Terbukanya Pintu Maksiat Dimalam Pergantian Tahun

Ilustrasi
Malam pergantian tahun identik dengan yang namanya bunyi petasan bersahutan, warna-warni langit dengan cahaya kembang api, dan semerbak asap hasil bakar-bakar jagung dll. Hal ini sudah menjadi rutinitas dan tradisi di setiap negeri, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas berpenduduk agama Islam.
Jiwa-jiwa yang haus hiburan, tua muda, laki-laki perempuan semua bisa kita lihat tumpah ruah ikut ambil andil dalam euphoria tahun baru. Nyaris semua hotel telah terbooking, dan mayoritas café, bioskop, mall serta tempat hiburan telah terisi oleh mereka yang menanti puncak pergantian tahun ini. Entah berapa duit mereka persiapkan, dan entah berapa banyak dosa yang siap menghadang didepan mereka.
 Momen tahun baru, Neo+ Hotel memberikan penawaran menarik yang sayang untuk dilewatkan. Khusus pada 31 Desember, tamu dapat menikmati new year package room dengan harga Rp 770.480 nett. Termasuk gala dinner bagi dua orang di hotel bintang tiga ini.  
Tidak hanya itu, Sales and Marketing Manager Neo+ Hotel Balikpapan Yetty Mawikere menuturkan, tamu berkesempatan memenangkan door prize yang diundi disela-sela penghitungan waktu mundur menuju 2017 tersebut.
“Kami sudah menyiapkan tiga lembar voucher kamar sebagai hadiah door prize-nya,” sebutnya.
Tawaran menggiurkan bagi mereka yang ingin menikmati malam pergantian tahun dengan suasana eksklusif. Lain halnya dengan pasangan muda mudi dengan kantong pas-pasan maka bagi mereka, terdapat beberapa losmen kelas melati yang bisa mereka jumpai dengan mudah dibeberapa tempat di Balikpapan.
Masyarakat negeri ini sekalipun mayoritas beragama Islam, tetapi life style yang di pergunakan adalah sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan). Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dalam keseharian mereka. Tidak ada lagi yang namanya halal-haram menjadi standart perbuatan.
Mereka terjerumus dalam sikap permissive dan hedonis nya. Hawa nafsu sudah menjadi Tuhan bagi mereka. Sikap seperti inilah yang menjadi kan kemaksiatan begitu merajalela. Terlebih pada malam pergantian tahun ini. Penjualan kondom, obat kuat, minuman keras dan sejenisnya meningkat tajam di banding hari hari sebelumnya.  
Sebenarnya sebagian  ulama sudah menghimbau agar perayaan ini tak digelar, tapi himbauan ulama ini tidaklah maksimal karena tidak seimbang dengan sosialiasi ide-ide sekuler dan hedonisme. Media massa, utamanya televisi terlihat gencar mem-blow up acara hura-hura di malam tahun baru.
Ada kepentingan politik dan ekonomi yang bermain  dalam perayaan tahun baru, sehingga pemerintah enggan membuat aturan hukum yang melarang hura-hura dimalam ini. Kepentingan ekonomi, adalah bagi kelompok kapitalis yang akan  meraup keuntungan luar biasa
Kepentingan bisnis yang mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya.  Adapun kepentingan politik, yaitu membudayakan budaya hedonis dan sekuler untuk menjauhkan masyarakat dari ajaran agama . Dan selanjutnya, diharapkan ketika masyarakat sudah semakin sekuler maka mereka  tak peduli lagi dengan syariat Islam. Mereka tak merasa butuh akan hukum Allah, inilah yang akan melanggengkan keberadaan sistem kapitalisme.
Tahun Baru Dan Syiar Kekufuran
Demikianlah kondisi kaum muslimin di negeri ini. Selain menjadi ajang maksiat, perayaan tahun baru hakikatnya adalah syiar kekufuran. Tak banyak yang tahu bahwa perayaan seperti ini adalah budaya jahiliyyah. Ia adalah ritual tahunan yang lahir dari masyarakat non Islami. Yaitu masyarakat jahiliyyah yang jauh dari hidayah dan menyimpang dari fitrah dan ajaran Islam yang murni.
Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).
Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”  (Syarh Muslim, 16: 219)
Islam Melarang Tasyabbuh (Menyerupai) Orang Kafir
Secara umum kita dilarang menyerupai kaum kafir dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Penyerupaan ini dikenal dengan istilah tasyabbuh.
Nabi saw bersabda,
Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149)
Syaikhul Islam berkata: Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun zahirnya mengafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Ta’ala:
 “Siapa diantara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).” (Al-Iqtidha’: 1/237)
Apa yang dikabarkan beliau Nabi Saw tentang keberadaan kaum muslimin yang  mengikuti kaum kafir, sungguh benar dan telah terjadi. Perayaan tahun baru adalah  syiar kekufuran dan sekaligus bukti konkret dari pengekoran umat ini pada budaya kaum kufar Yahudi, Nasrani bahkan Majusi. Sangat tidak pantas bagi kaum Muslimin mengikuti budaya mereka. Maka jelaslah bahwa hukum merayakan Tahun Baru  bagi muslim adalah haram.  Merayakannya sama saja mengikuti  kekufuran.
Telah nyata dan dzohir bahwa budaya malam pergantian tahun adalah sesuatu yang bukan berasal dari Islam. Dan didalamnya kita hanya menjumpai aneka macam kemaksiatan yang akan menghantarkan kepada dosa dan neraka Allah. Maka patutlah kiranya kita campakkan jauh-jauh budaya tersebut beserta Rahim yang mengusungnya, yaitu Rahim sekuler-kapitalis. Semangat untuk mendakwahkan umat dengan Islam yang Rahmatan Lil Alamin…(*)
Penulis: Tri Maya (Aktivis MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website