TKA Illegal Menjamur, Kedaulatan Terancam

Ilustrasi
Kebijakan bebas visa kepada 174 negara diterapkan pemerintah Indonesia akan memicu bermunculannya TKA illegal, khususnya TKA asal Cina. Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan utama kedatangan mereka yaitu ingin mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya. Terlebih di beberapa wilayah Indonesia terkandung sumber daya alam yang melimpah, khususnya pertambangan.
Beberapa investor dan pengusaha China yang berada di Indonesia menjadi motor bagi TKA ilegal China untuk berbondong-bondong ke Indonesia. Beragam cara kotor dilakukan demi melancarkan niat mereka, seperti penyuapan terhadap pihak-pihak terkait dan penyusupan secara ilegal. Di sisi lain, kebijakan bebas visa seakan menjadi celah bagi warga China untuk menyalahgunakan kepentingan dan perijinan.
Dan ternyata banyak sekali kasus-kasus yang terjadi akibat menjamurnya TKA illegal di Indonesia, diantaranya adalah kasus ditemukannya dokter illegal di klinik kesehatan orthopedic di Jakarta yang mengakibatkan meninggalnya 1 korban jiwa. Kemudian, pada tanggal 27 April 2016 yaitu tertangkapnya 5 orang warga China di kawasan Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta. Mereka semua diduga melakukan aktivitas ilegal yaitu pengeboran untuk proyek kereta cepat Indonesia China. Baru-baru ini tepatnya tanggal 14 Juli 2016 telah ditangkap 17 WNA ilegal China di Mess Shino Hydro kawasan proyek PLTU KM 13, Balikpapan.
Saat penggerebekan belasan WNA ini tidak bisa menunjukkan bukti ijin tinggal maupun kunjungan selama di Indonesia. Masih banyak lagi kasus-kasus yang di timbulkan oleh TKA cina illegal ini. Jumlah mereka yang semakin meningkat dari tahun ke tahun sebenarnya menimbulkan ancaman tersendiri terhadap Kedaulatan dari NKRI.
Bagaimana Islam memandang kebijakan bebas visa ini??
Islam dalam sebuah Negara Khilafahnya akan membagi geopolitik dunia kepada dua saja, yakni Darul Islam dan darul Kuffur. Darul kuffur adalah wilayah diluar kekuasaan daulah Khilafah. Yang kemudian bisa dipetakan menjadi: Kafir Harbi Fi’lan [Kafir yang Musuh Riil], dan Kafir Harbi Hukman [Kafir Musuh Potensial].
Disebut Kafir Harbi Fi’lan karena secara riil memerangi Islam dan kaum Muslim, seperti Amerika, Rusia, Israel, Prancis, Inggris, Cina dan Australia. Disebut Kafir Harbi Hukman, karena tidak memerangi Islam dan kaum Muslim, tetapi berpotensi melancarkan serangan.
Negara Kafir Harbi Hukman ini adakalanya mengikat perjanjian dengan negara khilafah. Karena itu, disebut Daulah Mu’ahadah [Negara yang terikat perjanjian]. Ada yang tidak terikat dengan perjanjian, tetapi meminta perlindungan kepada negara khilafah. Karena itu, disebut Musta’man [Mendapat jaminan keamanan].
Klasifikasi seperti ini mutlak dilakukan untuk menetapkan ketentuan hukum  dengan mereka. Warga negara Daulah Mu’ahadah bisa berada di wilayah Negara Khilafah tanpa visa, karena ada perjanjian antara Negara mereka dengan Negara Khilafah. Berbeda dengan warga negara Daulah Musta’man atau  Ghaira Mu’ahadah, maka dia membutuhkan visa (aman).
Bagi warga Negara asing tadi baik yang berasal dari daulah Muahad maupun daulah Musta’man, maka ketika mereka didalam wilayah daulah Khilafah, maka wajib bagi mereka mentaati hukum-hukum Islam yang berlaku, termasuk didalamnya mereka pun senantiasa di awasi gerak geriknya, sehingga mustahil mereka dapat melakukan yang namanya tindakan kriminalitas, apalagi sampai melakukan ancaman terhadap kedaulatan Negara Khilafah.(*)
Penulis: Tri Maya (Aktivis Muslimah HTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website