Pemusnahan Miras Ala Pemerintah Demokrasi

Ipau
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemberantasan miras-dan rokok ilegal yang dilakukan oleh Bea Cukai semakin meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Bahkan, jumlah pemberantasan di 2016 lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

"Pada tahun ini, terjadi peningkatan yang luar biasa dari sisi penindakan dibanding 2015. Itu dilakukan dinyaris semua pelabuhan dan berbagai macam modus," kata Menteri Sri di gedung Ditjen Bea dan Cukai, jakarta, jumat (23/12).

Dia mencatat, Bea Cukai secara nasional sepanjang 2016 melakukan sebanyak 1.205 kali penindakan miras ilegal dan 2.248 kali penindakan rokok ilegal. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya, di mana pada 2015, Bea Cukai menindak 967 kasus miras ilegal dan 1.232 kasus rokok ilegal.

Atas penindakan rokok dan miras ini, Bea Cukai juga turut berhasil menjalankan fungsi sosial di masyarakat. Keberhasilan seluruh tangkapan ini juga tak lepas dari kerja sama yang baik antara Bea Cukai, BNN, Polri, TNI, Kejaksaan serta kementerian dan instansi terkait lainnya.

"Ini menggambarkan tantangan bea cukai semakin berat, tak hanya untuk naikkan penerimaan negara namun juga jaga keamanan bersama dengan BNN dan Polri, TNI," imbuhnya.

Kantor wilayah bea cukai Jakarta menggelar acara pemusnahan hasil penindakan di kantor pusat DJBC. Barang-barang yang dimusnahkan adalah barang hasil penindakan kantor wilayah bea cukai Jakarta yang terdiri dari 28.787 botol miras, 510 batang cerutu, dan 3,32 juta batang rokok ilegal dengan potensi kerugian negara mencapai Rp12,15 miliar.
Ini merupakan pemusnahan yang kedua di tahun 2016, setelah sebelumnya kantor wilayah bea cukai Jakarta juga melakukan pemusnahan di bulan Juni 2016.
DJBC Jakarta bersama Badan Narkotika Nasional juga mengungkap 41 kali penindakan narkotika, psikotropika, dan prekursor (NPP) periode Januari hingga Desember 2016 sebanyak total 52.145 butir, 6.742 kg, dan lima keping.
Banyaknya barang-barang haram itu, tentulah menjadi PR kita bersama sebagai masyarakat untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran di depan mata. Tanda-tanda yang menggambarkan bahwa sistem sekarang hanya mampu membakar bahan bukti tanpa menyelesaikan masalah adari akaranya sekaligus.
Penyebab utama maraknya narkoba adalah penerapan falsafah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dalam masyarakat saat ini. Ketika kehidupan dunia sudah tidak diatur dengan syari’ah Allah lagi, maka hal ini mengakibatkan banyak yang lalai akan tujuan hidup, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya, lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Akibatnya suburlah pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dalam hidup (hedonisme) dan serba-boleh (permisif). Masyarakat diubah menjadi pemburu kesenangan dan kepuasan. Prinsipnya bukan halal-haram atau pahala-dosa, tetapiuang saya sendiri dan badan saya sendiri, terserah saya, kan tidak mengganggu anda”. Akhirnya, miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dsb, menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.
Ditambah lagi dengan sistem hukum yang saat ini, pecandu narkoba tidak lagi dipandang sebagai pelaku tindak kriminal, tetapi hanya korban atau seperti orang sakit. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere mengatakan (Kompas.com, 4/10): “Pencandu narkoba seperti orang yang terkena penyakit lainnya. Mereka harus diobati, tetapi menggunakan cara yang khusus.”
Disisi lain, sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak. Vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh MA dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara.
Ketika akar masalahnya adalah pengabaian hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkoba adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah.
 Ketika syariat Islam diterapkan, maka peluang penyalahgunaan akan tertutup. Landasan akidah Islam mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Ketakwaan yang terwujud itu akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan narkoba.(*)
Penulis: Ipau (aktivis MHTI)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website