Demokrasi Semu Amerika

Jumat, 20 Januari 2017, dengan diwarnai aksi 25 ribu demonstran, Donald John Trump dilantik sebagai presiden ke 45 Amerika Serikat. Ternyata bukan hal aneh kalau disetiap pelantikan presiden AS selalu diwarnai aksi protes, kecil atau besar. Dan jumlah demonstran dalam pelantikan miliuner real estate itu dianggap yang terbesar dalam sejarah. Reuters menyebutkan ujung dari aksi tersebut adalah kerusuhan di beberapa sudut kota Washington dan penangkapan 217 aktivis. Trump memang “terdepan”. Dia menuai kontroversi bahkan dimulai sejak masih menjadi calon presiden.

Aksi menolak Trump pecah sesaat setelah pengumuman resmi hasil Pemilu pada 8 November 2016. Demo meletus di berbagai kota di AS. Aksi penolakan pun terus bergulir hingga mendekati hari pelantikan, dan sepertinya belum menunjukkan indikasi akan mengendur. Tokoh feminis Gloria Steinem, bintang pop Madonna, aktris Scarlett Johansson, dan tokoh-tokoh penting lainnya memimpin unjuk rasa Women's March, Sabtu (21/1/2017) di Washington DC, sebagai penolakan atas pelantikan Trump sebagai Presiden AS ke-45
Dalam pidato pelantikannya hari Jumat, Trump berjanji akan memimpin pemerintahan yang mewakili seluruh harapan warga Amerika. Tetapi para pengunjuk rasa hari Sabtu tidak percaya dengan janji itu. Marta Conte, yang mengaku berasal dari Partai Republik, terang-terangan mengatakan bahwa Donald Trump tidak mewakili nilai-nilai yang diyakininya dan juga nilai-nilai Partai Republik dimana ia bergabung 35 tahun lalu.
Penyelenggara unjuk rasa ini mengatakan mereka ingin mengirim pesan kepada Presiden Trump pada hari pertamanya di Gedung Putih bahwa hak-hak perempuan adalah hak asasi manusia. Berbagai isu terkait hak-hak perempuan ikut digaungkan dalam unjuk rasa, antara lain isu kesetaraan jender dan ras, layanan kesehatan yang terjangkau, desakan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, terutama kekerasan dalam rumah tangga dan pemerkosaan di lingkungan kampus, hak aborsi, perlindungan warga difabel, perlindungan bagi imigran dan komunitas LGBTQ dan isu lingkungan hidup.
Penyelenggara ‘’Women’s March to Washington DC’’ mengatakan ada 673 unjukrasa serupa yang direncanakan di seluruh Amerika, terutama di kota-kota besar seperti New York, San Fransisco dan Boston, dan juga di negara-negara lain. Associated Press melaporkan ribuan warga, termasuk pekerja dan mahasiswa Amerika yang tinggal di Perancis, berunjuk rasa di sekitar Menara Eiffel di Paris dengan meneriakkan yel-yel "Hak Perempuan adalah Hak Asasi Manusia," serupa dengan yel-yel yang diteriakkan di Washington DC. Lebih dari 40 kelompok feminis dan anti-rasialisme ikut serta dalam unjuk rasa tersebut.
Inilah arogansi  Amerika, harus menjadi contoh bagi terpenuhinya kebebasan hak-hak manusia, selalu menuntut yang lebih bebas. Manusia diatas segalanya, tanpa tolok ukur dari Sang Pencipta, dan ini yang akan menjadi jurang kehancuran peradaban manusia karena kebebasan yang diharapkan tidak pernah ada ujungnya. Penguasa dan masyarakatnya saling menuntut kebebasan tanpa batas dan tidak perrnah merasa puas.
AS telah membuka kedok kerusakan demokrasi, bahwa slogan dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat tidak akan pernah terwujud, selama sistem kapitalis tetap digunakan. Hanya dengan sistem Islam hak-hak umat dapat terpenuhi secara keseluruhan karena standar ukurannya jelas dari Sang Pencipta manusia itu sendiri. WalLah a’lam bi ash-shawab.(*)

Penulis: Binti Suhada (Aktivis MHTI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website