lagi efek psikologis yang tentunya menjadi beban tersendiri bagi anak. Keluarga yang harusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi anak, kinimulai tergerus fungsinya..Tidak ada lagi kedamaian disana, karena semua pondasi itu telah hancur oleh sebuah keegoisan perceraian. Berbicara solusi kursus pranikah untuk mencegah laju angka perceraian sepertinya adalah sebuah paradigma berpikir yang dangkal. Karena solusi ini tidaklah menyentuh akar masalah dari perceraian itu sendiri. Bagaimana bisa berbagai macam UU tentang perkawinan tersebut, hanya ingin di tuntaskan dan di pahamkan kepada calon pengantin hanya dalam rentang waktu 1 bulan. Sedangkan di sisi lain gempuran arus liberalisasi media, lingkungan sosial yang tidak  islami, pendidikan yang menggunakan kurikulum liberal senantiasa di cekoki setiap jam, setiap detik. Sejatinya kita mengetahui bahwa akar masalah dari tingginya angka perceraian adalah di akibatkan kasus penggunaan media social yang salah kaprah, lingkungan pergaulan yang jauh dari nilai islam, yang semuanya bermuara kepada sebuah system sekuler kapitalis yang serba permissive… Jadi, untuk menekan laju angka perceraian sejatinya haruslah ada sinergis 3 pihak, yakni individu, masyarakat dan Negara… Dan porsi Negara dalam hal ini sangatlah besar.
Negara haruslah menempatkan diri sebagai pilar utama dan paling besar (soko guru).Namun, semua tidak bisa dilakukan oleh negara sebagaimana paradigma sistem demokrasi saat ini. Hanya negara berdasarkan Islam yakni Khilafah Islamiyahlah yang bisa diharapkan mewujudkan peran idealnya. Karena itu solusi tuntas bagi persoalan massalnya kerapuhan keluarga adalah berjuang bersama menegakkan sistem Khilafah yang akan secara nyata menghadirkan #Negara sebagai Soko Guru Ketahanan Keluarga.(*)
Penulis: Tri Maya (Aktivis Muslimah HTI Balikpapan)






                               

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website