Kekerasan di Pendidikan Tinggi, Buah Kurikulum Gaya Barat

Problem dunia pendidikan di Indonesia mencuat kembali. Kini lagi-lagi kasus kekerasan terjadi di Perguruan Tinggi yang semestinya mencetak SDM ahli dan innovator. Faktanya hingga sekarang justru banyak mengorbankan anak bangsa.
Murni Arpani
Rektor Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta (24/1), mengakui adanya kekerasan di kegiatan Diksar pada peserta The Great Camping Mapala UII di Hutan Gunung Lawu. Tindak tersebut diketahui dari hasil investigasi internal oleh pihak rektorat dan melibatkan psikolog.
Begitupun halnya dengan  apa yang terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Cilincing, Jakarta Utara. Autopsi dilakukan untuk mengusut korban tewas taruna tingkat I STIP Amirulloh Aityas Putra. Pemeriksaan urin pun dilakukan kepada lima tersangka terkait dugaan penggunaan narkoba, ungkap Awal di Mapolres Jakut (13/1).
Meski demikian, Pemerintah telah berulang kali memutuskan dan memperingatkan agar kegiatan perpeloncoan senior kepada junior saat memasuki suatu lembaga pendidikan ditiadakan. Namun, yang sudah terjadi dan beberapa kali terulang sangat disayangkan oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla.
Kekerasan cenderung terjadi, kata JK. Apalagi di sekolah atau lembaga perguruan tinggi yang mendahulukan pembelajaran mental dan fisik. Seperti di IPDN, STIP, atau di kampus pendidikan formal lainnya.
Bagaimana tidak cenderung dan rawan kekerasan. Pasalnya, sistematika kurikulum yang diterapkan merupakan kurikulum sekuler. Artinya, materi dan metode pengajaran mata pelajaran agama Islam sengaja didesain untuk menjadikan Islam sebagai pengetahuan belaka, ini pada satu sisi. Di sisi lain, jam mata pelajaran pendidikan agama dirancang sangat minimalis, tiga hingga empat jam sepekan.
Kurikulum pendidikan pun tak terhindar dari upaya memasukkan paham-paham bergaya Barat, seperti pluralisme dan liberalisme. Para peserta didiknya ditanamkan pemahaman dan kebebasan dalam berpikir, berpendapat, kebebasan kepemilikan, berkeyakinan dan bertingkah laku. Bahkan jika ada penanaman nilai moril pun tidak berdasarkan pandangan Islam, melainkan kacamata Barat.
Tampak bahwa pendidikan di negeri ini masih lemah dan kosong dari pembangunan kepribadian. Pendidikan hanya berorientasi kerja, bukan ilmu. Pendidikan kental dan sarat komersialisasi. Baik tenaga pendidik, peserta didik, maupun pihak perguruan tingginya berjiwa materialistik, sehingga rentan akibatkan stress pada pelaku pendidikan..
Perguruan Tinggi adalah salah satu wadah di negeri ini untuk mencetak para intelektual. Sejatinya, Islam memberikan penghargaan dan peran yang besar pada kalangan intelektual. Karenanya, institusi Khilafah Islam sangat fokus membangun generasi intelektual muslim dalam dua hal. Pertama, membangun kepribadian Islamnya. Kedua, mempersiapkan mereka menjadi ilmuwan yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik itu ilmu-ilmu keislamanan maupun ilmu terapan.
Sudah saatnya Pemerintah menengok kembali sistem pendidikan Islam dalam menata pendidikan tinggi dan kualifikasi SDM. Maka, hanya dengan diterapkannya syariah secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah, para intelektual muslim di negeri ini akan terbentuk menjadi ahli dan spesialis multitalen sehingga mampu mewujudkan kemaslahatan rakyat nusantara. Kepolisian pun tidak akan menerima laporan tindak kekerasan di Perguruan Tinggi berulang kali. Wallahu’alam bisshawab.(*)
Penulis: Murni Arpani (Ko. Tim Media MHTI Penajam Paser Utara)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website