Generasi Abad Khilafah Islamiyah

Kondisi pendidikan saat ini sejak sistem pendidikan di Indonesia mencita-citakan lahirnya generasi emas, namun tak kunjung berbuah emas. Pendidikan di indonsia saat ini jauh dari apa yang dicita-citakan. Indonesia mampu melaksanakan program pendidikan meluluskan ribuan generasi muda, dari berbagai level pendidikan formal dan non formal, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi Negeri maupun swasta. Namun gagal  membangkitkan Indonesia menuju kemuliaan.
Faiz Mujahidah
 

 
Harapan untuk menciptakan manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa, menjadi harapan kosong dan kontradiktif. Maraknya tindak kriminal, prostitusi, rusaknya moral kalangan generasi muda menjadi potret buram hasil pendidikan saat ini. Bukan hanya di Indonesia hampir di seluruh negara, realitas rusaknya masa depan remaja tidak terelakkan.

Penerapan sistem pendidikan berasaskan sekuler diterapkan hampir seluruh negara, termaksud Indonesia. Di Indonesia, Sekulerisasi pendidikan sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departemen berbeda, yakni Depag dan Depdikbud. Hal ini menjadikan pengembangan ilmu-ilmu kehidupan(Iptek) adalah suatu hal yang berada diwilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tak tersentuh oleh standar nilai agama. Kalaupun ada hanyalah etik yang tidak bersandar pada nilai agama. 

Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap. Tidak hanya itu meskipun pendidikan saat ini sedang mengupayakan pendidikan dengan pendekatan agama dan karakter, namun jauh pula dari harapan, pasalnya pendidikan agama hanya sekedar aspek spiritual yang mengesampingkan pengajaran Islam Kaffah yang mengatur seluruh aspek kehidupan. 

Pembentukan pribadi kuat dan kokoh bersandar pada aqidah Islam tidak terjadi, karena pelajaran agama hanya sekedar transfer informasi minim waktu, tanpa ada perhatian khusus untuk membentuk kepribadian Islam. Aktifitas yang mengarah pada liberalisasi perilaku di fasilitasi, sementara kegiatan rohis, dan keagamaan dicurigai bahkan dilarang. Konten pelajaran yang mengarah pada pemahaman islam kaffah dihilangkan, sementara konten liberal dan merusak moral dibiarkan. Hal ini semakin menjadikan generasi jauh dari kualitas generasi terbaik.

Akhirnya pendidikan kini melahirkan generasi yang mengemban paham barat yang bersumber dari Sekulerisme,menjadilah mereka generasi liberal, mengemban pluralisme, bersikap Individualistik, materialistik dan hedonisme. Mengambil pemahaman barat untuk diterapkan dalam sistem pendidikan justru akan melahirkan generasi pembebek dan jauh dari harapan generasi emas.

Pendidikan yang mampu mencetak generasi unggul adalah pendidikan Islam Kaffah. Dalam Kurikulum dan kebijakan pendidikan Islam kaffah, berpijak pada pengokohan akidah, penguatan kepribadian islam, fakih dalam agama dan tinggi dalam saintek. Kebijakan negara didukung oleh kurikulum, kegiatan sekolah dan ektrakurikuler serta liingkungan yang kondusif. Sosok pribadi yang dihasilkan adalah pribadi yang berkarakter ulama sekaligus ilmuwan. Pendidikan Islam mengajak generasi muslim untuk senantiasa berfikir. Berfikir adalah bagian yang tdak terpisahkan dari Islam. Dalam “Warisan Peradaban Islam”, Islam mengajak manusia untuk berfikir. Demikian pula Pendidikan Islam Kaffah mengarahkan keyakinan atau aqidah Islam diperoleh melalui pengakuan rasional, bukan sekedar taklid buta kepada generasi sebelumnnya.

Dengan cara demikian, generasi muslim akan menjadi pemikir sejak pertama kali meyakini Aqidah Islam. Selanjutnya akan membentuk kepribadiannya dengan jalan tidak memperturukan naluri dan hawa nafsunya sebagimana yang dilakukan oleh hewan dan penganut hedonisme barat. Kaum muslim senantiasa memahami nash-nash syara’ dengan tujuan untuk meraih ridha Allah Swt setiap kali melakukan perbuatan.

Generasi terbaik dari manusia adalah generasi  paling takwa kepada Allah. Generasi Ini pernah ada dimasa awal perjuangan dakwah Islam hingga Islam diterapkan dalam sebuah negara Islam pertama di Madinah,para Khulafaaurrasyidin hingga Era Kekhilafahan Islam yang mampu menjadi pioner dalam kebangkitan Islam di dunia. Era Kebangkitan Islam telah nyata  mencetak generasi Unggul. Keunggulannya bukan hanya karena mampu meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan di berbagai bidang semata, akan tetapi karena Kemuliaannya, utuh dengan Iman dan takwanya. 

Kecerdasannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berlandaskan aqidah islam, agar mampu menyelesaikan problem Ummat, Generasi yang mengharapkan ridho Allah Swt semata. Islam telah menjadikan diri Rasulullah dan para sabahat sebagai orang-orang yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh dan paripurna. Pendidikan di masa Rasulullah, telah melahirkan generasi Sahabat dengan karakter Mulia. Siapa yang tidak mengenal generasi pertama hasil dari pendidikan Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Abu Hurairah dan para sahabat lainnya. Begitupun tentang kekuatan hafalan Anas bin Malik, Tentang keshalihan Hasan Al Bashri, Tentang kejeniusan Asy Syafii. Tentang Keadilan Umar bin Abdul Aziz.
Generasi Tabiin Hasan Al Bashri, salah satu generasi emas yang hingga masa menjelang ajalnya, masih memberikan bekal dan nasehat. Maka Hasan berkata “ Baiklah, kalian akan kubekali dengan 3 nasihat, kemudian beranjaklah dari sini dan biarkan aku menghadapi apa yang akan kuhadapi. Pertama; Setiap perkara yang dilarang bagi kalian, jadilah kalian orang yang palingmenjauhinya. Kedua; setiap perkara makruf yang diperintahkan bagi kalian, jadilah kalian yang paling mengamalkannya. Dan ketiga ketahuilah bahwa langkah kalian ada dua; langkah yang menguntungkan dan langkah yang merugikan. Maka perhatikanlah, kemana saja kau melangkah dari pagi hingga sore.” (Hilyatul Auliya 1/275
Dalam “Sciense and Muslim” Karya Shahib al Kutb. Di Masa Kekhilafahan Harun Ar Rasyid. Ilmuwan Muslim Abu Said ‘Abd Al Malik ibn Quraib Al Asmai, menuliska sejumlah karya ilmiah tentang berbagai macam bidang, salah satunya tentang tumbuhan dan pohon-pohonan. Abul Mansur Rasyid al Din Abul Fadi, seorang pakar yang mumpuni dalam dalam hal obat-obatan. Inilah gambaran kualitas generasi yang di Era Peradaban Islam. Mereka menjadikan Al Quran dan Hadist sebagai rujukan hidup dan dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan. Mereka Generasi para penjaga Islam. Kekuataan Syakshiyah Islam yang dimiliki menjadikan mereka hanya menharap ridho Allah SWT dengan bekal Pemikiran dan Penyikapan yang bersumber dari Al Quran dan Hadist.
Mencetak generasi abad Khilafah, membutuhkan upaya sistematis dan Kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dibutuhkan institusi yang mampu menerapkan Islam secara kaffah dalam berbagai aspek kehidupan. Ekonomi, Pendidikan, Pergaulan dan tatanan kehidupan lainnya. Era Peradaban Sekuler sudah wajib untuk ditinggalkan dan berkontribusi kepada perjuangan menegakkan Islam dalam Istitusi negara. Wallahu’alam bi showab.(*)
Penulis: Faiz Mujahidah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website