Ironi Fasilitas Pendidikan

Dunia Pendidikan adalah sektor penting dalam mempertahankan suatu negara bahkan dunia. Generasi muda berbakat sekaligus cerdaslah yang akan memimpin negara ini maju ke arah yang lebih baik. Dan generesi hebat adalah output yang di hasilkan dari pendidikan yang berkualitas.
Winda Sari

Namun, melihat fakta yang ada tak seperti harapan. Pendidikan di dunia dan Indonesia khususnya masih sangat memprihatinkan. Jauh dari kata Baik. Di sekitar kita masih banyak anak bangsa yang harus mempertaruhkan nyawanya hanya untuk merasakan duduk di bangku sekolah.


Seperti kisah para siswa SD menantang maut yang ada di Desa Layya, Maros, Sulawesi Selatan. Bocah-bocah SD dari daerah itu terpaksa melewati jembatan gantung untuk menyeberang ke sungai tetangga hanya untuk pulang-pergi  sekolah. 


 


Demi menuntut ilmu, ratusan siswa SDN Adiluhur, Kecamatan Adimulyo, terpaksa melewati jembatan bambu untuk pergi ke sekolah. Walau tak layak dan berbahaya, jembatan tersebut merupakan akses terdekat menuju sekolah mereka.


Dan banyak anak-anak di daerah terpencil lain bahkan rela mengarungi arus sungai serta jalan-jalan sukar berkilo-kilo meter hanya untuk pergi sekolah.


Bukan hanya itu, tercatat dari data Dinas Pendidikan Kota Bekasi tahun 2015, khusus untuk bangunan sekolah dasar (SD) di Kota Bekasi mencapai 252 sekolah yang rusak.




Ironis memang. Yang diinginkan pendidikan berkualitas, namun daya dukung fasilitas dan infrastruktur untuk mendukung semua itu sangat minim. Kasus sekolah ambruk di berbagai  daerah, daerah yang belum ter aliri listrik pun berdampak pada fasilitas sekolah yang jauh dari kata layak, bahkan akses pendidikan anak-anak di daerah pun masih sulit. Di tambah banyak kerusakan gedung sekolah dan  perbaikan sarana sekolah banyak yang hanya  mengandalkan dana sosial dari pihak-pihak tertentu.


Di tambah  fakta Sektor pendidikan yang masih kerap menjadi sasaran tindak korupsi. Misalnya saja dari hasil pantauan Indonesia Corruption Watch (ICW) korupsi anggaran di sektor ini selama 2006-2015 mencapai Rp 1,3 triliun. Penggelapan menjadi modus yang paling kerap digunakan untuk mencuri uang di sana.


Dari penelusuran ICW ditemukan 17 obyek yang rentan korupsi. Sarana dan prasana sekolah merupakan sumber dana yang paling banyak dicuri. Kepala dan Pegawai Dinas Pendidikan menjadi pejabat publik yang paling banyak terlibat.


Bentuk lalainya negara pada sektor pendidikan. Akibatnya banyak anak bangsa yang kesulitan bahkan tak mampu menikmati bangku sekolah. Negara pun belum bisa menyediakan jumlah sekolah yang layak bagi anak bangsa, serta kampus yang cukup menampung semua siswa.




 Ditambah kurangnya perhatian pemerintah di sektor ini.


Perbaikan hanya banyak ditemui pada sekolah-sekolah elit yang sebenarnya pun masih layak huni oleh siswa-siswi. Sedang banyak sekolah di daerah yang kasat mata jauh dari kata layak dalam melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang terlalaikan.


 


Abainya pemerintah terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan tidak mungkin dapat mencapai sumber daya manusia yang berkualitas ataupun output generasi hebat.




Berbeda halnya di dalam Islam, negara berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana terbaik dan berkualitas dalam dunia pendidikan. Serta jaminan akses pendidikan bagi semua siswa baik di kota maupun di daerah terpencil. Biaya pendidikan menjadi tanggung jawab negara sebagai pemenuhan hak kepada seluruh warga negara baik muslim ataupun non muslim.



Eksistensi dan kelestarian suatu bangsa ditentukan oleh sejauh mana penjagaan mereka terhadap ilmu.   Sebabnya pendidikan adalah metode untuk menjaga ilmu agar tetap lestari Ketika perhatian negara terhadap pendidikan mulai melemah,  pelan namun  pasti suatu bangsa akan mengalami kemunduran hampir di seluruh bidang kehidupan.  


Realitas ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan perkara urgen yang tidak boleh diabaikan oleh rakyat terlebih negara sebagai pengendali. 


Di dalam Islam negara wajib memperhatikan masalah ini dengan perhatian yang tinggi dan sempurna.


Islam juga telah menetapkan pendidikan sebagai hajah asasiyyah (kebutuhan dasar) yang harus  dijamin ketersediaannya di tengah-tengah masyarakat, seperti halnya keamanan dan kesehatan. 


Sehingga wajar Islam kala di terapkan dalam seluruh aspek kehidupan telah menorehkan tinta emas yang bahkan diakui oleh para ilmuwan barat. Banyak output yang di hasilkan oleh Sistem Islam, bukan hanya akhlak yang baik  juga prestasi yang menjulang tinggi.


Universitas misalnya, pertama kali berasal dari Islam yaitu Universitas Al-Qarawiyyin (Jami’ah Al-Qarawiyyin) yang berada di kota Fez, Maroko yang didirikan pada tahun 859 M. Serta universitas terbesar lainnya yang berasal dari peninggalan Sistem Islam kala diterapkan.




Bahkan banyak Ilmuwan hebat yang di hasilkan oleh Sistem Islam. Seperti sosok Al Khawarizmi penemu aljabar dan angka nol, Firman Ibnu Abbas penemu kerangka pesawat terbang pertama, Ibnu Sina Bapak kedokteran modern, Ibnu Al Haitham penemu optik dan masih banyak lagi.




Generasi hebat dan berkualitas hanya dapat terwujud ketika Islam sebagai Ideologi di terapkan di kehidupan dalam bingkai negara secara menyeluruh dan sempurna. Yang akan mensejahterakan seluruh alam.(*)


 


Penulis: Winda Sari

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website